Ekbis

Akademisi Unair: ICOR Harusnya Diturunkan, Bukan Dinaikkan

Surabaya (beritajatim.com) – Akademisi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rumayya, berpendapat jika seharusnya ICOR (incremental capital-output ratio) harus diturunkan untuk efisiensi ekonomi.

Baginya, justru ICOR lebih baik jika tidak dinaikkan. “Jadi memang keliru. Diturunkan, dikecilkan bukan dinaikkan,” ujarnya ketika dimintai pendapat, Kamis (19/11/2020).

Menurut dia ICOR itu adalah suatu ukuran. Dimana pertambahan output dibagi sama modal. “Jadi kalau di suatu daerah ada penambahan output, kalau itu semakin besar semakin tak efisien ekonomi. Harus diturunkan malahan ICOR,” lanjutnya.

Dia menjelaskan, jika ICOR turun artinya kita bisa membuat output lebih banyak dengan input yang lebih sedikit. Rumayya berpendapat jika bicara soal itu ranahnya efisiensi investasi. ”Investasi kita lebih efisien dalam artian dampaknya lebih luas dengan menciptakan lapangan pekerjaan, menciptakan pendapatan,” beber dia.

Pun demikian halnya dengan ILOR (incremental labour-output ratio). ”ILOR sama saja. Cuma ini tenaga kerja. Kalau ini naik berarti butuh tenaga kerja lebih banyak untuk menghasilkan output. Kalau dia turun berarti pekerja semakin produktif, pekerjanya makin sedikit menghasilkan lebih tinggi,” pungkas dia.

Sebagai informasi, Dalam kurun waktu 2012-2015, ICOR Surabaya terus naik. Pada 2015 mencapai 4,30. Iklim investasi di satu kota dianggap baik kalau ICOR maksimal di angka 4,00. [ifw/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar