Berita Migas

Dampingi Masyarakat Petani Hutan dengan Program Agroforestry

Serah terima program agroforestry berbasis kawasan hutan bersama masyarakat kepada para petani penggarap lahan hutan di sekitar wilayah pengeboran Jambaran Tiung Biru.

Bojonegoro (beritajatim.com) – PT Pertamina EP Cepu (PEPC) menyerahterimakan program agroforestry berbasis kawasan hutan bersama masyarakat kepada para petani penggarap lahanĀ  yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutran (LMDH) Rimba Tani Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

Program yang diinisiasi oleh PEPC sejak 2019 bekerja sama dengan LSM IDFoS Indonesia ini merupakan salah satu program pemberdayaan masyarakat dari PEPC yang telah disetujui oleh SKK Migas.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarkat Desa (DPMD) Kabupaten Bojonegoro, Machmuddin yang hadir pada acara evaluasi dan serah terima program agroforestry ini menyampaikan, penguatan kelembagaan LMDH adalah salah satu aspek penting. Tujuannya, agar LMDH memiliki kemampuan sebagai pendorong ekonomi masyarakat desa di sekitar hutan.

“Mengingat hampir 60 persen lahan pertanian di Bojonegoro adalah di wilayah hutan. Program ini memiliki potensi Agrowisata yang bagus, terlebih lagi jika program agroforestry ini dapat terkoneksi dengan potensi lain yang ada di sekitarnya,” ujarnya.

Sementara Camat Ngasem, Waji menambahkan, dengan diserahterimakannya program agroforestry ini diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif peningkatan ekonomi bagi masyarakat desa hutan di masa mendatang. Sebab jika dikelola dengan benar budidaya buah kelengkeng ini memiliki potensi ekonomi yang sangat menjanjikan.

“Sejumlah 2.200 pohon kelengkeng yang telah tertanam ini apabila dikelola dengan baik bisa menghasilkan buah secara maksimal. Kami berharap agar para pesanggem memiliki rasa andarbeni atau rasa memiliki terhadap program ini,” ungkap Waji saat di aula Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Selasa (27/4/2021).

Diketahui, program Agroforestry tahap ke-2 ini berlangsung sejak 2020 hingga awal 2021. Fokus program adalah pada perawatan dan penambahan tanaman. Sedangkan pada tahap pertama yang dilaksanakan pada tahun 2019 telah tertanam 1.500 pohon kelengkeng.

Hingga pada 2021 ini terdapat 2.200 pohon kelengkeng yang telah berhasil ditanam dan tumbuh di lahan kawasan perlindungan setempat (KPS) Perhutani BKPH Clangap Petak 53,54,50 dan 42.

Officer Community Relation & CSR PEPC, Edi Arto yang menyampaikan acara serah terima program ini mengatakan bahwa agroforestry merupakan program yang memiliki multipotensi dalam jangka panjang. Selain produktivitas pohon yang jelas memberikan hasil ekonomi, program agroforestry memiliki manfaat lain yang mendukung pelestarian ekosistem bagi lingkungan sekitar.

“Pohon ini selain berpotensi menghasilkan buah juga memberikan dampak yang sangat baik bagi pemeliharaan lingkungan kita, akar dari pohon tegakan ini akan mampu melindungi badan sungai di sepanjang lahan KPS dari erosi dan longsor” ungkapnya.

Sementara, Wakil kepala Administratur KPH Bojonegoro Juwanto memberi apresiasi yang tinggi terhadap PEPC. “Program seperti ini sangat bermanfaat bagi lingkungan yang jika dikonversikan dengan angka ekonomis sebenarnya sangat tinggi nilainya, karena secara nyata memberikan manfaat terpeliharanya lingkungan alam dari kerusakan. Ini luar biasa,” ungkapnya.

Pada acara evalusi para pihak dan serah terima program agroforestry ini berbagai pihak yang hadir seperti perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Cabang Dinas Kehutanan (CDK) dan Bappeda, BKPH turut serta dalam diskusi aktif dengan para pesanggem serta memberikan tanggapan dan masukan positif agar tujuan dari program ini benar-benar dapat tercapai sesuai dengan yang telah direncanakan. [lus/suf]


Apa Reaksi Anda?

Komentar