Pasuruan (beritajatim.com) – Polimik pidato “asal jeplak” Kepala Dinas Pendidikan (Kadispendik) Kabupaten Pasuruan, Hasbullah menuaikan gelombang kritik. Video viral di media sosial (medsos) yang menebarkan ancaman kepada wartawan dan LSM dihadapan guru dan Kepsek yang menggangunya akan mati.
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pasuruan Sudiono Fauzan menyayangkan pidato yang disampaikan Kadispendik, Hasbullah. Sudiono mengatakan pidato tersebut tidak pantas diucapkan oleh seorang pejabat.
“Tidak sepantasnya seorang pejabat publik berpidato seperti itu. Apalagi pidato tersebut dilakukan diruang publik,” ujar mas Dion sapaanya.
Politisi PKB meminta Bupati Pasuruan Irsyad Yusuf mengevaluasi saudara Hasbullah. “Saya pribadi, sangat prihatin dan menyayangkan statement Kadispendik yang baru dilantik itu,” imbuhnya.
Menurutnya, pidato yang disampaikan Kadispendik, Hasbullah dihadapan guru dan Kepsek sangat tidak pantas. Mengingat dia (Hasbullah Kadispendik) sebagai Kepala OPD kaum berpendidikan, intelektual dan akademisi.
“Harusnya dalam tutur kata dan prilaku mencontohkan seorang pemimpin bukan malah sebaliknya. Saya kira, omongan itu tidak pantas keluar dari mulut seorang Kepala Dinas Pendidikan. Pantasnya, omongan itu keluar dari mulut kepala preman, karena tidak bermoral dan tidak intelektual,” sambumgnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”kadispendik-ancam-wartawan”]
Menurutnya, seorang kepala dinas pendidikan menyampaikan pidato yang bisa memberikan uswah hasanah, budi pekerti luhur, baik sikap, perilaku, ucapan yang santun, sejuk dan mengayomi. Pada pidato tersebut hasbullah tidak mencerminkan sebagai guru yang dimana guru sebagaimana mestinya digugu dan ditiru.
“Guru itu digugu dan ditiru. Jadi, saya kira pidato yang disampaikan Hasbullah tidak bisa digugu dan ditiru. Saya akan meminta Bupati untuk mengevaluasi kejadian ini. Tidak bermoral dan beretika sekali,” tambahnya.
Dalam pidatonya itu, pria yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) itu memberikan pernyataan yang sangat memprihatinkan dan tidak etis. Hasbullah meminta perwakilan kepala sekolah agar tidak takut kepada siapapun yang mengganggu kepemimpinannya, termasuk teman – teman LSM atau wartawan.
“Katek ganggu kepemimpinanku, ganggu sekolahan ati-ati. Mati awakmu ngkok yo! kepala sekolah semuanya ga usah takut sama LSM, sama siapa, wartawan. ini perwakilan e iki ya. Iki nyoting, grup golongan wartawan LSM sebarin ya. Ojo sampek ganggu dadi mati.” (ada/ted)






