Surabaya (beritajatim.com) – Pernahkah mendengar istilah Vulnerable? Ini merupakan sikap terbuka atau perwujudan diri sendiri saat berada pada situasi tak pasti. Namn, sikap ini berbeda dengan lemah. Tentu saja, dalam sebuah hubungan, kejujuran merupakan hal penting dalam membangun ikatan dengan pasangan.
Sikap vulnerable memang berkaitan erat dengan rasa takut hingga malu. Hanya saja ada sisi lain yang muncul seperti rasa cinta, empati, bahagia, saling memiliki hingga kreativitas.
Biasanya saat situasi yang tak sesuai ekspektasi terjadi seseorang seringkali menghindari pembicaraan. Tidak sedikit dari mereka kemungkinan menunjukkan sikap denial atau berpura-pura sanggup menghadapinya.
Sebenarnya, bukan masalah ketika sedang merasa vulnerable. Sikap ini bukanlah tanda kelemahan, tapi menandakan keberanian seseorang bersikap jujur.
Jika dihubungkan dengan pasangan, ini manfaat menunjukkan sikap vulnerable:
Rasa Percaya yang Terbangun dengan Baik
Tanpa kita sadari, cara membangun kepercayaan suatu hubungan adalah dengan bersikap vulnerable. Saat kita bisa bicara secara terbuka mengenai sesuatu yang kita rasakan, butuhkan dan harapkan. Tentu saja ini menjadi peluang bagi pasangan memberikan respon sehingga perlahan kepercayaan satu sama lain terbangun.
Meskipun memang tidak selamanya keterbukaan terasa nyaman. Bahkan ada kalanya lebih mudah menutupi perasaan dan menganggap semua baik-baik saja. Tapi, konsekuensinya tentu lebih besar karena memicu jarak.
Membangun kedekatan dengan pasangan
Saat kepercayaan sudah terbangun, maka lebih mudah antara pihak dalam menciptakan hubungan dalam bekerja sama. Selain itu, setiap individu dapat merasa nyaman menunjukkan perasaan tanpa takut, malu atau ditolak. Justru mereka saling mendukung.
Dari situlah muncul kedekatan dengan pasangan menjadi sangat kuat. Saat situasi tak sesuai harapan maka akan saling menguatkan. Tentu saja, menghadapi konflik menjadi lebih mudah karena tidak dilakukan sendiri.
[berita-terkait number=”4″ tag=”hubungan”]
Proses Pengenalan Terhadap Diri Sendiri
Sesuatu yang dapat dikatakan berani adalah memiliki sikap terbuka terhadap emosi. Itulah yang membuat kita dapat mengenal diri sendiri. Sama halnya dengan sikap vulnerable, seseorang menjadi lebih belajar menghargai dirinya saat keadaan tidak berjalan sesuai ekspektasi.
Dengan adanya sikap terbuka terhadap kemampuan dirinya artinya mereka berani menghadapi situasi yang tidak nyaman. Ini bukan berarti mereka menutup diri atau mengelak dari realita, namun justru mengajarkan tetap tangguh dan percaya diri. Saat sudah terbangun karakter semacam ini, seseorang lebih mudah menjalani hubungan dengan positif. (PRD/ian)






