Ekbis

47 Persen UMKM di Jember Tak Tahu Berapa Lama Kuat Bayar Utang

Pemimpin Bank Indonesia Jember, Hestu Wibowo [FOTO: ISTIMEWA]

Jember (beritajatim.com) – Hasil survei Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jember, Jawa Timur, terhadap kekuatan usaha mikro kecil menengah pada masa pandemi Covid-19 memprihatinkan. Sebanyak 91,43 persen UMKM mengaku terdampak pandemi.

Dampak negatif ini beragam. Sebanyak 33 persen UMKM di Jember terpaksa merumahkan tenaga kerja. Sebanyak 60 persen di antaranya harus merumahkan pegawai selama tiga bulan, karena merosotnya usaha mereka.

Betapa tidak, sebanyak 40 persen mengaku hanya mampu bertahan dalam jangka waktu dua bulan. Lebih besar daripada mereka yang mengaku bisa bertahan satu tahun, yakni 27 persen. UMKM mengalami hambatan distribusi dan penjualan menurun hingga 67 persen. “Ini tentu berdampak negatif terhadap cash flow,” kata Pemimpin Bank Indonesia Jember, Hestu Wibowo, dalam acara diskusi mengenai UMKM pada masa pandemi, di Auditorium Universitas Jember, Kabupaten Jember, Minggu (14/2/2021) sore.

Menurunnya pemasukan membuat UMKM kesulitan mengangsur utang atau kredit. Sebanyak 47 persen mengaku tidak tahu seberapa lama mereka kuat melunasi tagihan secara bertahap. hanya tujuh persen yang menyatakan bisa bertahan sembilan bulan dan 13 persen yang menyatakan sanggup mengangsur lebih dari satu tahun.

Hestu menyadari, bahwa penurunan laba dan meningkatnya pengeluaran rutin menggerus modal UMKM. Apalagi kenaikan harga dan terbatasnya suplai bahan baku mempersulit proses produksi. Itulah kenapa BI menyodorkan empat langkah mempercepat penyelematan UMKM.

“Pertama, kami dorong UMKM memanfaatkan relaksasi yang diberikan pemerintah dan otoritas, baik relaksasi di bidang fiskal maupun restrukturisasi dan juga kebijakan relaksasi lainna. BI bersama pemda dan lembaga perbankan proaktif menjemput UMKM yang mengalami kesulitan,” kata Hestu.

Kedua, melakukan program virtual peningkatan kapasitas UMKM, antara lain pelatihan manajemen keuangan, peningkatan daya beli, penjualan, dan lain-lain. Ketiga, sinergi aksi mempercepat akses pembiayaan atau permodalan. Berikutnya adalah pemanfaatan digital payment dan penjualan.

Hestu menekankan perlunya pemanfaatan teknologi digital bagi UMKM Jember. Apalagi, 47 persen penduduk Indonesia sudah menggunakan internet dan ponsel, serta 56 persen terhubung dengan internet dan media massa. Selama ini, hanya 13 persen UMKM di Indonesia yang memanfaatkan market place seperti Tokopedia, Shopee, dan lain-lain.

“Sebanyak 77,7 persen UMKM terkendala dalam pemasaran dalam jaringan karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman digital masih rendah, ketidaksiapan tenaga kerja, dan keterbatasan infrastruktur,” kata Hestu. [wir/kun]



Apa Reaksi Anda?

Komentar