Ekbis

242 Ribu Ton Gula Petani Belum Terbayar, APTRI Lapor ke Jokowi

Ketua DPN APTRI Soemitro Samadikoen saat memberikan keterangan kepada wartawan di aula PG Djombang Baru, Selasa (22/9/2020). [Foto/Yusuf Wibisono]

Jombang (beritajatim.com) – Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) menggelar rapat kordinasi di ruang pertemuan PG Djombang Baru, Selasa (22/9/2020). Hal itu untuk menyikapi sejumlah permasalahan yang mendera petani tebu, salah satunya soal masih adanya stok gula musim giling 2020.

Dari situ diketahui bahwa stok gula tersebut sebesar 242 ribu ton. Padahal sebelumnya APTRI sudah menyepakati perjanjian dengan sejumlah importir untuk membeli gulan petani dengan harga Rp 11.200/Kg. Namun hingga saat ini terjadi kemandegan pembayaran.

“Saat ini stok gula petanu musim giling 2020 sebesar 242 ribu ton. Jika sesuai harga kesepakatan Rp 11.200.Kg, maka uang petani yang mandeg setara Rp 2,7 triliun,” ujar Ketua DPN APTRI Soemitro Samadikoen, usai acara.

Soemitro menjelaskan, pada Juli 2020 pihaknya meneken perjanjian dengan importir gula. Perjanjian itu ditandatangani APTRI dengan perwakilan dari 12 perusahaan importir. Isinya, para importir akan membeli gula kristal putih (GKP) di petani Rp 11.200 per kilogram (kg).

Langkah ini dilakukan untuk mencegah jatuhnya harga gula di petani. Pasalnya, di musim giling ini stok akan melimpah ruah. Perjanjian itu difasilitasi Menteri Perekonomian, Menteri Perdagangan, serta mendapatkan pendampingan dari anggota Komisi VI DPR RI.

Oleh APTRI, pengiriman gula dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama mulai 1-10 Juli 2020, kemudian tahap II mulai 11-20 Juli 2020, dan tahap III mulai 21-31 Juli 2020. Tahap pertama, lanjut Soemitro, APTRI mengirim 42 ribu ton, masih tersisa 4 ribu ton. Kemudian tahap dua dari 44 ribu ton tersisa 26 ribu ton sekian.

“Dari tahap tiga kita kirim 54 ribu ton, namun sampai sekarang belum ada respon positif soal pembayarannya. Gula petani yang belum terbayar seluruhnya, mulai produksi 1 Juli hingga sekarang ada sekitar 242 ribu ton. Itu belum jumlah total hingga akhir September. Pastinya ada penambahan lagi,” kata Soemitro merinci.

Oleh sebab itu, kami mengingatkan ke semua pihak, termasuk pemerintah bahwa uang petani ini berhenti. Uang yang harusnya bisa dibelanjakan tersebut sekitar Rp 2,7 triliun. Uang tersebut seharusnya bisa dimanfaatkan petani untuk pembiayaan tanaman, upah tenaga kerja, dan kebutuhan lainnya.

“Artinya, adanya kemandegan perputaran ekonomi di tingkat bawah. Karena uang sebesar Rp 2,7 triliun tersebut juga belum bisa dinikmati oleh petani. Ya, karena stok gula masih berada di gudang pabrik masing-masing. Belum bisa terjual,” katanya.

Atas kondisi itu, APTRI berencana melaporkannya ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Karena pada 2019, APTRI sudah pernah bertemu denga Jokowi di istana. Nah pertemuan itu presiden menjanjikan adanya perbaikan bagi petani tebu. “Kami segera laporkan permasalahan ini ke presiden,” pungkas Soemitro yang didampingi sejumlah pengurus DPN APTRI. [suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar