Berita Migas

Migas Di Tengah Ombak Pandemi Covid-19

Surabaya (beritajatim.com)  – Sudah jatuh tertimpa tangga, agak ini adalah perumpamaan yang bisa menggambarkan situasi industri hulu Minyak dan Gas (Migas) di Tanah Air. Pandemi Covid-19 menghampiri Indonesia sejak pertengahan Maret lalu telah mengubah ritme kerja dan bahkan membuat beberapa jenis pekerjaan rutin pun ikut tersendat.

Pandemi baru saja datang, kabar buruk lainnya pun ikut datang “harga minyak dunia anjlok!”. Harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) merosot hingga hampir 40 persen dan di awal pandemi melanda yakni Maret akhir, kini tinggal USD 22,38. Perusahaan hulu Migas pun makin pening kepalanya. Jelas harga minyak mentah tak bergiurkan lagi sedangkan biaya produksi tetap tinggi.

Pandemi Covid-19 tak hanya memukul perekonomian para pelaku UMKM, perusahaan Migas pun ikut menjerit, lockdown yang dilakukan sejumlah negara dunia telah menurunkan permintaannya. Badan Energi Internasional (IEA) menyebutkan terjadi penurunan pemintaan dari 1,1 juta barrel per hari menjadi 99,90 juta barrel per hari. Harga semakin terperosok karena pembatasan atau PSBB yang diterapkan di negara yang masih kaya sumber minyak pun menurunkan produksi minyak mentahnya.

Di Indonesia terutama di Jatim yang menjadi penopang minyak mentah, karena 30 persen minyak mentah yang berada di perbatasan Bojonegoro dengan Jawa Tengah. Bahkan April lalu, Pemda Bojonegoro membatasi tenaga kerja dari luar daerah mereka demi menghambat lajunya Covid-19. Dan SKK Migas Jawa Bali Dan Nusra pun harus turun tangan menjembatani kepentingan perusahaan Kontraktor Kontrak Kerjasama (K3S) dengan Pemda setempat untuk tidak memulangkan pekerja yang sedang bertugas di lapangan Migas.

Lalu bagaimana industri hulu Migas ini bisa bertahan ditengah pandemi Covid-19?

Suka dan tidak suka, perusahaan hulu Migas harus menghadapi kondisi ini, target produksi harus tetap dipenuhi seperti janji tertulis mereka pada negara, melalui pantauan SKK Migas. Efesiensi pun harus dilakukan namun tidak boleh mengurangi standar keselamatan kerja yang memang tingginya dan tak bisa mentolerir sedikit pun kelalaian apalagi penurunan mutu keselamatan kerja karena tantangannya adalah nyawa bahkan kerusakan lingkungan jangka panjang.

Sorotan pemerintah daerah pada perusahaan Migas disaat pandemi cukup tinggi, karena rolling pekerja di lapangan Migas cukup tinggi. Misalnya PT Kangean Energy yang memproduksi gas alam sebanyak 198 mmscfd (juta standart kaki kubik per hari) yang merolling pekerja dilapangannya setiap 2 pekan. Sehingga kebutuhan mobilitasnya pun cukup tinggi dan pekerjaan eksploitasi maupun eksplorasi itu tak boleh berhenti sama sekali, tak seperti menghentikan pabrik konveksi beroperasi.

Rolling pekerja yang dilakukan oleh industri hulu Migas pun membutuhkan transportasi udara. Namun di tengah Covid-19 mobilitas melalui bandara pun sangat dibatasi dan resiko penularan di bandar udara pun sangat tinggi. Walhasil manajemen K3S pun harus mencari celah lain, seperti yang dilakukan oleh Husky CNOCC Madura Limited (HCML) yang “memaksa” karyawannya menempuh perjalanan darat dari Jakarta ke Surabaya dengan menggunakan bus sewaan khusus.

Namun sebelum perjalanan darat dilakukan, para pekerja pun harus dikarantina selama 9 hari dan setiap hari harus melaporkan kondisi mereka kepada Departemen Health, Safety, Security and Enviroment (HSSE Dept) HCML.

Perjalanan yang dulu hanya sekejap mata dengan pesawat kini menjadi perjalanan panjang yang melelahkan. Para pekerja di Gas Metering Station (GMS) Pasuruan milik HCML contohnya harus menempuh perjalanan dari Jakarta hingga 12 jam.

”Ini masa sulit, tapi kami tidak bisa berhenti bekerja karena kami harus mengamankan pasokan energi nasional. Kami yang bekerja di hulu tumpuan energi nasional, jadi apapun tantangannya harus kami hadapi,” kata Manager Regional Office HCML, Hamim Tohari.

Akibat pandemi telah membuat biaya akomodasi dan transportasi menjadi membengkak, namun target harus tetap dijalankan. Kepala SKK Migas, Dwi Soetjipto, pun pernah mengadu ke DPR RI, bahwa saat pandemi urusan transportasi para teknisi dan tenaga konstruksi pun menjadi terhambat. Diantaranya jumlah pekerja yang bekerja dilapangan dibatasi sehingga banyak pengerjaan kontruksi di lapangan Migas menjadi terhambat. Padahal tahun ini ada 11 proyek pengembangan lapangan yang harus berjalan.

“Perizinan mobilitas pekerja saja menjadi sulit ketika di awal-awal pandemi,” ungkap Dwi Soetjipto. Dwi juga melaporkan bahwa perusahaan K3S mengalami kesulitan cash flow selama pandemi, selain harga minyak dunia yang rendah juga diperburuk dengan banyaknya tambahan biaya demi memperketat protokol kesehatan.

Beruntung pemerintah tidak tinggal diam, rencananya dalam 2020 International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas yang akan digelar SKK Migas pada 2-4 Desember mendatang, SKK Migas akan mengumumkan pemberian insentif fiskal untuk membantu industri hulu Migas bertahan ditengah  pandemi covid-19. Salah satunya insentifnya adalah rencana penundaan pembayaran dana cadangan pasca tambang atau Abandonment Site Restoration (ASR).

SKK Migas juga mengupayakan pengurangan pajak berupa pengurangan PBB migas, dan percepatan reimbustment PPN, serta pembebasan bea masuk dan pajak dalam rangka impor untuk wilayah kerja eksploitasi dan wilayah kerja produksi komersial kontrak gross split. Bila kebijakan ini  diberikan, maka akan menyelamatkan gross revenue sekitar 4 persen sampai 12 persen dan cost recovery sekitar 4 persen. Sehingga beban yang ditanggung K3S tak terlalu berat

“Pandemi tidak diduga banyak orang, namun eksploitasi harus terus berjalan.  Target kami Indonesia di tahun 2030 mampu menghasilkan minyak mentah sebanyak 1 juta barrel per hari dan itu bisa terjadi dengan lebih banyak melakukan eksplorasi mulai saat ini. Jika sebelumnya setiap tahun sumur ekplorasi ada 100-200 sumur, maka untuk menggenjot target sumur ekplorasi maupun ekploitasi harus banyak jika perlu 500 sumur baru dan semoga pandemi bisa berlalu sehingga target prestisius ini bisa tercapai,” tambah Kepala Divisi Manajemen Proyek dan Pemeliharaan Fasilitas SKK Migas, Luky Yusgiantoro.

Pandemi memang sesuatu yang tak bisa dielakkan, namun  semangat di industri hulu migas masih terus menyala, laiknya kobaran api di stasiun pengolahan minyak mentah yang terus berkobar 24 jam. Pandemi saat ini memang belum reda tetapi setidaknya per hari ini harga minyak mentah dunia sudah mulai menunjukkan “tenaganya” dengan harga USD 41,48 per barrel. Sebuah semangat baru akan muncul di sektor Migas Tanah Air di tengah pertarungan dunia menghadapi Covid-19  [rea/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar