Ekbis

125 Hektare Tanaman Padi Balongmasin Mojokerto Diserang Hama Wereng

Petani padi di Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto membakar tanaman padi. [Foto: misti/bj.com]

Mojokerto (beritajatim.com) – Pihak Desa Balongmasin, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto langsung melaporkan ke Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Mojokerto terkait tanaman padi milik yang di serang hama wereng. Total ada 125 hektare tanaman padi di tiga dusun yang di serang hama wereng.

Dengan rincian Dusun Balongmasin sebelah utara Sungai Sadar seluas 50 hektar dan selatan Sungai Sadar seluas 15 hektar. Dusun Manukan utara Sungai Sadar seluas 20 hektar dan sebelah selatan seluas 15 hektare serta Dusun Pungging Krisik seluas 25 hektare.

Kepala Desa (Kades) Balongmasin, Heri Bambang Suyanto mengatakan, total yang sudah dilaporkan ke Disperta Kabupaten Mojokerto seluas 125 hektare. “Dengan rincian kategori yang total tidak bisa dipanen dan setengah-setengah (setengah bisa dipanen dan setengah tidak bisa dipanen,” ungkapnya.

Masih kata Kades, karena padi belum bisa dipanen sudah di serang hama wereng. Karena petani di Desa Balongmasin masih menyerah dan tidak ada harapan untuk panen karena dampak di serang hama wereng. Dibanding tahun sebelumnya, hasil panen para petani melebihi target.

“Tahun kemarin, alhamdulillah para petani kita panen melebihi dari target. Untuk tahun ini parah, sudah banyak yang dibakar oleh para petani tanaman padi. Karena melihat kondisi padi seperti itu, tidak sesuai harapan. Dengan adanya kejadian ini, kami sudah koordinasi dengan Disperta,” katanya.

Kades menambahkan, padahal target pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Desa Balongmasin harus lunas, namun kondisi tanaman padi milik petani gagal panen. Sehingga Desa Balongmasin tidak bisa memenuhi target PBB, selain itu lanjut Kades, pihaknya berharap ada bantuan dari Pemkab Mojokerto.

“Harapan kami dengan kejadian petani gagal panen ini, Bapak Bupati dan Kepala Disperta bisa membantu para petani kita. Walaupun berupa pupuk atau obat-obatan agar para petani tidak merugi. Jumlah seluruh area persawahan di Desa Balongmasin seluas 175 hektare,” tuturnya.

Untuk petani sudah tidak harapan, meskipun minimal kembali modal tidak ada. Kades menjelaskan, saat ini harga gabah Rp530 ribu per kwintal. Sementara para petani sudah membakar tanaman padi miliknya yang sudah memasuki usia 90 hari.

“Hampir sudah bisa panen minggu ini tapi kenyataannya tidak bisa dipanen. Biaya sudah keluar sesuai kebutuhannya. Kami dengan perangkat mengeluhnya dari petugas PPL, tidak ada arahan untuk petani jika ada tanda-tanda tanaman padi di serang hama wereng,” tuturnya.

Menurutnya, alhasil para petani kesulitan untuk membasmi hama wereng. Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) yang mengurusi tanaman dan PPL hama harus aktif ke petani karena petani sendiri tidak ada arahan sehingga melakukan sebisanya. Kades menambahkan, hingga saat ini belum ada solusi terkait hama wereng.

“Mayoritas warga kami, 75 persen adalah petani. Penghasilan dari sawah, dengan gagalnya panen ini sangat berpengaruh terhadap tingkat perekonomian masyarakat. Kami sangat kecewa dengan PPL karena mulai gejala sampai gagal panen tidak pernah ada petugas yang memberikan arahan ke petani,” ucapnya. [tin/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar