Berita Migas

Kawasan Pertambangan Bojonegoro Seluas 905 Hektare

Foto ilustrasi.

Bojonegoro (beritajatim.com) – Sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Bojonegoro nomor 26 tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bojonegoro tahun 2011 – 2031, area pertambangan seluas kurang lebih 905 hektare.

Sesuai dengan Pasal 30, peruntukan pertambangan sesuai dengan Pasal 25 huruf e yakni untuk pertambangan mineral dan batuan dan kawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi. Serta kawasan peruntukan pertambangan mineral dan batuan.

Pertambangan mineral dan batuan, klasifikasi dan lokasinya ada di beberapa titik. Mulai dari batu gamping non klastik di Kecamatan Dander dan Kecamatan Temayang, Batu gamping klastik di Desa Gunung Sari dan Desa Gajah Kecamatan Baureno, serta Desa Dandangilo dan Desa Padang Kecamatan Kasiman.

Phosphat jenis Guano di Desa Kunci dan Desa Jono Kecamatan Temayang, Desa Sumberagung Kecamatan Dander, Desa Sumberejo Kecamatan Bubulan, dan Desa Pragelan Kecamatan Bubulan.

Bentonit di Desa Ketileng Kecamatan Malo, Desa Payung Geneng, Dusun Seteren Kulon Kecamatan Margomulyo, Desa Kenongo Kidul Kecamatan Sugihwaras, dan Desa Ngati Kecamatan Ngraho.

Bahan Galian Gypsum di Desa Gapluk Kecamatan Purwosari, Desa Sambong, Desa Mojodelik Kecamatan Ngasem, dan Desa Mojodelik Kecamatan Ngasem (sekarang menjadi Kecamatan Gayam).

Bahan Galian Lempung di Desa Luwihaji, Desa Sumberagung, Desa Mojorejo Kecamatan Ngraho, Desa Sumberagung Kecamatan Ngraho, Desa Mojorejo Kecamatan Ngraho, Desa Cangakan Kecamatan Kanor,
dan Kecamatan Padangan.

Batu onix di Desa Jari Kecamatan Gondang. Tambang pasir dilakukan secara tradisional atau non mekanis disepanjang Sungai Bengawan Solo; dan tanah urug di Desa Banjarsari, Desa kaliketek Kecamatan Bojonegoro,
Desa Pagerwesi Kecamatan Malo, Desa Nganti, Desa Blimbinggede Kecamatan Ngraho, dan Desa Geneng Kecamatan Margomulyo.

Sedangkan untuk kawasan peruntukan pertambangan minyak dan gas bumi, yakni pertambangan modern pada area Blok Sukowati di Kecamatan Bojonegoro dan Kecamatan Kapas, area Blok Cepu di Kecamatan Ngasem (sekarang Kecamatan Gayam), dan pertambangan tradisional di Desa Wonocolo, Desa Hargomulyo, dan Desa Beji Kecamatan Kedewan dan sekitarnya.

Kepala Bagian Hukum Pemkab Bojonegoro Faisol Ahmadi mengatakan, sesuai dengan Peraturan Daerah perizinan pertambangan di wilayah yang belum masuk kawasan tambang menjadi kewenangan dinas teknis terkait yang akan melakukan penelitian.

Apalagi, kata dia, atensi masalah Lingkungan Hidup ini, sekarang semakin ketat. Termasuk dalam proses izin pengembangan lapangan migas PAD C Sukowati yang akan dilakukan di Desa Banjarsari, Kecamatan Trucuk. Saat ini izin rencana pengembangan Lapangan PAD C itu masih dalam proses FGD di tataran Pemkab Bojonegoro.

“Semua aspek teknis maupun non teknis, termasuk analisis dampak lingkungan harus terpenuhi. Baru setelah dinas teknis sudah memberi rekom, bisa diberikan izin,” ujarnya, Kamis (2/1/2020).

Sebelumnya, General Manager (GM) Pertamina EP Asset 4, Agus Amperianto mengatakan pada semester pertama tahun 2020 mendatang pihaknya sudah mulai melaksanakan pengembangan Lapangan Sukowati Pad C. “Targetnya tahun depan kita sudah lakukan sosialisasi, pembebasan lahan, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Jika FGD penentuan perubahan Perda tersebut sudah selesai di eksekutif, Agus mengatakan, pihaknya tinggal menindaklanjuti untuk melakukan komunikasi lebih intens kepada DPRD Bojonegoro untuk mengesahkan perda tersebut. Sekarang, lanjut dia, Pemkab Bojonegoro sudah membantu memberi jalan sesuai dengan dasar-dasar fakta yang sudah disampaikan.

“Jadi dengan FGD ini nanti tindaklanjutnya kalau dimungkinkan lebih cepat jika bisa dilakukan paralel sembari proses revisi perda kita melakukan kegiatan,” pungkasnya. [lus/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar