Ekbis

Di Tengah Pandemi Covid-19

APTI Pamekasan Pesimistis Tembakau Petani Terbeli

Salah satu petani tembakau di Desa Tobungan, Kecamatan Galis, Pamekasan, mulai menanam bibit tembakau memasuki musim tanam tahun 2020.

Pamekasan (beritajatim.com) – Asosiasi Petani Indonesia (APTI) Pamekasan menyampaikan kecemasan dan rasa pesimistis jika panen tambakau petani nantinya dapat terbeli, khususnya saat nanti memasuki musim panen tembakau.

Kondisi tersebut tidak lepas dari tidak adanya informasi dari pemerintah, khususnya dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan, seputar kebutuhan tembakau petani. Sekalipun saat ini hanya terdapat sebagian kecil petani yang melakukan tanam tembakau di tengah pandemi Covid-19.

“Kami pesimistis hasil panen tembakau petani akan terbeli, karena hingga saat ini pemerintah belum memberikan informasi kepada petani, baik kelompok kecil ataupun kelompok besar. Khususnya tentang berapa banyak kebutuhan pabrikan terhadap tembakau petani,” kata Ketua APTI Pamekasan, Samukrah, Sabtu (6/6/2020).

Kondisi tersebut tidak lepas dengan adanya wabah Covid-19 yang menyebar di berbagai penjuru negeri, tidak terkecuali di Pamekasan. “Memang saat ini sudah memasuki masa tanam tembakau dan sebagian petani sudah ada yang mulai menanam, namun pandemi ini masih terus berlangsung dan belum diketahui secara pasti akan berakhir kapan,” ungkapnya.

“Selama ini kami sering menerima keluhan dari petani, apakah jika melakukan tanam tembakau nantinya bila panen akan terbeli atau tidak. Sehingga kami tidak bisa menjelaskan secara detail karena kami sendiri juga belum memiliki gambaran seputar kebutuhan pabrikan di tengah pandemi ini,” imbuhnya.

Lebih lanjut dijelaskan, selama ini jumlah produksi tembakau Pamekasan setiap tahun berkisar di angka 18 ribu ton. Hanya saja dengan adanya pandemi justru tidak menutup kemungkinan produksi tembakau bakal menurun hingga di bawah angka 9 ton.

“Beberapa kali kesempatan kami juga sempat menemui petani di beberapa kawasan, di antara mereka sudah tidak ada gairah untuk menggarap lahan. Bahkan salah satu petani yang memiliki lahan 3 hektar yang setiap tahun ditabami tembakau, saat ini dibiarkan tidak ditanami,” jelasnya.

Dari itu pihaknya berharap respon cepat dari pemerintah khususnya Disperindag Pamekasan, agar segera memberikan informasi konkrit terhadap kecemasan para petani tembakau. “Saat ini petani juga mengeluh dan kebingungan. Kalau tidak ditanami tembakau, pada saat kondisi seperti ini mau ditanami komuditas apa yang bisa menyaingi penghasilan tembakau,” pungkasnya. [pin/but]

Apa Reaksi Anda?

Komentar