Berita Redaksi

Cerita Wartawan Beritajatim

Saat Saya Terkena Covid 19

Jember (beritajatim.com) – Bagaimana saya bisa terkena Covid? Pertanyaan itu beberapa kali ditujukan kepada saya melalui WhatsApp.

Jawabannya: saya tidak tahu persisnya. Sebagai seorang jurnalis yang memiliki mobilitas tinggi dan lebih sering berada di kerumunan atau bertemu banyak orang, paparan covid adalah salah satu risiko yang harus saya hadapi.

Saya sebenarnya relatif disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. Saya selalu membawa hand sanitizer, masker tak akan saya lepas terutama saat di kerumunan dan jika belum sendirian, dan saya selalu mencoba menjaga jarak. Namun tentu saja itu semua tak mudah.

Saya juga selalu berusaha menjaga kondisi tubuh. Setiap hari saya selalu minum You C 1000. Saya menyadari bahwa tahun 2020 adalah tahun politik. Penyelenggaraan pilkada membuat saya harus lebih intensif melakukan liputan. Apalagi Jember memiliki dinamika politik luar biasa dan menjadi perhatian nasional.

Namun menjaga kondisi tidak cukup. Kawan saya, wartawan Jakarta, yang harus dirawat karena Covid mengatakan: kita ini seperti membawa uranium atau bahan radio aktif tinggi. Kita tidak pernah tahu seberapa batas toleransi tubuh menghadapi paparan virus.

Kedua, kita tidak tahu kapan kondisi tubuh kita turun atau tetap fit. Rata-rata kita abai terhadap alarm tubuh. Saat tubuh capek dan meminta tidur, kita cenderung meremehkan. Padahal tidur ini penting.

Dalam artikel theathlantic.com, disebutkan bahwa virus bisa diblok dengan melatonin. Melatonin adalah hormon yang diproduksi tidur. Jadi kalau ngantuk, ayo tidur. Jangan biarkan pekerjaan menghambat aktivitas tidur.

Ada klaster berbahaya: klaster pilkada. Teman sekantor saya sudah tumbang dan masuk dalam klaster ini. Ia harus dirawat di rumah sakit di Surabaya. Alhamdulillah sembuh.

Saya selamat dari klaster pilkada. Kondisi baik-baik saja. Namun dinamika politik di Jember membuat saya terus-menerus liputan bertemu banyak orang terutama aksi massa. Saya berada di tengah-tengah massa itu tentu saja, dan akhirnya pertahanan tubuh saya jebol.

Jumat Malam, atau tiga hari setelah aksi massa, tubuh saya panas: 37-38 derajat celcius. Saya coba minum obat penurun panas. Turun sebentar tapi kembali panas dalam hitungan jam.

Saya memutuskan istirahat. Tidak ke mana-mana. Tidur saja di rumah. Sembari nulis satu dua berita.

Senin, saya batuk. Dahaknya banyak. Adik saya; seorang dokter di Jombang, memberi saya antibiotik dan obat batuk. Tapi panas tidak juga reda.

Rabu sore, adik saya meminta saya cek darah dan foto toraks di lab. Hasilnya: ada titik putih di foto paru-paru. Adik saya meminta saya segera masuk rumah sakit. Pilihan terbaik tetap di rumah sakit, karena kita tidak tahu seberapa serius penyakit itu. Apalagi saya punya komorbid hipertensi.

Kamar perawatan di Jember menipis. Saya segera menghubungi Kepala RS Jember Klinik Dokter Burhansyah. Pak Burhan langsung memerintahkan anak buahnya menyediakan kamar isolasi. “Soalnya tingkat huniannya 97 persen,” katanya kepada saya.

Alhamdulillah, saya dapat kamar. Saya masuk IGD dan ditangani petugas. Saturasi bagus: 97 persen.

Hal yang saya cemaskan adalah kehilangan indra penciuman dan perasa. Alhamdulillah itu tidak terjadi. Saya bisa stres kalau itu benar-benar terjadi.

Saya dirawat satu kamar isolasi dengan salah satu teman. Seorang pengusaha. “Saya mulanya tipus mas,” katanya.

Dia masuk sehari sebelum saya dan terlihat lebih menderita. Batuknya lebih parah. Jujur saja, saya sempat tertekan melihat kondisinya. Saturasinya tak membaik dan maksimal 95. Ia butuh bantuan oksigen lebih intensif.

Orang mengatakan: bahagia. Jangan pikirkan macam-macam selama sakit covid. Tapi tak semudah itu. Jika kondisi rekan sekamar tak membaik; secara psikis, kita mudah terpengaruh. Setidaknya itu yang saya alami. Apalagi saya mengenal baik kawan sekamar itu.

Opsinya adalah pindah kamar. Jika bisa sendirian. Masalahnya ketersediaan kamar itu juga untung-untungan.

Istri saya punya ide: beli seperangkat head set untuk menutup telinga. Jadi saya tidak perlu mendengar penderitaan rekan sekamar. Tapi tak lama, teman sekamar saya pun pindah. Menurut perawat, dia butuh oksigen lebih intensif. Saya pun pindah kamar. Kebetulan ada kamar single bed yang kosong.

Ada seperangkat televisi di kamar saya. Tapi saya putuskan untuk mencabut kabelnya, setelah remote control tak berfungsi. Saya hanya bisa menonton Anteve, yang sialnya pada pukul sembilan malam menayangkan film horor.

Selama dalam perawatan, saya menghabiskan waktu untuk menyetel Youtube doa dan bacaan Alquran jika subuh. Agak siang sedikit, saya menyetel Youtube lagu-lagu pop.

Banyak orang melayangkan pesan WhatsApp berisi pesan dan doa. Adik saya mengirimkan lagu DEWA berjudul Hadapi dengan Senyuman. Semua dukungan dan doa membuat semangat saya naik.

Para perawat selalu memantau saturasi saya. Jangan sampai di bawah 96 persen. Untung saya tidak sesak napas. Saya tidak terlalu banyak membutuhkan bantuan oksigen.

Selain saturasi, kondisi tensi darah saya juga dipantau ketat. Saya memang terkena hipeterensi. Selama masa perawatan, tensi darah saya diupayakan tak terlalu tinggi. Saya juga berusaha setenang mungkin dan tak banyak berpikir serius

Saya tidak pernah membaca berita soal Covid sama sekali. Apalagi kabar soal pertambahan kasus positif dan meninggal. Saya coba abaikan. Saya tahu ada dalam angka statistik itu. Namun statistik tak pernah bisa menjelaskan penderitaan dan perjuangan.

Saya kadang baca berita-berita politik soal Jember di grup WhatsApp. Saya tak ingin ketinggalan terlalu banyak informasi soal kisruh kota ini di masa transisi kekuasaan. Saya sudah punya rencana untuk menulis rangkuman agak panjang kalau kondisi sudah memungkinkan.

Saya juga membaca berita kisruh politik di Amerika Serikat. Informasi apapun selain Covid saya baca. Apalagi kisruh Donald Trump mengingatkan saya pada buku How Democracy Dies. Dia memang lucu.

Saya sebenarnya ingin menulis ringan selama sakit dengan bantuan gadget. Namun infus di tangan membuat saya tak bisa bergerak bebas. Setiap kali mengetik, selalu salah pencet huruf. Saya akhirnya memilih tidak menulis daripada frustrasi karena tidak bisa mengetik secepat yang dikehendaki.

Komunikasi dengan dunia luar banyak membantu pasien Covid. Saya sulit tidur. Biasanya tengah malam saya terbangun. Beruntung ada teman yang juga terbiasa bangun malam di kosnya, sehingga kami bisa mengobrol apa saja sampai saya kecapekan dan akhirnya tidur lagi.

Saya sering melakukan video call dengan istri saya hanya untuk melihat dia memasak atau ngobrol. Kadang juga video call dengan anak-anak. Kadang kami cerita beberapa hal yang ingin kami lakukan setelah saya sembuh. Ini semua saya lakukan karena melihat pasien lain terlihat menderita dan susah. Saya tak ingin kehilangan keceriaan.

Kantor tempat saya bekerja banyak membantu. Para pemimpin Beritajatim.com langsung menghubungi istri saya dan mengirimkan bantuan untuk keluarga saya agar bisa menyediakan logistik selama dua pekan isolasi mandiri di rumah. Istri saya belanja makanan dan banyak vitamin C. Cukup untuk dua pekan selama tak keluar rumah.

Istri dan dua anak saya menjalani swab antigen untuk memastikan jika aman. Alhamdulillah hasilnya bagus. Saya bisa bernapas lega.

Makanan penting. Saya beruntung selama sakit tak kehilangan indra perasa. Jadi saya selalu menghabiskan nasi kotak dari rumah sakit. Disiplin minum obat juga penting.

Istri saya mengirimkan pisang dan telur rebus. Kalau saya bangun tengah malam, saya mengudap pisang. Telur saya jadikan tambahan makanan nasi kotak dari rumah sakit. Pagi atau siang, saya minum you c 1000 atau susu beruang.

Apa pelajaran dari Covid?

Terkena Covid membuat saya merefleksikan banyak hal. Pandemi adalah masa suram dan kita tidak tahu kapan ini akan berakhir. Kesehatan menjadi prioritas melebihi masa-masa sebelumnya dan menjaganya bukan saja tanggung jawab personal tapi sosial. Saya melihat bagaimana para perawat dan tenaga kesehatan bekerja keras dengam kondisi rentan. Saya melihat mereka kecapekan.

Salah satu tenaga kesehatan, perempuan, sempat terkena covid dan dirawat teman-temannya sendiri. Dua hari dia menangis. Setelah sembuh, dia kembali ke pertahanan terakhir sistem medis kita. Tak ada yang tahu kapan ini berakhir.

Perhatikan kondisi tubuh dan keluarga. Bekerja keras tanpa memperhatikan kondisi tubuh sama saja membuka pintu benteng pertahanan keluarga.

Jika memang tidak penting, lebih baik pulang ke rumah dan beristirahat setelah bekerja. Meminimalisasi pertemuan dengan banyak orang, kecuali dengan protokol sangat ketat menjadi penting. Jangan lupa bahagia karena kita masih diberi kesempatan bertemu keluarga.

Covid membuat kita menata ulang priotitas dalam hidup kita. Saya rasa itu terpenting. (Wir)



Apa Reaksi Anda?

Komentar