Berita Redaksi

Siswa MAN 2 Pamekasan Diajak Bijak Manfaatkan Medsos

Samsul Arifin wartawan beritajatim.com saat mengisi acara safari jurnalistik dan kepenulisan di MAN Pamekasan, Rabu (4/3/2020).

Pamekasan (beritajatim.com) – Puluhan siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Pamekasan, diajak agar lebih bijak memanfaatkan media sosial (medsos) sekaligus meningkatkan budaya literasi yang semakin mumudar seiring dengan perkembangan teknologi.

Hal itu disampaikan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pamekasan, Abd Aziz melalui Wakil Ketua Bidang Pendidikan, Samsul Arifin saat mengisi Safari Jurnalistik dan Kepenulisan bertajuk Goes to School yang digelar komunitas Jurnalis Pamekasan, di MAN 2 Pamekasan, Jl KH Wahid Hasyim Nomor 28 Pamekasan, Rabu (4/2/2020).

Dalam kegiatan tersebut, ia memperkenalkan seputar teknik penulisan karya jurnalistik dasar. Termasuk dasar hukum tentang Keterbukaan Informasi Publik yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008, serta Inpres Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Komunikasi Publik.

“Saat ini perkembangan teknologi informasi kian pesat, akses informasi pun dengan mudah diperoleh. Sehingga kondisi ini harus kita manfaatkan dengan cara yang baik, salah satunya┬ádengan cara bijak menggunkan berbagai jenis media sosial,” ungkapnya.

Ia menilai cepatnya arus kemajuan teknologi digital sebagai sebuah keniscayaan yang harus dihadapi, sekaligus menjadi perhatian serius dari para insan pers untuk bersama ikut andil mensosialisasikan anti hoax, khususnya dalam bermedsos. “Prinsipnya tidak semua informasi berisi tentang fakta, tidak juga dapat dianggap benar dan dapat dipertanggung jawabkan,” imbuhnya.

“Kita harus benar-benar mampu dan bijaksana dalam menyikapi berbagai informasi yang kita terima. Tidak cukup hanya sebatas benar lalu kita terima dan selanjutnya disebar luaskan, tetapi yang tidak kalah penting bermanfaat atau tidak berita yang kita terima,” jelasnya.

Selain itu ia menyarankan agar tidak menjadikan medsos sebagai ajang menebar kebencian, caci maki maupun prilaku negatif lainnya. Sebaliknya keberadaan harusnya dijadikan sebagai sarana sosialisasi, silaturrahmi ataupun hal-hal positif lainnya.

“Jadi alangkah lebih baiknya jika informasi yang kita terima dicek terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada yang lain (publik), bagikan atau upload yang penting dan bukan justru yang penting upload. Apalagi saat ini sudah ada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik alias ITE, ancaman 6 tahun penjara atau denda maksimal sebesar Rp 1 Miliar,” tegasnya.

Dari itu ia menyarankan sekaligus mengajak masyarakat khususnya para generasi muda, agar bersama-sama bijaksana dalam menerima berbagai informasi, terlebih di jejaring medsos. “Mari kita bersama bijak dalam bermedsos,. Kami anak muda Indonesia menolak jadi korban informasi hoax, apalagi menyebar hoax,” pungkasnya. [pin/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar