Berita Migas

Rumpon Nelayan Banyuates Hilang, Kenapa?

Kawasan pesisir nelayan Kecamatan Banyuates

Sampang (beritajatim.com) – Lantaran rumpon hilang saat hendak melaut, sejumlah nelayan asal Desa Banyuates, Kecamatan Banyuates, Kabupaten Sampang mendatangi kantor kecamatan setempat.

Tujuannya, untuk melakukan audensi dengan Forkopimcam setempat. Pasalnya, warga curiga rumpon yang hilang itu diduga terpengaruh akibat pergerakan kapal survei rencana pengeboran sumur eksplorasi Hidayah 1 PC North Madura II.

Saat audensi di kantor Kecamatan Banyuates, Kamis (8/10/2020), beberapa nelayan mengaku tidak mengetahui adanya rencana pengeboran sumur eksplroasi Hidayah 1. Sebab, sosialisasi yang dilakukan Petronas, menurut warga, berlangsung di tingkat kabupaten. Seharusnya, sosialisasi itu diteruskan ke kecamatan hingga desa.

“Nelayan di bawah banyak yang tidak mengetahui rencana pengeboran Petronas yang baru. Bahkan, ada yang kaget karena rumponnya hilang,” kata Suprapto, Wakil Ketua Perkumpulan Nelayan Banyuates, Jumat (9/10/2020).

Saat ditanya jumlah rumpon nelayan yang hilang dan berapa total keseluruhan rumpun nelayan Banyuates? Suprapto mengatakan jika rumpon nelayan yang hilang berjumlah dua buah. Total keseluruhan rumpon terbanyak milik nelayan dari Desa Nepa. “Rumpon yang hilang ada dua titik dan itu sudah didata, tetapi bisa saja masih ada rumpon yang hilang, karena kapal survei masih melakukan kegiatan di laut kawasan Banyuates,” tambahnya.

Secara terpisah, Camat Banyuates, Fajar Sidik, saat ditemui di ruang kerjanya menepis jika nelayan tidak mengetahui adanya rencana pengeboran sumur baru Petronas di wilayah Banyuates.

Sebab, tambahnya, sebelum kapal survei datang ke lokasi sumur eksplorasi Hidayah 1 PC North Madura II, semua perwakilan LSM, tokoh nelayan, tokoh masyarakat, dan para kepala desa (Kades) daerah terdampak telah diundang dan menghasilkan beberapa poin kesepakatan. Di antaranya kesepakatan mengganti rumpon setelah dilakukan pendataan dan identifikasi.

“Semuanya sudah diproses sesuai dengan keinginan nelayan, termasuk kompensasi dan ganti rugi rumpon. Mengenai izin kemungkinan sebagian nelayan minim informasi, karena semua sudah disampaikan kepada perwakilan nelayan dan tokoh masyarakat saat sosialisasi di Pendopo Pemkab Sampang beberapa waktu lalu,” katanya.

Fajar menegaskan untuk kegiatan kapal survei ke lokasi Hidayah 1 sampai saat ini tetap berjalan sesuai jadwal yang ditetapkan. Apalagi, katanya, sudah disepakati semua pihak. “Kaitanya dengan audensi kemarin, kita sifatnya hanya memfasilitasi saja, Mas,” tukasnya.

Hal senada juga dijelaskan epala Desa (Kades) Desa Banyuates, Hj Nurul Hasanah. Dia mengaku telah memperjuangkan kompensasi seluruh warga terdampak dari kegiatan eksplorasi Hidayah 1. “Bukan hanya kaitanya dengan ganti rumpon saja,” tandasnya.

“Untuk kompensasi kepada warga sudah saya perjuangkan saat sosialisasi di Pendopo beberapa waktu lalu. Sebab, semua warga terdampak harus mendapatkan kompensasi secara merata dan berantai, termasuk pedagang ikan dan usaha nelayan,” tegasnya.

Terkait adanya kabar yang mengatakan saat sosialisasi di Pendopo Sampang tidak seluruhnya nelayan, katanya, informasi itu benar. Karena undangan sosialisasi di Pendopo Sampang yang diterima pihak desa harus menghadirkan lima orang, dengan rincian seorang tokoh masyarakat dan 4 perwakilan nelayan.

“Yang mengabarkan ke public itu harusnya bertanya kepada kepala desa agar tahu kondisi sebenarnya. Sedangkan sosialisasi yang tidak sampai ke bawah itu semua karena terbentur masa pandemi Coronavirus Disease 2019. Tapi, saat sosialisasi di Pendopo sebenarnya semua sudah terwakili dan tinggal menyampaikan kepada nelayan di bawah,” ingatnya. [sar/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar