Berita Migas

Dari Ayam Petelur, Menetas Ekonomi dan Gizi bagi Warga Dolokgede

Bojonegoro (beritajatim.com) – Desa Dolokgede, Kecamatan Tambakrejo, Kabupaten Bojonegoro, merupakan tanah kelahiran Menteri Sekretaris Negara, Pratikno. Awalnya desa yang berada di sebelah barat Kabupaten Bojonegoro itu merupakan daerah yang tidak memiliki keunggulan potensi ekonomi bagi warga setempat.

Berjalannya waktu, daerah tersebut kemudian masuk kawasan sekitar pengembangan lapangan Unitisasi Gas Jambaran Tiung Biru (J-TB) yang dioperati Pertamina EP Cepu (PEPC). Pihak operator bersama dengan organisasi masyarakat sipil yang ada di desa setempat kemudian menggali potensi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat dan berdampak pada kemudahan mendapat makanan gizi.

Setelah melalui beberapa kajian, muncul lah usaha ayam petelur yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Sedikitnya, di Kecamatan Tambakrejo sudah ada tiga kandang budidaya ayam petelur, salah satunya di Desa Dolok Gede. Hasil panen ayam petelur itu sebagian besar didistribusikan kepada masyarakat sekitar. Dati tiga kandang tersebut, kebutuhan untuk lingkup kecamatan masih kurang.

Jumain (27) warga sekitar yang menjadi salah satu pengelola kandang ayam petelur di Desa Dolok Gede menyebut, setiap hari dari sebanyak kurang lebih 1.300 ekor ayam petelur bisa panen antara 63 sampai 66 kg telur, atau sekitar 1.057 butir. Telur hasil panen tersebut kemudian didistribusikan kepada pedagang pasar desa setempat.

Salah seorang pedagang pasar tradisional desa Kacangan, Kecamatan Tambakrejo, Eni Setyowati mengaku setiap pasaran, biasanya dia bisa menjual telur sebanak 15 kg perhari. Sebelum ada kandang ayam petelur di Kecamatan Tambakrejo, dia memasok telur ayam dari Kabupaten Kediri. Namun, dia mengaku resiko telur pecah lebih banyak jika didatangkan dari luar daerah.

“Kebutuhan telur ini kan setiap hari, kalau lagi pasaran bisa 15 kg telur, tapi kalau di luar pasaran kadang cuma 2 kg yang terjual,” ujarnya, Minggu (11/10/2020).

Telur dari Hasil panen tersebut juga digunakan untuk memenuhi kebutuhan bantuan pemerintah, salah satunya melalui Bantuan Pangan Non Tunai (BNPT). Bantuan kepada masyarakat berupa makanan sehat, diantaranya beras, telur, ayam, buah dan tempe. “Untuk yang telur dan tempe, itu kami ambil dari produksi warga sekitar,” jelas Koordinator PKH Tambakrejo Suwadi Pranoto.

Pogram pengembangan budidaya ayam petelur ini merupakan tindaklanjut dari hasil survei studi sosio ekonomi 2013 terhadap warga sekitar wilayah proyek pengembangan gas unitisasi Jambatan-Tiung Biru (J-TB). Sebagian besar mata pencaharian masyarakat sekitar wilayah operasi Pertamina EP Cepu (PEPC) tersebut sebagai petani dan peternak.

Sehingga untuk menciptakan ekonomi yang mandiri, berkelanjutan serta peningkatan kesejahteraan, pihak operator yakni Pertamina EP Cepu (PEPC) dalam menyalurkan CSR/PKPO bidang ekonomi menggandeng organisasi masyarakat sipil (OMS) Asosiasi untuk Demokasi dan Kesejahteraan Sosial (Ademos) setempat membuat program budidaya ayam petelur.

“Sejak 2018 kami mendampingi BUMDesa maupun kelompok masyarakat untuk mengembangkan ekonomi lebih mandiri dan berkembang,” ujar Sekretaris Ademos, A Shdiqurrosyad.

Dari pengelolaan budidaya ayam petelur itu, kini sudah mulai terlihat dampak yang dirasakan masyarakat sekitar. Seperti mudahkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi dari telur, menjadi penyedia lapangan pekerjaan baru, bahkan saat ini BUMDesa yang mengelola budidaya ayam petelur ini menjadi rujukan untuk studi banding pengelolaan unit usaha BUMDesa. “Setiap bulan BUMDesa itu bisa mendapat laba antara Rp 10 juta dari budidaya ayam petelur,” jelasnya.

Humas Pertamina EP Cepu, Edi Arto mengungkapkan, program budidaya ayam petelur merupakan bentuk komitmen perusahaan untuk memberi kotribusi dalam bentuk ekonomi mandiri bagi masyarakat sekitar melalui penguatan usaha yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Serta mengembangkan unit bisnis BUMDesa yang berbasis pada partisipatif masyarakat yang mampu berkembang.

“Selain itu juga untuk menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar dan pemerintah daerah agar bisa meningkatkan ekonomi serta bisnis yang baik di masyarakat. Dari program itu diharapkan bisa memberikan dampak kemandirian ekonomi masyarakat,” pungkasnya. [lus/ted]





Apa Reaksi Anda?

Komentar