Berita Migas

Ayo Bangkit, Jatim ‘Gringsing’ (Jangan Sakit) di Tengah Pandemi Covid-19!

Surabaya (beritajatim.com) – Menjelang akhir tahun 2020, wabah Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Namun, banyak negara mengambil langkah pelonggaran lockdown. Tak terkecuali dengan Indonesia.

Ketika angka penularan Covid-19 masih tinggi, Pemerintah justru sedang menggodok aturan mengenai pelonggaran PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dan mencanangkan mengenai tatanan kenormalan baru atau New Normal.

Penerapan New Normal diharapkan akan segera memperbaiki perekonomian negara yang sedang terpuruk. New Normal bertujuan menekan penyebaran virus, tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Kebijakan New Normal kini mulai diterapkan di beberapa provinsi di Indonesia.

Penulis berusaha menganalisis konsep New Normal secara sosiologis melihat respon masyarakat menjalani kehidupan baru dengan menggunakan konsep AGIL (Adaptation, Goal, Integration dan Latency) yang di populerkan oleh sosiolog Amerika, Tallcot Parsons.

Pertama, adaptation atau adaptasi, tahap ini mengharuskan adanya pembiasaan kebiasaan baru di masyarakat. Kebiasaan dimaksud, seperti penggunaan masker, menjaga jarak, tidak berkerumun, sering-sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, dan sebagainya. Sulit awalnya, karena memang merubah kebiasaan. Membiasakan yang tidak biasa.

Kedua, goal atau tujuan, sistem sosial memiliki tujuan yang harus dicapai, dan tujuannya bagaimana sistem sosial tetap bertahan. New normal sendiri memiliki tujuan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dengan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasanya. Tujuan ini akan tercapai, jika masyarakat mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru di era new normal.

Ketiga, integration atau integrasi. Pada tahap ini, diperlukan kerja sama yang baik antarkomponen seperti pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Integrasi menjadi penting, karena satu sama lain saling mempengaruhi, jika pemerintah sudah membuat aturan, maka aturan itu harus dijalankan. Tanpa adanya integrasi, kebijakan new normal akan sia-sia dan hanya jalan di tempat, tanpa ada hasil yang dicapai.

Sedangkan, keempat yaitu latency atau laten. Ini merupakan tahapan terakhir, latensi adalah pemeliharaan nilai, norma dan budaya yang dianut masyarakat. Setelah masyarakat mampu beradaptasi dengan kebiasaan-kebiasaan baru dan tercapainya tujuan New Normal, maka seluruh komponen masyarakat perlu untuk menjaga nilai, norma, dan budaya baru yang sudah terbentuk. Pemeliharaan sistem sosial New Normal diperlukan supaya sistem ini tetap bertahan dan tidak ambruk.

Untuk itulah perlu adanya kerja sama dari semua komponen masyarakat untuk beradaptasi dengan kebiasan-kebiasaan baru di era new normal. Selanjutnya, kebiasaan baru yang sudah terbentuk tersebut perlu dijaga dan dipertahankan guna mencapai tujuan new normal. Jika kesemuanya itu telah dijalankan, bukan tidak mungkin penerapan New Normal akan berhasil.

Menurut Szlezak, Reeves, dan Swartz (2020), krisis ekonomi sebagai dampak dari pandemi Covid-19 akan menghasilkan pola pemulihan ekonomi berbeda antarnegara.

Umumnya pola pemulihan tersebut terbagi menjadi empat yakni, pertama, bentuk V (V-shape), di mana pandemi menyebabkan perekonomian anjlok yang ditandai dengan pertumbuhan ekonomi menurun tajam dan pengangguran melonjak, tapi dalam waktu singkat bisa pulih kembali pada posisi sebelum krisis.

Sedangkan, kedua, bentuk U, di mana pertumbuhan turun drastis dan pengangguran meningkat. Tingkat pertumbuhan ekonomi untuk pulih membutuhkan waktu lama, kesenjangan antara jalur pertumbuhan ekonomi lama dan baru tetap besar, yang menunjukkan kerusakan pada sisi suplai ekonomi, output yang hilang besar dan membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang untuk kembali pada kondisi sebelum krisis.

Kemudian, ketiga, bentuk L sebagai bentuk yang terburuk. Di mana, tidak hanya pertumbuhan ekonomi negara tidak pernah memulihkan jalur output sebelumnya, tetapi juga tingkat pertumbuhannya menurun.
Jarak antara jalur lama dan baru dari pertumbuhan semakin lebar, dengan output yang hilang terus berlanjut. Ini berarti krisis telah meninggalkan kerusakan struktural permanen pada sisi suplai. Pola atau bentuk L ini adalah bentuk yang paling merusak akibat dari krisis.

Dan keempat, bentuk W, multiple, atau perulangan pola. Kondisi ini bisa terjadi karena adanya outbreak gelombang kedua dan seterusnya. Bentuk ini juga tergolong bentuk buruk dari proses pemulihan ekonomi suatu negara.

Ada 56 persen sektor koperasi dan UKM di Jatim yang terdampak akibat pandemi Covid-19. Terutama sektor UKM makanan dan minuman yang terdampak parah, karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) beberapa waktu lalu. Ini karena tidak bisa makan di tempat, melainkan harus take away atau dibawa pulang.

“Dari 56 persen yang terdampak, sektor makanan dan minuman yang paling terdampak. Ini karena sempat tidak bisa berjualan, kemudian ada kebijakan harus dibungkus, padahal masyarakat ingin makan di tempat,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jatim, Mas Purnomo Hadi kepada wartawan di kantornya, Jumat (25/9/2020).

Pihaknya mendorong pada para pelaku usaha untuk memanfaatkan sistem digital dalam upaya peningkatan penjualan di tengah pandemi Covid-19. Ini karena banyak pengusaha yang sulit mendapatkan bahan baku. Di sisi lain, juga sulit mendapat permodalan. “Karena itu, pada saat awal kami yang mencarikan bahan baku agar kesulitan pelaku UKM bisa terpenuhi,” ungkapnya.

Setelah itu, kemudian ia mendorong para asosiasi pengusaha maupun langsung pada para pelaku usaha untuk mulai menyasar penjualan secara digital melalui online atau market place.

Dinkop UKM sendiri saat ini sudah memiliki kerja sama dengan beberapa platform yang itu dapat menunjang penjualan. “Kemudian, kita punya Instagram dan channel Youtube untuk meningkatkan penjualan, karena misi saya adalah meningkatkan UKM berbasis syariah dan digitalisasi,” tegasnya.

Bahkan, ia secara khusus juga membuat group WhatsApp bisnis agar para pengusaha bisa mempromosikan produk melalui group tersebut. Di sisi lain, Dinkop UKM Jatim juga tengah merencanakan membuat Pojok UKM di kantor-kantor organisasi perangkat daerah (OPD) yang itu memang ramai pengunjung. Sehingga, ketika ada tamu dari luar daerah dapat membeli barang yang telah dipamerkan. “Yang sudah ada Pojok UKM di Sekretariat DPRD Jatim dan BPSDM Jatim. OPD lainnya seperti Bapenda segera menyusul,” pungkasnya.

UMKM kini menjadi perhatian banyak pihak, termasuk juga Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa yang ingin UMKM bangkit di masa pandemi corona.

“Saya yakin, sektor UMKM ini yang akan bisa memberikan daya dukung terhadap bangkitnya perekonomian di Jatim,” ungkapnya.

Khofifah mengatakan, pemulihan ekonomi di masa pandemi ini harus mengikutsertakan peran UMKM secara lebih dominan yang telah terbukti sebagai backbone perekonomian di Jatim. Terlebih, kontribusi UMKM di Jatim dibuktikan dengan 54 persen dari PDRB Jatim.

Ditambahkan, Pemprov Jatim juga menyiapkan anggaran sekitar Rp 454,26 milliar yang digunakan sebagai penguatan kelembagaan, fasilitasi pemasaran, penguatan akses pembiayaan, penguatan produksi restrukturisasi usaha serta penguatan SDM KUKM.

Khofifah memaparkan, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Populasi UMKM Jatim menurut sensus ekonomi tahun 2016 dan survey pertanian antar sensus 2018 meningkat sebesar 9,78 juta.
Lebih lanjut disampaikan, bahwa Pemprov Jatim memiliki banyak program dimana salah satunya Jatim Puspa. Jatim Puspa ini nantinya yang akan membantu penanganan Covid-19 lewat pemberdayaan BUMDes dan usaha ekonomi masyarakat berbasis perempuan kepala keluarga.

“Juga terdapat bantuan yang berasal dari pemerintah pusat dan provinsi seperti permodalan BUMDes, bantuan Presiden produktif usaha mikro hingga fasilitasi standarisasi produk UMKM dan sebagainya,” tandas orang nomor satu di Pemprov Jatim ini.

Selain itu, Khofifah juga menyiapkan beberapa strategi antara lain Program Keluarga Harapan (PKH) plus dengan sasaran lansia di 10 kabupaten kantong kemiskinan. Utamanya, untuk menjaga basis konsumsi masyarakat guna memperkokoh pondasi perekonomian Jawa Timur.
Di masa pandemi Covid-19 ini, Pemprov Jatim juga menyiapkan program suplemen Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

“Jadi, sebesar 50 persen BPNT dari pusat kita tambahkan dari total Rp 200.00 ditambahkan 50 persen menjadi Rp. 100.000 sehingga total menjadi Rp 300.000 kepada seluruh penerima BPNT kepada penerima berbasis kelurahan,” terangnya.

Dalam memberikan ketahanan pangan di Jatim, Khofifah berkolaborasi dengan banyak elemen untuk mengoptimalkan peran lumbung pangan Jatim yang mampu menjangkau hingga di 38 kabupaten dan kota.

Pemprov Jatim terus membuktikan diri sebagai provinsi terdepan di Indonesia. Pemprov Jatim melalui Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jatim memfasilitasi UKM dari Tulungagung, Tuban dan Sidoarjo melepas komoditi ekspor ke Jerman dan Inggris.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak didampingi Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jatim, Mas Purnomo Hadi melepas komoditi Ekspor UKM di Terminal Peti Kemas Tanjung Perak Surabaya, Kamis (8/10/2020).

Ia mengatakan, bahwa ekspor ini merupakan salah satu bentuk daya dukung penguatan ekonomi di tengah adanya kontraksi ekonomi yang terjadi di Indonesia, khususnya Jawa Timur.

Emil menyebut, bahwa pelepasan ekspor ke Jerman dan Inggris diharapkan dapat menjaga kesinambungan ekonomi di sektor logistik di Indonesia Bagian Timur sekaligus dapat membuka pintu masuk bagi ekspor komoditi lain di negara eropa.

“Semoga ekspor ini dapat menjaga kesinambungan logistik di Jatim dan Indonesia Timur. Kalau hari ini kita bisa memulai ekspor ke Jerman dan Inggris, Insya Allah akan menjadi pintu masuk ekspor ke negara eropa lainnya,” ungkapnya.

Kegiatan ekspor di tengah kontraksi ekonomi ini, dijelaskan Emil, dapat memberikan kontribusi sebagai sumber devisa bagi negara juga dapat memberikan kontribusi bagi ekonomi regional.

Ke depan, Emil berpesan kepada para UKM untuk senantiasa menjaga produknya agar tetap diminati oleh pasar eropa. Pemerintah akan memberikan dukungan sekaligus fasilitasi agar produknya bisa diterima oleh pasar mancanegara melalui kegiatan ekspor seperti ini.

“Saya merasa optimistis UMKM Jatim terus tumbuh menjadi tulang pungung ekonomi. Saya juga berharap agar Jatim terus menjadi Hub bagi Indonesia Bagian Timur,” tegasnya.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jatim, Mas Purnomo Hadi menjelaskan, bahwa pelepasan ekspor ke Jerman dan Inggris terdiri dari beberapa produk yang sangat diminati oleh Eropa. Salah satunya, yakni CV Berkat Batu Nusantara UKM asal Kabupaten Tulungagung yang melepas satu kontainer produk bahan dari lime stone seberat 20,2 ton dengan nilai transaksi mencapai 7.310 dollar AS.

Serta, UKM asal Sidoarjo dengan satu kontainer produk bahan dari gravel seberat 20 ton ke Inggris dengan nilai transaksi mencapai 3.500 dollar AS.

Selanjutnya, untuk UD Karya Indonesia-Petrified Word Art Craft UKM asal Tulungaggung juga melepas satu kontainer produk bahan dari river stone sink seberat 14 dan satu kontainer wastafel dari bahan batu kali dan kayu fosil sebanyak 480 pcs seberat 25 ton dengan nilai transaksi 14.800 dollar AS.

“Kami juga laporkan, bahwa kegiatan ekspor dari Jatim lewat UKM bekerjasama dengan perusahaan asal Jerman Dee Living memiliki nilai transaksi 160.000 dollar AS dari Januari-September 2020 sebanyak 46 kontainer,” imbuhnya.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim Sri Untari Bisowarno mengatakan, sebagai daerah penyangga ekonomi Indonesia bagian timur, Provinsi Jatim harus lebih maju dan sejahtera.

Untari mengatakan, sebagai provinsi besar juga penyangga ekonomi Indonesia bagian timur, Provinsi Jatim tentu memiliki peranan yang sangat strategis untuk kemajuan Indonesia.

“Penduduk Jatim hampir 15 persen dari penduduk Indonesia, sehingga jika Jawa Timur maju dan sejahtera, akan menyumbang kemajuan untuk Indonesia sebesar 15 persen itu,” kata Untari.

Di masa pandemi Covid-19, lanjut Untari, semua ekonomi di seluruh daerah terkontraksi, tak terkecuali di Jawa Timur. Namun dengan kultur masyarakatnya yang egaliter dan terbuka, sebutnya, membuat Jawa Timur cepat dan mudah beradaptasi dengan banyak situasi.

“Kultur masyarakat Jatim yang terbuka dan egaliter menjadikan Jatim cepat beradaptasi dengan banyak situasi, sehingga kami tetap optimis Jatim bisa segera bangkit dan maju untuk menyongsong masa depan dengan penuh harapan,” jelas perempuan yang juga menjabat Sekretaris DPD PDI Perjuangan Jawa Timur ini.

Terkait Hari Jadi ke-75 Provinsi Jatim, pihaknya mengapresiasi atas keberhasilan Pemprov Jawa Timur menangani pandemi Covid-19. Pihaknya juga memberikan catatan untuk Gubernur Jatim sebagai bahan evaluasi.

Berikut catatan dari Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim:

1. Pemerintah Provinsi Jawa Timur Perlu melakukan re-desain RPJMD Jawa Timur yang pernah disusun di awal terpilihnya Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak karena kondisi dan situasi pandemi mempengaruhi semua aspek kehidupan.

2. Fraksi PDI Perjuangan DPRD Provinsi Jawa Timur memberikan Apresiasi pada pemerintah Provinsi Jatim yang telah berhasil menangani Covid-19 bersama semua Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota seluruh Jawa Timur, sehingga mampu melampaui masa-masa yang sulit dan saat ini menuju Provinsi Bebas Zona Merah Covid-19.

3. Pemerintah Provinsi Jawa Timur bisa lebih memperkuat sinergi antar OPD agar bisa secara integral menjemput optimisme baru.

Tak lupa, politisi yang juga Ketua Umum Dekopin ini mengucapkan selamat Hari Jadi ke-75 untuk Provinsi Jatim yang begitu dicintainya.

Dia optimistis, dengan semangat gotong royong, Jawa Timur akan mampu melewati masa-masa yang sulit.

“Dirgahayu Provinsi Jatim, dengan Nawa Bhakti Satya kita songsong harapan yang lebih optimis dan untuk Jawa Timur maju, berbudaya, berkepribadian, bergotong royong, untuk melewati masa-masa pandemi dengan kekuatan kebersamaan. Merdeka!” ucapnya.

Lumbung Pangan

Program inisiasi dari Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa yakni Lumbung Pangan Jatim terbukti telah mampu menjadi kontrol inflasi daerah. Stabilitas harga komoditas strategis harus dijaga, khususnya pada masa pandemi Covid-19.

Sejak digagas April lalu, adanya Lumbung Pangan Jatim telah mampu menjadi kontrol inflasi seperti saat hari besar keagamaan Idul Fitri, berdasarkan rilis data BPS Jatim, inflasi bisa terkontrol dengan sangat baik.

Kepala Biro Administrasi Perekonomian Setdaprov Jatim, Tiat Sutiarti Suwardi, Rabu (11/11/2020) mengatakan, bahwa layanan ongkir gratis Lumbung pangan Jatim telah menjangkau 38 kabupaten/kota dengan pusatnya berada di Kota Surabaya.

Kota Surabaya dipilih sebagai pusat kegiatan Lumbung Pangan Jatim karena daerah tersebut sebagai wilayah dengan bobot inflasi terbesar bagi perhitungan inflasi Jatim maupun perhitungan inflasi nasional.

“Stabilitas harga komoditas strategis harus dijaga (khususnya pada masa pandemi Covid-19), karena komoditas strategis berkontribusi terhadap garis kemiskinan. Jika harga naik, maka garis kemiskinan naik dan berdampak pada naiknya masyarakat miskin. Maka, program inisiasi Ibu Gubernur ini Alhamdulillah telah memberikan kontribusi besar dalam kontrol inflasi daerah,” kata Tiat.

Misalnya saja beras, komoditas ini berkontribusi 25,97 persen Garis Kemiskinan Desa dan 20,59 persen Garis Kemiskinan Kota. Kemudian, telur ayam ras berkontribusi 3,53 persen Garis Kemiskinan Desa dan 4,26 persen Garis Kemiskinan Kota, lalu Gula berkontribusi 2,89 persen Garis Kemiskinan Desa dan 2,06 persen Garis Kemiskinan Kota.

Selanjutnya, Daging Ayam Ras berkontribusi 2,28 persen Garis Kemiskinan Desa dan 3,83 persen Garis Kemiskinan Kota, dan Mie Instan berkontribusi 2,16 persen Garis Kemiskinan Desa dan 2,40 persen Garis Kemiskinan Kota, serta berbagai komoditas strategis lain.

“Semua komoditas tersebut dijual di Lumbung Pangan Jatim dengan harga di bawah harga pasar dan tentunya gratis ongkir, ini yang menjadi kontrol inflasi. Dimana masyarakat tak khawatir dengan suplai komoditas, dan tidak khawatir karena harga barang yang tidak bergejolak bahkan justru di bawah harga pasar,” kata Tiat.

Oleh sebab itu, ia menegaskan bahwa Lumbung Pangan Jatim merupakan bagian dari Sistem Logistik Daerah yang sedang dikembangkan untuk menjaga stabilitas harga komoditas strategis di Jawa Timur.

Dengan mengoptimalkan teknologi informasi, Lumbung Pangan Jatim mampu menjadi mediator antara produsen yang pada saat pandemi terpuruk karena oversupply, dengan konsumen serta memutar roda perekonomian logistik ojek online, kantor pos, yang terdampak pemberlakuan PSBB.

Lantaran program Lumbung Pangan Jatim direncanakan akan berakhir bulan Desember, saat ini dikatakan Tiat sedang dirapatkan dan dievaluasi untuk kelanjutan programnya.

“Kita masih evaluasi, dan menunggu arahan gubernur. Namun, kita akan memulai untuk menyiapkan sistem logistik daerah. Dengan gubernur yang telah menugaskan PT JGU untuk menjadi intermediatory komoditas strategis, dan dimulai dengan komoditas telur dan daging ayam,” tutur Tiat.

Di sisi lain, Ketua Pelaksana Lumbung Pangan Jatim, Mirza Muttaqien mengatakan bahwa sejak dibuka hingga saat ini, total penjualan Lumbung Pangan Jatim telah mencatat angka Rp 20,3 miliar.

“Total nilai penjualan via daring Rp 9,5 miliar, dan penjualan di outlet di Jatim Expo mencapai Rp 10,7 miliar,” jelas Mirza.

Dengan total volume pemesanan sebanyak 137.172 kali, yang terdiri dari volume pemesanan outlet di Jatim Expo sebanyak 71.440 kali, dan volume pemesanan via daring sebesar 65.732 kali.

“Komoditas yang paling laku adalah gula pasir, minyak goreng, mie instan, telur, beras medium, beras premium, ayam frozen, bawang putih dan ikan fillet dori,” pungkas Mirza.

Pariwisata Jatim Bangkit

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim menggelar Familiarization Trip (Fam Trip) dengan menerapkan protokol Covid-19. Puluhan media dan penggiat media sosial (medsos) ikut dalam kegiatan selama 3 hari di Banyuwangi ini, mulai 13-15 November 2020.

Ada beberapa titik spot wisata yang dikunjungi, di antaranya adalah Pantai Pulau Merah, Hutan de-djawatan, Sendang Sruni dan Bangsring Underwater.

Protokol tersebut ditetapkan dalam panduan yang meliputi panduan kebersihan, keamanan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan (cleanless, health, safety and environmental sustainability/CHSE).

Program ini bertujuan untuk mengenalkan tempat wisata sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan ditengah pandemi Covid-19. Sekadar diketahui, pariwisata merupakan salah satu sektor yang paling terdampak atas pandemi virus asal Wuhan, China tersebut.

Kepala Disbudpar Jatim, Sinarto mengatakan, sebagian besar destinasi wisata yang sudah beroperasi adalah wisata alam. Sementara wisata buatan, masih sedikit yang buka. Kalaupun beroperasi akan menyesuaikan dengan kebijakan satuan tugas penanganan Covid-19.

“Kami terus melakukan evaluasi dan pengawasan. Jika ada wisata yang tidak menerapkan protokol, kami tak segan untuk menutup dan memberikan arahan,” katanya.

Diawali di kantor Disbudpar Jatim di Jalan Wisata Menanggal Surabaya sebagai titik awal pemberangkatan. Rombongan lantas melakukan perjalanan ke destinasi wisata pertama. Yakni Pulau Merah Banyuwangi. Destinasi wisata pantai ini terletak di Desa Sumber Agung, Kecamatan Pesanggaran Untuk menuju pantai Banyuwangi ini wisatawan bisa berkendara selama tiga jam lamanya dari pusat kota Banyuwangi. Jika dari Surabaya membutuhkan waktu sembilan jam jalur darat lewat Kabupaten Jember.

Pulau Merah Banyuwangi sebelumnya dikenal sebagai Pantai Ringin Pintu. Setelah itu dikenal sebagai Pulau Merah, karena tanah pada bukit di bibir pantai yang berwarna kemerahan. Pulau ini identik dengan bukit kecil yang berada di dekat bibir pantai. Bila air tengah surut, maka para pengunjung dapat berjalan kaki dan mengunjungi bukit tersebut.

“Pengunjung yang masuk wajib terapkan protokol Covid-19. Kalau tidak pakai masker, kami larang masuk,” kata perwakilan pengelola Pantai Pulau Merah, Yogi Turnando.

Pantai Pulau Merah terbentang sepanjang 3 kilometer (km). Ombak di kawasan pantai cukup menantang dan menjadi salah satu tempat ideal untuk penggemar olahraga selancar. Pulau Merah pun kerap menjadi tuan rumah kompetisi selancar dalam beberapa tahun terakhir. Pesona yang dimiliki Pantai Merah terbilang sangat indah, terlebih bukit-bukit hijau nan cantik mengelilingi perairan pantai ini.

“Dalam dua bulan ini pengunjung pantai Pulau Merah sudah mulai pulih. Rata-rata wisatawan domestik dari sekitaran Banyuwangi,” tandas Yogi.

Pada hari kedua, Sabtu (14/11/2020), rombongan melanjutkan kunjungan ke obyek wisata de-djawatan. de-djawatan merupakan hutan yang berada di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring. Hutan ini dipenuhi pepohonan trembesi yang besar dan mirip Hutan Fangorn dalam film Lord of The Rings.

Hal itulah yang membuat de-djawatan banyak dikunjungi wisatawan. “Pengunjung ke sini wajib menerapkan protokol kesehatan. Pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak,” kata Manajer de-djawatan, Bagus Joko.

Di hutan wisata ini, wisatawan dapat berjalan santai dengan mengikuti jalan setapak mengelilingi hutan. Pengunjung juga dapat duduk-duduk atau berpiknik, sambil menikmati udara yang segar dan suasana asri. Jika ingin mendapatkan suasana hutan yang tenang, pastikan untuk mengunjungi hutan ini pada saat hari biasa dan hindari masa-masa liburan panjang. Tiket masuk hanya Rp 6.000.

“Sekarang jumlah pengunjung sudah mulai normal. Untuk weekday sekitar 300-400 orang. Kalau weekend bisa mencapai seribu lebih. Ada 805 pohon berusia 100-150 tahun di lahan seluas 13 hektare di sini yang bisa dinikmati. Kami sempat tutup saat pandemi, mulai 12 Maret sampai 21 Juli 2020,” katanya.

Jangan Berhenti Berkreasi

East Java Fashion Harmony 2020 digelar dengan berlatar belakang Pantai So Long Banyuwangi, Sabtu (14/11/2020), fashion show bertema Batik Gringsing ini dihelat dengan menyulap kawasan Villa So Long menjadi karpet catwalk para model.

Tema Batik Gringsing yang diangkat dalam East Java Fashion Harmony bukan tanpa alasan. Namun, tema ini sengaja diangkat guna mengangkat filosofi batik gringsing sebagai wujud doa kemanusiaan untuk dunia dari Jawa Timur, di tengah pandemi.

Filosofi ini diambil dari kebiasaan pembatik gringsing yang kerap membatik dengan membacakan kalimat doa.

Kekuatan sebuah doa yang disematkan dalam sebuah karya seni berupa batik menjadi wujud ikatan kuat perajin pada pemiliknya, bahkan pada orang lain yang menggunakannya nanti.

Batik gringsing bermakna ‘gring’ yang berarti sakit dan ‘sing’ yang berarti jangan. Maka, ‘gringsing’ memiliki makna jangan sakit.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa saat hadir dalam East Java Fashion Harmony 2020 mengatakan bahwa gelaran ini sengaja dilakukan tidak di dalam gedung, melainkan di ruang terbuka atau outdoor.

Hal ini dilakukan karena saat ini masih suasana adaptasi baru pandemi Covid-19, dan dibutuhkan untuk diselenggarakan di tempat yang aman dari penyebaran Covid-19.

East Java Fashion Harmony 2020 ini menelusuri jejak Batik Gringsing Jawa Timur di sembilan daerah. Yaitu seperti Sidoarjo, Mojokerto, Lamongan, Tuban, Tulungagung, Trengalek, Pamekasan, Bangkalan dan Banyuwangi.

Total ada 12 desainer dari Jawa Timur yang berpartisipasi dalam East Java Fashion Harmony 2020 yang membawakan rancangan desain dengan tema yang berbeda-beda dan filosofi masing-masing.

Pasalnya, batik Jawa Timur bukan hanya menampilkan keunggulan dan keelokan motif yang beraneka ragam. Namun, juga menceritakan dan melestarikan nilai-nilai leluhur. Yang kemudian dinarasikan di atas canting oleh para perajin batik tulis.

“Banyak di antara kita yang harus kembali memanggil memori bahwa berbagai seni, kearifan lokal banyak dituliskan di atas canting oleh para pembatik. Termasuk para kreator yang memungkinkan bersinergi dengan desainer dan produsen batik di Jatim,” kata Khofifah.

Mantan Menteri Sosial ini menegaskan bahwa penyelenggaraan East Java Fashion Harmony 2020 yang dihelat outdoor ini juga menjadi bentuk kepatuhan Pemprov Jatim terhadap protokol kesehatan.

Dimana protokol kesehatan ditegakkan ketat. Pengunjung dan juga partisipan seluruhnya harus non reaktif dalam rapid test dan dipastikan sehat. Semua di lokasi fashion show juga harus bermasker atau menggunakan face shield.

“Ini win win profit yang kita coba berikan. Bahwa, kreatifivitas dan inovasi tetap mendapatkan ruang saat pandemi Covid-19. Mudah-mudahan akan memberikan multiplier effect terhadap perekonomian kita, terutama bagi para perajin batik gringsing di Jatim. Selama pandemi Covid-19, aktivitas sempat tertinggal. Namun, bukan berarti kreativitas juga ikut terhenti di tengah pandemi,” tegasnya.

Khofifah mengatakan, justru dengan berkreativitas khususnya batik saat masa pandemi Covid-19, tetap mendapatkan ruang. Asalkan, semuanya dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat.

East Java Fashion Harmony turut dihadiri Puteri Indonesia 2020, Rr Ayu Maulida sebagai model utama. Selain itu juga turut didampingi sejumlah model lokal. Gelaran ini menampilkan kreasi dan inovasi dari 12 perajin, desainer dan kreator batik. Semoga pandemi ini segera berakhir dan ekonomi sosial Jatim yang sudah bangkit kembali normal. Aamiin. [tok/but]





Apa Reaksi Anda?

Komentar