Berita Migas

Pertamina Asset 4 Field Sukowati Sumbang Kelembaban Suhu di Bojonegoro

Bojonegoro (beritajatim.com) – Operator lapangan minyak dan gas bumi (Migas) Pertamina EP Asset 4 Field Sukowati bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Bojonegoro melakukan penanaman pohon.

Diharapkan, banyaknya pohon penghijauan bisa menambah kelembaban suhu di Bojonegoro.

Penanaman pohon tahun 2019 yang sudah dilakukan oleh Pertamina EP Asset 4 Field Sukowati sebanyak 670 pohon Trembesi dan 80 pohon Sepatu Dea.

Hal itu sesuai dengan program pemerintah daerah dalam melakukan penghijauan sesuai dengan rencana pembangunan jangka panjang daerah.

“Kami mendukung program penghijauan Pemerintah Bojonegoro dengan memulai di awal tahun yang rencananya akan kami bantu sejumlah 5.000 pohon sesuai arahan Pemkab Bojonegoro,” ujar Field Manager Pertamina EP Asset 4 Sukowati, Heri Aminanto, .

Dengan adanya program penghijauan ini, diharapkan bisa menambah kelembaban suhu di Bojonegoro.

Penanaman dilakukan di tepian jalan sebagai pohon penghijauan di jalur desa, kabupaten maupun jalan nasional.

Selain itu, juga di kawasan embung, daerah rawan longsor, ruang terbuka, dan di bantaran Sungai Bengawan Solo.

“Harapannya dengan kegiatan ini, Pertamina EP Asset 4 Field Sukowati bisa bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Bojonegoro Nurul Azizah mengatakan, target penghijauan jangka panjang bisa menanam sebanyak 500 ribu pohon.

Setiap tahun, targetnya bisa menanam 100 ribu pohon. Penanaman yang dilakukan hari ini di sepanjang jalan Bojonegoro – Nganjuk, turut Kecamatan Temayang.

“Pohon yang ditanam setinggi antara satu sampai tiga meter. Sepanjang jalan nasional, jalan desa dan jalan kabupaten biar terlihat teduh,” ungkapnya.

Target jangka panjang penanaman pohon bisa dilakukan di ruang terbuka, taman desa, taman kecamatan maupun taman kabupaten, embung, dan di sepanjang Bengawan Solo. Titik-titik kawasan penanaman ini sesuai dengan maping yang dilakukan DLH Bojonegoro karena dirasa termasuk kawasan gersang.

“Selain itu juga ada maping lain sesuai dengan masukan camat dan pemerintah desa sesuai target 5 tahun,” terangnya.

Menurut Nurul Azizah, di daerah Bojonegoro kawasan yang masuk dalam potensi untuk segera di tanami adalah untuk melengkapi kawasan hutan yang beralihfungsi. Dari luasan kurang lebih 90.000 hektare kini tinggal sekitar 80.000 hektare kawasan hutan.

“Lahan kritis ini menyebar, tapi jangka pendek masih ditanam di kanan kiri jalan nasional,” pungkasnya. [lus/ted]

Apa Reaksi Anda?

Komentar