Iklan Banner Sukun
Ekbis

3 Desa di Lamongan Ditetapkan Jadi Percontohan Budidaya Kerapu

Suasana di Pesisir nelayan Lamongan.

Lamongan (beritajatim.com) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengembangkan teknologi budidaya dan tangkap ikan kerapu dan kakap dalam rangka mendorong peningkatan produktivitas budidaya ikan tersebut.

Diketahui, di antara kawasan yang ditetapkan KKP tersebut adalah Desa Labuhan Kecamatan Brondong, Kelurahan Blimbing dan Desa Kandangsemangkon Kecamatan Paciran. 3 (tiga) desa/kelurahan di Lamongan ini masuk sebagai percontohan (pilot project) budidaya dan tangkap ikan kakap dan kerapu sampai dengan tahun 2024, oleh KKP.

“Iya mas, KKP Ditjen tangkap dan perwakilan FAO (Food and Agriculture Organization) perwakilan Indonesia berkunjung ke Lamongan untuk menetapkan 3 desa di Lamongan sebagai percontohan budidaya dan tangkap ikan kerapu dan kakap,” ujar Kepala Dinas Perikanan Lamongan, Heru Widi, kepada beritajatim.com, Minggu (19/9/2021).

Sehubungan dengan penetapan tersebut, menurut Heru, bahwa momentum tersebut harus benar-benar dimanfaatkan dan dijaga dengan mengelola sumber daya perikanan secara terukur untuk mencapai keseimbangan antara pertumbuhan ekologi dan ekonomi serta keberlanjutan sumber daya perikanan nasional.

“Sebagai tindak lanjut dari penetapan KKP itu, kami melakukan penjaringan aspirasi dengan nelayan dan pembudidaya di Aula PPN Brondong. Kami berharap, bahwa ke depan kawasan yang telah ditetapkan ini dapat memiliki sumber daya ikan (produksi ikan) yang berlimpah dan meningkatkan sumber ekonomi bagi masyarakat,” terang Heru.

Kepala Dinas Perikanan Lamongan, Heru Widi, di ruang kerjanya.

Lebih lanjut, Heru mengatakan bahwa selama ini produksi perikanan budidaya, khususnya komoditas kerapu di Lamongan memiliki potensi yang cukup besar. Jika sebelumnya pada tahun 2018 berada di angka 750,51 ton, maka capaian produksi pada tahun 2020 telah berada di angka 1338,58 ton. Budidaya tersebut, dilakukan melalui teknologi tradisional plus dan semi intensif.

“Budidaya kerapu yang berlokasi di Desa Labuhan dan Brengkok memiliki total lahan seluas 256,6 Ha, dengan jumlah rumah tangga perikanan (RTP) budidaya 133 RTP. Kerapunya berjenis lumpur dan cantang. Semoga nanti sektor perikanan di seluruh Lamongan juga turut mengalami peningkatan yang signifikan,” ucapnya.

Sebagai informasi, bahwa sentra perikanan budidaya yang ada di Kabupaten Lamongan tersebar di 9 (sembilan) kecamatan, meliputi Glagah, Deket, Karangbinangun, Lamongan, Turi, Kalitengah, Karanggeneng, Brondong (tambak), dan Paciran (tambak).

Sesuai data yang diupdate terakhir, luas lahan budidaya tersebut terdiri dari tambak 931,29 Ha, sawah tambak 19.503,35 Ha, kolam 51,70 Ha, keramba jaring apung (KJA) 0,06 Ha, keramba jaring tancap (KJT) 0,14 Ha. Sedangkan untuk lahan perairan umum terdiri dari rawa 7.087 Ha, waduk 3.068 Ha, sungai 855,5 Ha.

Sementara itu, keberadaan kampung kerapu di Lamongan sebelumnya juga telah diatur berdasarkan Keputusan Bupati Lamongan Nomor 188/1690/Kep./413.013/2007. Bertempat di Kecamatan Brondong, ada beberapa Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) meliputi Desa Labuhan yakni Bhakti Usaha 1, 2 dan 3 serta Bangkit Bersama. Lalu di Desa Brengkok yakni Metro Fish Marine dan Indo Marine.

Terkait peran pemerintah dalam peningkatan produksi kesejahteraan pembudidaya kerapu yang tercatat mulai tahun 2018 hingga tahun 2020 yang bersumber dari APBD, di antaranya terdapat pembangunan atau rehap jalan produksi budidaya tambak dan tugu kampung kerapu, bantuan benih kerapu 2500 ekor dan 1 ton pakan rucah, serta bantuan alat uji kualitas air.

Sedangkan, bantuan yang bersumber dari pendanaan APBN, di antaranya benih kerapu 20 ribu ekor dan yang terakhir ada 10 ribu ekor. Meski begitu, Heru mengatakan, bahwa pihaknya masih terus mengupayakan untuk merealisasikan beberapa hal agar sektor perikanan dan tangkap di Lamongan bisa bertambah lebih baik lagi.

Tak hanya itu, Heru juga membeberkan, bahwa di Lamongan saat ini masih perlu adanya lembaga pelatihan dan penambahan sejumlah fasilitas. Hal tersebut dilakukan dalam rangka untuk menjamin kualitas, kuantitas, dan harga ikan-ikan yang ada di Lamongan, mulai dari proses produksi hingga pemasarannya.

“Perlu adanya penerapan CBIB (cara budidaya ikan yang baik), dari memilih benih, pengolahan lahan budidaya yang baik, serta memberikan pakan yang sesuai dan terdaftar. Lalu perlu ada Cold Storage yang dimiliki Pemerintah yang ditempatkan di kecamatan yang memiliki potensi ikan besar. Lalu juga ada pusat pemasaran ikan atau etalase produk berbasis olehan ikannya,” bebernya.

Selanjutnya, mengenai capaian rata-rata hasil produksi di Lamongan, diperoleh data bahwa produksi pada tahun 2020 di sektor budidaya berjumlah 59.728,16 ton, sementara untuk ikan tangkap meliputi laut, waduk, dan sungai mencapai 79.819,32 ton. Sehingga total dari semuanya adalah 139.547,48 ton.

“Sehingga hal tersebut membuat Lamongan menjadi produsen ikan tertinggi di Jatim. Sementara prosentase produksi olahan ikannya 64 persen atau 89.179,36 ton,” kata Heru.

Saat ini, Heru meyebut, bahwa pihaknya terus berupaya untuk meningkatkan nilai jual hasil produksi olahan ikan tersebut. Salah satunya dengan melakukan pengarahan dan pembinaan kepada 1227 UMKM Lamongan yang mengolah produk berbasis ikan. Mereka tergabung dalam LASIO (Lamongan Asosiasi Ikan Olahan).

“Tak lupa kami juga melakukan sosialisasi kepada pembudidaya dan nelayan di Lamongan terkait ketenagakerjaan, hal itu juga demi kesejahteraan mereka. Saat ini jumlah nelayan ada 20.975 orang, sementara jumlah kapalnya ada 3423 unit,” pungkasnya. [riq/but]


Apa Reaksi Anda?

Komentar