Ekbis

Selama Sebulan, Harga Rajungan di Lamongan Masih Anjlok, Nelayan Tercekik

Bimtek WUB IKM untuk olahan hasil laut dan perbengkelan mesin kapal dari Kementerian Perindustrian, di Gedung SMK TI Muhammadiyah Paciran, Lamongan.

Lamongan (beritajatim.com) – Anjloknya harga komoditas rajungan di Lamongan sudah terjadi selama kurang lebih satu bulan. Harga tersebut mengalami penurunan yang sangat drastis, dari yang semula Rp150 ribu per kilogram menjadi Rp25 ribu sampai Rp30 ribu per kilogram.

Sontak kondisi ini membuat masyarakat nelayan tangkapan rajungan di Pantura Lamongan belum bisa bernafas lega. Selain itu, informasi mengenai kepastian kapan harga rajungan akan kembali normal pun masih simpang siur hingga saat ini.

Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Ketua Rukun Nelayan (RN) Paciran Muchlisin Amar. Ia menyebut, para nelayan mengaku sangat tercekik dengan kenyataan ini. Pasalnya, melaut adalah satu-satunya penyangga kehidupan bagi keluarga nelayan.

“Kesejahteraan nelayan semakin melemah. Nelayan terseok-seok untuk mencukupi kebutuhan primer setiap harinya. Belum lagi harus memikirkan kebutuhan sekolah anak-anaknya, sehingga beban masyarakat nelayan kian bertambah,” ujar Muchlisin, yang juga penasehat KAHMI Lamongan tersebut, Minggu (12/6/2022).

Di samping itu, tambah Muchlisin, masih banyak nelayan yang belum tercover oleh BPJS, baik asuransi kesehatan maupun ketenagakerjaan. Dari 21 ribu nelayan perairan laut di Lamongan, baru 700 nelayan yang terdaftar dalam asuransi mandiri.

Oleh karenanya, pria yang juga Ketua Himpunan Nelayan Tradisional Indonesia (HNTI) Lamongan ini meminta kepada Pemerintah Pusat dan Daerah agar serius memperhatikan problem anjloknya harga komoditas rajungan hasil tangkapan nelayan.

“Selain itu, kami juga meminta agar pemerintah mau menaikkan subsidi BBM bagi nelayan, sehingga biaya operasional melaut nelayan lebih ringan. Semua pasti ada jalan keluarnya kalau ini dilakukan secara bersama-sama,” tandasnya.

Di sisi lain, Muchlisin Amar mengapresiasi atas digelarnya acara Bimbingan Teknis Wirausaha Baru (WUB) Industri Kecil dan Menengah (IKM) untuk olahan hasil laut dan perbengkelan mesin kapal dari Kementerian Perindustrian, di Gedung SMK TI Muhammadiyah Paciran, Lamongan.

Menurut Muchlisin, kegiatan ini sangat diperlukan dalam upaya meningkatkan sumber daya masyarakat nelayan dan mendorong tumbuh kembangnya ketrampilan serta inovasi putra-putri nelayan. “Semoga melalui kegiatan ini, para putra-putri nelayan kelak menjadi pengusaha UMKM yang tangguh dan mandiri, sebagaimana visi pembangunan Kabupaten Lamongan,” katanya.

Secara terpisah, Anggota Komisi VII DPR RI, Dyah Roro Esti yang berkesempatan membuka kegiatan bimbingan teknis (bimtek) tersebut menyampaikan bahwa kegiatan bimtek ini merupakan perhatian khusus yang diberikan oleh pemerintah sebagai upaya peningkatan daya saing, jumlah populasi, dan penyerapan tenaga kerja.

Politisi cantik ini juga mengaku ingin mendorong semua potensi yang ada di Kabupaten Lamongan dan sekitarnya melalui pembinaan yang berkesinambungan dan tepat sasaran agar pemuda-pemudinya semakin mandiri.

“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan angka keberhasilan penumbuhan wirausaha di berbagai wilayah Indonesia. Kami yakin bahwa kemandirian menjadi kunci mengatasi masalah dan menjadi jaminan hidup bagi siapapun. Semoga bimtek ini bisa menginkubasi gerakan ekonomi rakyat yang berdaulat dan mensejahterakan,” pungkasnya.[riq/kun]

Apa Reaksi Anda?

Komentar

beritajatim TV dan Foto

BPOM RI Segel Jamu Tradisional di Banyuwangi

Korban Pelecehan Harus Berani Lapor

Coba Yuk Spa Kurma di Surabaya