Iklan Banner Sukun
Berita Migas

SKK Migas Dorong PEPC dan EMCL Kejar Ketertinggalan Lifting

Keterangan foto: Gas Expo 2022 dihadiri oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno, Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Noor Arifin Muhammad, Komite BPH Migas Harya Adityawarman, hingga Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman, bersama Kepala Dinas ESDM Jatim Nur Kholis.

Surabaya (beritajatim.com) – SKK Migas meminta Kontraktor KKS yakni Blok Cepu yang dioperasikan oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan PT Pertamina EP Cepu (PEPC) yang mengoperasikan proyek Jambaran Tiung Biru untuk segera mengejar ketertinggalan lifting mereka.

Hal ini diungkap oleh Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman, saat menghadiri pembukaan Gas Expo diselenggarakan di Surabaya selama 2 hari (29 – 30/8/2022) di Ballrom Westin Hotel Surabaya.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh SKK Migas Perwakilan Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Jabanusa) berkolaborasi dengan BPH Migas itu, Fatar membeberkan Blok Cepu saat ini menjadi produsen minyak terbesar secara nasional dengan kontribusi mencapai 28 persen dari produksi total nasional. Sayangnya tahun ini, produksi dari blok ini menurun karena penurunan produksi alamiah dan beberapa kendala teknis yang menghambat operasi.


Penurunan ini dapat diantisipasi dengan segera merealisasikan rencana percepatan pengeboran infill drilling dan Kedung Keris West serta pengembangan untreated gas.

Proyek Jambaran Tiung Biru yang diharapkan dapat segera berkontribusi untuk lifting nasional juga mengalami keterlambatan on stream. Penyebab utamanya adalah kendala finansial yang dialami oleh kontraktor yang membangun fasilitas.

“SKK Migas sangat menekankan kepada Kontraktor KKS yang menjadi operator masing-masing blok serta mitra kerja mereka untuk segera mengejar ketertinggalan yang ada karena pencapaian target lifting sangat tergantung kinerja dua blok ini. Selain itu, mengingat industri hulu migas sangat terkait dengan banyak pemangku kepentingan, kami juga berharap dukungan dari seluruh pemangku kepentingan di Jabanusa terhadap kelancaran dua proyek tersebut,” papar Fatar.

Dalam Gas Expo 2022 dihadiri oleh Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Kepala Dinas ESDM Jatim Nur Kholis, Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas Noor Arifin Muhammad, Komite BPH Migas Harya Adityawarman ini diharapkan tercipta sinergi yang solid.

Menurut Fatar kawasan Jawa Timur dan Jawa Tengah menjadi pemasok gas yang dapat diandalkan oleh Indonesia. Di Jatim sebentar lagi proyek Jambaran Tiung Biru telah gas-in.

“Sebentar lagi Jawa Timur akan surplus gas. Dalam jangka panjang, seiring pelaksaaan plan of development (POD) proyek hulu migas di Jabanusa, maka surplus gas akan semakin besar,” tegasnya optimistis.

Dan melalui Gas Expo 2022 ini diharapkan dapat tercipta persamaan persepsi antara SKK Migas – BPH Migas – Tranporter/shipper – Buyer dan para pemangku kepentingan utama lainnya. Hal in agar gas dapat dimanfaatkan secara optimal, termasuk potensi pengembangan industri berbahan baku gas di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Fatar menegaskan diperlukan sinergi untuk mendapatkan solusi bersama terkait dengan adanya ekses produksi gas dari tercapainya target penyerapan gas sesuai PJBG.

Fatar menambahkan regulasi yang baru terkait pemanfaatan gas suar bakar, karena adanya potensi pemanfaatan gas suar bakar bagi industri, namun juga terkendala dengan belum tersedianya infrastruktur ke calon buyer yang diperlukannya fleksibilitas dalam pemanfaatannya.

“Yang harus dipikirkan juga adalah bagaimana bisa meningkatkan pemanfaatan gas bumi nasional yang ada di wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, agar nilai tambah yang dihasilkan menjadi lebih besar dan mampu memberikan dampak positif berganda bagi tumbuhnya industri penunjang di kedua provinsi tersebut”, tandasnya.[rea]


Apa Reaksi Anda?

Komentar