Berita Redaksi

Selamat Jalan Mas Abu

Alm Abu Bakar Yarbo (kiri berkacamata) bersama Pimred beritajatim.com Dwi Eko Lokononto (tengah berkaus merah) dan Lutfil Hakim tokoh media Jatim.

Sedih dan duka. Itulah yang saya dan keluarga besar beritajatim.com rasakan saat mendengar Mas Abu Bakar Yarbo wafat, Jumat malam sekitar pukul 19.10 menit. Rasanya masih sulit percaya, sosok yang ikut berperan atas lahirnya beritajatim.com telah menghadap keharibaan-Nya.

Abu buat kami bukan sekedar sahabat. Kami sudah menjadi saudara dalam suka dan duka sejak 30 tahun terakhir. Mantan wartawan Memorandum itu adalah sahabat saya menghabiskan malam hingga pagi di Hotel Elmi Surabaya.

Di Hotel Elmi ini Mas Abu seperti menjadi Pak Lurah sekaligus tuan rumah. Semua mengenalnya. Semua menunggu kursinya dihampiri Mas Abu untuk berbagi cerita. Saya yang menjadi salah satu ‘warga’ selalu menunggu Mas Abu mengalunkan suara merdunya atau mendaulat tamu lainnya untuk menyemarakkan malam.

Pernah ada masa nyaris tiap malam kami ada di Elmi. Selain sibuk menggali informasi dari puluhan narasumber yang menempatkan Hotel Elmi sebagai tempat makan malam atau menikmati alunan musik. Kami menjadi lebih akrab karena acap pulang bareng ke Sidoarjo.

Saat mobil Mas Abu sedang di bengkel, maka dia akan nebeng mobil saya. Begitu juga sebaliknya. Dari Mas Abu saya belajar bagaimana narasumber nyaman memberikan informasi yang dibutuhkan untuk peliputan. Narasumber bisa menjadi sahabat yang memahami posisi kita sebagai jurnalis.

Kedekatan itu yang membuatnya bersusah payah membuka jendela mobil dan berteriak sekeras-kerasnya saat kami berpapasan di jalan kembar Kota Malang. Saat itu saya bersama nebeng mobil Mas Pramudito (saat itu menjadi wartawan Surya) hendak pulang ke Surabaya setelah mengikuti kunjungan Pakde Karwo (saat itu Kadispenda Pemrov Jatim) di beberapa kabupaten di Jatim untuk program Pemutihan STKN.

Kami pun memutar balik mobil. Ternyata Mas Abu yang sedang bersama Mas Zainudin (Jawa Pos) dan Mas Yosef Sintar (Surya). Trio wartawan legendaris untuk liputan di pos Hankam. Setelah sempat minum kopi di Regent Hotel Malang, Mas Abu meminta saya dan Mas Pramudito untuk mengikuti mobilnya. Saya tidak diberitahu tujuannya. “Udah ikuti aja mobil kami,” katanya.

Dalam perjalanan saya sempat ketawa karena merasa akan mendapat kejutan. Mobil itu mengarah ke rumah mertua yang ada di Malang. “Mas Abu mau bikin ulah apa ini?,” tanya pada Mas Pramudito sembari ketawa karena kami mengenal Mas Abu memang senang bikin kejutan yang membuat senang.

Ternyata mobil Mas Abu tidak berbelok ke rumah mertua. Masih terus. Saya langsung tahu, kami berdua diajak bersilaturahmi ke Pak Imam Utomo (saat itu anggota DPR RI) yang mulai dibicarakan menjadi calon Gubernur Jatim.

Pertemuan berlangsung gayeng. Bapak dan Ibu Imam Utomo menyambut kami dengan gembira. Dalam pertemuan itu, Bu Imam Utomo berpesan agar tidak ikut-ikutan mengembangkan wacana pencalonan Pak Imam sebagai Gubernur Jatim.

“Zaman reformasi, jadi pejabat tidak mudah. Jadi sorotan dan bisa didemo tiap hari,” kata Bu Imam. Pak Imam hanya tersenyum simpul mendengar permintaan Bu Imam.

Singkat cerita Pak Imam terpilih. Dan pada sebuah pagi Mas Abu menjemput saya untuk pergi ke rumah Pak Imam yang ada di Margorejo. Seusai pengukuran baju pelantikan, Pak Imam menemui kami berdua. Dengan dua permintaan.

Pertama, memikirkan bagaimana bisa lebih cepat memperbaiki hubungan dengan KH Hasyim Muzadi (saat itu Ketua PW NU Jatim) karena perbedaan dukungan di Pilgub Jatim. Kedua, membantu menyiapkan draft renstra (rencana strategis) atau program kerja untuk jangka pendek dan 5 (lima) tahun masa pemerintahannya.

Dua penugasan itu menggambarkan bagaimana seorang mantan Pangdam V/Brawijaya, jenderal bintang dua yang terpilih menjadi Gubernur Jatim menempatkan Mas Abu sebagai seorang pribadi yang sangat istimewa. Hal itu juga menggambarkan bagaimana kekuatan Mas Abu dalam menjalin relasi dengan narasumber.

Sejak saat itu, saya dan beberapa teman wartawan politik, antara lain, Adi Sutarwiyono (Surya), Ainur Rohim (Memorandum), Joko Tetuko (Memorandum) serta Mas Hartoko (Surabaya Post) menjadi teman diskusi Pak Imam Utomo. Setiap ada masalah, Pak Imam selalu mengundang kami di rumah dinas Jl Imam Bonjol.

Di rumah dinas itu Pak Imam lazimnya ditemani Pakde Karwo (Kadispenda) yang juga dikenal sebagai birokrat intelektual sekaligus aktivis dengan jaringan sangat kuat. Tak berlebihan jika kemudian di masa pemerintahan kedua Pak Imam menempatkan Pakde Karwo menjadi Sekdaprov dan kemudian menjadi penyokong utama pencalonan Pakde Karwo menjadi Gubenur Jatim.

Tentu kami bukan satu-satunya teman diskusi Pak Imam Utomo. Banyak sekali teman diskusi beliau. Dan berkat Mas Abu Bakar Yarbo, saya punya pengalaman menjadi teman diskusi Gubernur Jatim Imam Utomo. Sebuah pengalaman yang tidak ternilai harganya.

Persahabatan itulah yang membuat saya tidak ragu mengajak Mas Abu Bakar Yarbo untuk menerbitkan beritajatim.com di tahun 2006. Karena Mas Abu masih bekerja di Memorandum, dia menjadi pemegang saham pasif hingga di tahun 2020 saat secara resmi menjual sahamnya. Terima Kasih Mas Abu. Panjenengan orang baik. Doa terbaik kami untuk panjenengan. [bjo/suf]



Apa Reaksi Anda?

Komentar