Sampang (beritajatim.com)– Kabupaten Sampang kembali menghadapi ancaman banjir yang telah menjadi masalah serius bagi masyarakat setempat. Curah hujan yang tinggi kerap menyebabkan banjir besar, seperti yang terjadi pada 13 Maret 2024. Selama dua hari, hujan deras mengguyur wilayah Sampang, menyebabkan Sungai Kalikamuning meluap dan merendam berbagai wilayah.
Dampak dari banjir ini sangat dirasakan oleh warga, baik di perdesaan maupun perkotaan. Air yang menggenangi Kabupaten Sampang bahkan bisa mencapai ketinggian satu meter, merendam belasan desa dan kelurahan di empat kecamatan, yaitu Kecamatan Tambelangan, Jrengik, Sampang, dan Torjun.
Kasus banjir bukanlah hal baru bagi masyarakat Sampang. Pada 1 Januari 2023, luapan Sungai Kalikamuning menyebabkan banjir setinggi 30 hingga 50 cm di jalan raya, serta 1 hingga 1,5 meter di area pemukiman warga. Insiden tersebut merenggut satu korban jiwa, yang ditemukan mengapung di dalam rumahnya.
Menjelang Pilkada Bupati (Pilbup) Sampang, penanganan banjir menjadi salah satu isu utama yang disorot oleh masyarakat. Mereka berharap pemimpin baru memiliki komitmen yang kuat dalam mengatasi masalah ini, yang telah lama mengganggu aktivitas warga.
Arman Purwana, salah satu warga Sampang, menyatakan bahwa masalah banjir telah ada sejak lama. “Sejak saya lahir, banjir selalu menjadi masalah utama di Sampang. Setiap bupati belum bisa mengatasi banjir, termasuk H. Idi (Slamet Junaidi) selama menjabat juga belum berhasil menanggulangi masalah ini,” ujarnya.
Pada awal Desember 2020, Bupati Sampang, Slamet Junaidi, sempat melakukan inspeksi ke Sungai Kalikamuning, di mana ditemukan pompa air yang rusak. Saat itu, Slamet Junaidi memprioritaskan pembenahan pompa air ini. Namun, hingga kini, banjir masih menjadi masalah serius yang belum terselesaikan di Sampang.
Selain banjir, masalah pengadaan air bersih melalui PDAM Sampang juga menjadi sorotan. Meski pada tahun 2022 Pemkab Sampang di bawah kepemimpinan Slamet Junaidi berhutang sebesar Rp 60 miliar kepada Bank Dunia untuk memperbaiki layanan, hingga kini pelanggan PDAM masih menghadapi masalah air yang tersendat. Air hanya mengalir selama dua hari, sementara empat hari sisanya air mati.
Dengan berbagai permasalahan yang ada, masyarakat Sampang berharap adanya perubahan signifikan dalam penanganan banjir dan pengadaan air bersih di masa mendatang. Banjir yang berulang kali terjadi telah menunjukkan bahwa solusi yang ada saat ini masih jauh dari memadai. [sar/beq]






