Berita Migas

Upaya Pertamina EP Bersama Warga Doudo

Bangkitkan Ekonomi Desa di Tengah Pandemi Covid-19

Warga Desa Daudo sedang mengemas biji mente yang menjadi produksi andalannya

Gresik (beritajatim.com) – Desa Doudo berada di Kecamatan Panceng, Kabupaten Gresik. Desa yang berbatasan dengan Kabupaten Lamongan ini berupaya bangkit dari keterpurukan akibat pandemi Covid-19. Semua itu demi kesejahteraan bersama.

Desa Doudo terletak di persimpangan tiga kecamatan, yaitu Panceng, Ujungpangkah dan Kecamatan Sidayu. Desa Doudo merupakan pintu masuk wilayah Panceng sebelah timur dengan ketinggian tempat berkisar ± 12 – 25 meter di atas permukaan laut.

Di pinggir mulut jalan berdiri tegak dan kokoh tugu bertuliskan Daudo Agro Edu Green Village. Tugu ini seolah mengucapkan selamat datang bagi setiap orang yang akan memasuki desa tersebut. Rumah-rumah warga berjajar rapi, tanaman subur menghijau menghiasi halaman.

Mentari yang bersinar cukup terang di pagi hari mengiringi warga desa untuk beraktifitas. Pancaran sinar tersebut juga memberi semangat mereka untuk melawan virus Corona atau Covid-19. Karena mereka meyakini sinar berwarna perak di pagi hari mampu menambah kekebalan tubuh guna menangkal virus yang belakangan menjadi momok itu.

Seperti masyarakat pada umumnya, warga di desa sebelah utara Kabupaten Gresik ini masih dihantui Covid-19. Apalagi Doudo juga tak luput dari serangan virus tersebut. Kepala Desa (Kades) Daudo Sutomo menceritakan awal mewabahnya pandemi Covid-19 di wilayahnya.

Yakni ketika ada warganya yang terkonfirmasi positif satu keluarga. Mereka kemudian melakukan isolasi secara mandiri. Para tetangga tidak tinggal diam. Mereka bergotong-royong untuk membantu. “Saat itu, keluarga yang terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut kami bantu. Kami memberikan bekal setiap hari. Ketika isolasi mandiri, per kepala mendapat sumbangan Rp 25 ribu/hari,” tuturnya, Senin (16/11/2020).

Warga Daudo menyadari bahwa Pandemi belum usai. Oleh karena itu menegakkan protokol kesehatan (prokes) adalah kewajiban. Mereka selalu mengedepankan 3M, yakni mencuci tangan pakai sabun, mengenakan masker dan menjaga jarak. Tidak lupa juga dilakukan penyemprotan disinfektan di desa tersebut.

Pandemi Covid-19 tidak hanya mengancam kesehatan warga. Efek dominonya menghantam berbagai sektor. Terutama setelah diterapkannya PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Aktivitas warga mulai terganggu. Perekonomian bergerak seperti siput. Semuanya melambat. “Akibat pandemi Covid-19, aktivitas warga dan ekonomi tak bisa berjalan alias berhenti,” kata Sutomo.

Dulunya Desa Tertinggal
Sutomo berkisah, Doudo dulunya adalah desa tertinggal. Setiap tahun, kekeringan selalu datang. Lahan persawahan kering dan mengeras, pepohonan meranggas. Maka tidak heran, desa ini masuk dalam daftar IDT (Inpres Desa Tertinggal) pada tahun 1990-an.

Namun desa ini tidak pasrah dengan keadaan. Apalagi setelah mendapat sentuhan dari berbagai pihak. Desa yang dulu tertinggal, kini bangkit mengejar. Salah satu sentuhan itu berasal dari KKKS Pertamina EP Asset 4 Poleng Field di bawah pengawasan SKK Migas Jabanusa.

Perusahaan Migas ini mengucurkan program CSR (Corporate Social Responsibility) untuk Desa Doudo. Perlahan tapi pasti, desa yang berada di Kecamatan Panceng ini mulai bersolek. Daudo mulai berkembang, aktivitas warga pun menggeliat. Sejak itu, Doudo tak lagi dipandang sebelah mata. Kegiatan kelompok usaha dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) nyaris tak pernah sepi.

Hasilnya, PAD (Pendapatan Asli Desa) Daudo untuk periode 2019-2020 mencapai Rp 60 juta. Pendapatan tersebut berasal dari pengelolaan BUMDes. Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda negeri ini, yakni Maret 2020, kegiatan ekonomi desa itu mulai kedodoran.

Bangkit Setelah Terpukul Pandemi

Sebelum pandemi, Desa Daudo memiliki ekonomi kerakyatan berupa produk makanan olahan seperti biji jambu mente dan minuman yang dibuat dari bunga rosela. Bahkan, warga desa sudah punya nama pakem kelompok usaha mandiri (KUM) pengupas mente olahan ‘Mbok Daudo’.

Namun seiring diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), produk mente olahan yang menjadi andalan Desa Daudo tak bisa dipasarkan. Hal itu terjadi selama beberapa bulan. Nah, baru setelah ada kebijakan new normal, semangat warga mulai menyala. Mereka kembali menggerakkan roda perekonomian desa, baik itu melalui kelompok usaha maupun BUMDes.

Salah satu warga yang menjadi kelompok usaha tersebut adalah Rusmida (28). Ibu satu anak ini mengungkapkan, saat PSBB produk mente olahan yang menjadi andalan Desa Daudo tak bisa dipasarkan. Namun setelah Gresik masuk zona oranye, senyum Rusmida kembali mengembang. Ibu muda ini kembali giat mengupas mente.

Rusmida berkisah, dalam sehari, dirinya mampu mengupas mente hingga 10 bungkus plastik (glondongan) ukuran besar dengan berat 5 kilogram. Mente yang menjadi makanan khas olahan Desa Daudo itu dijual Rp 60 ribu per kilogram. “Alhamdulillah sudah berjalan lagi. Sebelumnya sempat berhenti tujuh bulan akibat pandemi Covid-19. Kini saya dan ibu-ibu yang lain bisa mengupas mente kembali dan hasilnya bisa dipasarkan lagi,” ungkapnya.

Berkat olahan mente itu, warga Desa Daudo merasakan dampak ekonomi dari kelompok usaha yang didirikan. Hasilnya lumayan dan bisa menopang ekonomi keluarga. Selain olahan mente, Desa Daudo juga membangkitkan kembali produk olahan lainnya seperti minuman dari bunga rosela.

Relation & Formalities Staff Poleng Field Intan Anindita Putri menuturkan, melalui kegiatan pendampingan ini Desa Doudo diharapkan bisa menjadi maju lagi. Kemudian kelompok olahan pangan bisa terus berkembang menjadi UKM yang berdaya saing serta mampu meningkatkan ekonomi secara luas.

“Kami akan terus melakukan pendampingan lingkungan dan ekonomi sebagai bentuk tanggungjawab CSR Pertamina EP Asset 4 Poleng Field. Hal itu mengingat di dekat Desa Doudo ada sumur Suci A yang sudah lama tak beroperasi,” katanya.

Melalui pendampingan ini, kata Intan, Desa Daudo yang mempunyai tagline Doudo Agroo Green Village bisa berkembang tingkat ekonominya dan menjadi desa mandiri. [dny/suf]





Apa Reaksi Anda?

Komentar