Iklan Banner Sukun
Ekbis

Aspakrindo Harap Pemerintah Tinjau Ulang Ketentuan Pajak Perdagangan Aset Kripto

(Foto: Crypto Crow, pexels)

Bojonegoro (beritajatim.com) – Pemerintah akhirnya mengenakan pungutan pajak atas transaksi perdagangan aset kripto. Ini ditandai dengan terbitnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 68/PMK.03/2022 yang ditandatangani Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 30 Maret 2022.

Perdagangan aset kripto di Indonesia dikenakan Pajak Pertambahan Nilai atau PPN dan Pajak Penghasilan atau PPh mulai 1 Mei 2022. Besaran tarifnya ditetapkan 0,11 persen dari nilai transaksi, sementara para penjual aset kripto atau exchanger dikenai PPh 22 final dengan tarif 0,1 persen dari nilai transaksi.

Untuk pedagang yang tidak terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), maka tarif pajak yang dipungut berbeda. Besarannya dua kali lipat dari pedagang yang berlisensi atau berarti 0,22 persen untuk PPN dan 0,2 persen sebagai PPh.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang Aset Kripto Indonesia (Aspakrindo) & COO Tokocrypto, Teguh Kurniawan Harmanda, menyambut baik rencana pemberlakuan pajak terhadap transaksi aset kripto di Indonesia. Pengenaan pajak ini sangat memungkinkan dan memberi dampak positif pada industri yang sudah berjalan baik saat ini.

“Kami yakin peraturan pajak ini dibuat dengan niat dan tujuan yang baik oleh Pemerintah. Ini juga merupakan langkah yang baik untuk mendukung berkembangnya industri aset kripto yang dipandang memiliki legitimasi yang kuat,” kata pria yang akrab disapa Manda, melalui keterangan tertulis diterima beritajatim.com, Sabtu (9/4/2022)

Manda menilai dengan beleid baru ini, ekosistem industri aset kripto dapat berkontribusi terhadap pemasukan negara. Perdagangan aset kripto dalam negeri saat ini tumbuh begitu pesat dalam 2 tahun terakhir namun pemberlakuan pajak tersebut masih perlu pembahasan mendalam.

Lebih lanjut, Manda mengungkap saat ini pihaknya masih melakukan pengkajian terhadap PMK Nomor 68/PMK.03/2022. Pada dasarnya, asosiasi dan para calon pedagang aset kripto yang berada di bawah Bappebti, tentu selalu menerapkan Good Corporate Governance yang akan patuh dan tunduk pada peraturan dan perundang-undangan di Indonesia.

Di sisi lain, asosiasi akan terus melakukan komunikasi kepada pemerintah untuk memberikan aturan yang didasarkan atas kepentingan bersama. Dikhawatirkan pengenaan pajak ini bisa memberatkan investor dan pedagang sehingga kondisi industri aset kripto akan mengalami kemunduran.

“Kami selaku pelaku industri aset kripto senantiasa ingin berkomunikasi bersama dengan pemerintah termasuk pelaksanaan aturan perpajakan ini agar bisa berasaskan keadilan. Kami sebenarnya tidak pernah menolak, tapi berharap seharusnya semua pelaku industri dilibatkan. Jadi hasilnya bisa fair untuk semuanya,” kata Manda.

Sebelumnya, Aspakrindo telah mengajukan skema PPh Final sebesar 0,05 persen. Pada dasarnya bukan melihat dari sisi berapa besar nilai yang harus dikenakan pajak, tapi bagaimana agar regulasi bisa berkembang sehingga nilainya akan mengikuti perkembangan itu sendiri.

Manda berharap pemerintah bisa melakukan peninjauan ulang terkait ketentuan perpajakan bagi transaksi perdagangan aset kripto. Dengan adanya peninjauan ulang ini, akan ada ruang dan waktu bagi industri serta kementerian guna mengkaji solusi yang terbaik terkait pajak aset kripto.

“Tentunya kami mengapresiasi sekali bahwa pemerintah akan selalu mendengarkan saran dan masukan dari pemain industri dan sebenarnya ini bisa dilakukan dengan koordinasi yang baik. Peninjauan ulang ini juga baik untuk mengkaji penegakan pajak kripto yang terbaik itu seperti apa,” jelasnya.

Diharapkan pemerintah melalui kebijakan peraturan pajak aset kripto yang berasaskan keadilan dan mendukung inovasi mampu mendorong daya saing industri aset kripto di Indonesia. [lus/beq]


Apa Reaksi Anda?

Komentar