Ekbis

35 Perusahaan di Jember Merumahkan Pekerja

Kepala Dinas Tenaga Kerja Jember Bambang Edy Santoso.

Jember (beritajatim.com) – Sebanyak 35 perusahaan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, merumahkan pekerja karena krisis finansial akibat pandemi Covid-19. Namun 90 persen pegawai yang dirumahkan sudah kembali bekerja.

“Rata-rata yang mengalami kesulitan karena Covid adalah perusahaan di sektor pariwisata, terutama hotel. Tapi semua sektor ada,” kata Kepala Dinas Tenaga Kerja Jember Bambang Edy Santoso. Jumlah pegawai yang dirumahkan dan diputus hubungan kerja mencapai ratusan orang.

Disnaker membantu pegawai yang di-PHK dan dirumahkan dengan anggaran penanganan Covid. “Pemerintah sudah melayangkan surat ke perusahaan dan mengimbau tidak ada PHK. PHK itu langkah paling akhir yang diambil perusahaan. Apapun alasannya kami tetap memakai aturan berjalan,” kata Bambang.

Pemerintah sendiri sudah berupaya mempermudah perusahaan dalam memenuhi hak-hak pekerja. “Iuran BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Ketenagakerjaan hanya dibayar satu persen dari upah. Paling hanya Rp 100 satu bulan. Ini membantu perusahaan dan karyawan,” kata Bambang.

Kepala Bidang Kepala Bidang Hubungan Industial dan Kesejahteraan Pekerja Disnaker Jember Lily Rismawati mengatakan, perhotelan dan rumah makan terdampak pada masa pandemi. “Kami sudah melakukan pembinaan dan turun melihat langsung kondisi perusahaan. Sasaran pertama kali di sektor perhotelan. Tingkat hunian sangat turun. Kami ingin tahu kondisi pekerja bagaimana,” katanya.

Lily berharap pekerja dan perusahaan bisa duduk bersama. “Namanya dirumahkan bukan berarti di-PHK. Masih dalam status hubungan kerja. Semua harus mengedepankan dialog sosial. Sampaikan kalau memang ini terdampak, karena kondisi pandemi tidak ada yang tahu sampai kapan,” katanya.

Disnaker juga turun meninjau perusahaan bersama Dewan Pengupahan. Menurut Lily, kondisi saat ini bakal berpengaruh pada kondisi pengupahan. “Bisa saja tidak sesuai (upah minimum kabupaten). Jadi tugas Dewan Pengupahan tak hanya merekomendasikan besaran (UMK) tapi juga ikut memikirkan bagaimana situasi saat ini, terutama kondisi pekerja,” katanya.

Disnaker berada pada dua sisi. “Bagaimana supaya pekerja tetap dapat melangsungkan kehidupan dan perusahaan tetap dapat beroperasi,” kata Lily. [wir/kun]





Apa Reaksi Anda?

Komentar