Advertorial

Wali Kota Mojokerto Menerima Gelar Kehormatan ‘Sentana Dalem’ dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Caption : Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari saat menerima gelar kehormatan 'Sentana Dalem' dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. [Foto : istimewa]

Mojokerto (Beritajatim.com) – Dinilai telah melestarikan warisan leluhur Majapahit, Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari memperoleh gelar kehormatan ‘Sentana Dalem’ dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Gelar ini diserahkan oleh SISKS Pakoe Boewono XIII dalam rangkaian kegiatan Hajad Dalem Garebeg Mulud Alip 1955/2021 M.

Penyerahan gelar disaksikan langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Boewono XIII di Kagungan Dalem Sasana Handrawina Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada, Sabtu (2/10/2021). Ning Ita (panggilan akrab, red), kini menyandang sebutan ‘Kanjeng Mas Ayu Tumenggung (KMAT) Hj Ika Puspitasari Arumingtyas, SE’.

Gelar ini diberikan kepada Ning Ita atas segudang prestasi dalam memajukan Kota Mojokerto. Diantaranya melalui pemberdayaan masyarakat, pendidikan, ekonomi kreatif, infrastruktur dan membangkitkan seni, budaya dan tradisi. Terlebih, selama menjabat sebagai kepala daerah tak pernah berhenti dalam melestarikan sejarah peninggalan Kerajaan Majapahit.

Usai penobatan, Ning Ita mengaku kaget dan tidak menyangka akan mendapat gelar tersebut. Sebab, ia merasa masih memiliki banyak kekurangan dalam mengemban tugas sebagai Kepala Daerah. Kendati demikian, Ning Ita menyampaikan rasa terima kasih karena sudah dipercaya mengemban amanah dari Karaton Surakarta.

“Terima kasih banyak. Matur nuwun sanget saya diberikan gelar dari Karaton Surakarta, meskipun itu tidak pernah ada dalam bayangan saya. Semoga dengan gelar ini, bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Kota Mojokerto,” ujar Wali Kota perempuan pertama di Kota Mojokerto dalam keterangan tertulis.

Menurutnya, pemberian gelar Kanjeng Ayu dari Karaton Surakarta ini bukan tanpa alasan. Ia dinilai berhasil membangun Kota Mojokerto lebih maju dengan tetap melestarikan budaya leluhur Majapahit. Ke depan, ia mengaku akan berusaha lebih baik lagi dalam membangun Kota Mojokerto dan terus melestarikan budaya Kerajaan Majapahit.

“Pasti bukan tanpa alasan saya dipercaya untuk mendapatkan ini tapi saya sungguh sangat kaget dan saya sangat takjub luar biasa. Semoga dengan gelar ini, bisa menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga Kota Mojokerto. Saya akan menggali terus potensi-potensi budaya dan sejarah yang ditinggalkan leluhur kita, yakni Kerajaan Majapahit,” katanya.

Di kesempatan berbeda, Kanjeng Pangeran Aryo Eko Yudi Prastowo Adi Nagoro selaku Pangeran Sentono dan Pangarso Wilayah Jawa Timur dari Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat mengatakan, Ning Ita tersambung nasab darah ke atas dengan Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan yang kedua berdasarkan prestasi kinerja, Ning Ita memiliki segudang prestasi.

“Sehingga Sinuwun Dalam (SISKS Pakoe Boewono XIII, red) memberikan gelar dengan mengambil keputusan dari berbagai aspek. Dalam bahasa Jawa, Ning Ita masih memiliki trah kusuma rembesing madu (keturunan orang-orang terpilih, red), maka akan kembali keasalnya yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Jadi Ning Ita adalah Sentono Dalem yaitu keluarga Raja. Berbeda dengan abdi dalem yaitu pegawai kerajaan,” jelasnya.

Dengan demikian maksud dan tujuan Sinuwun Pakoe Boewono XIII menganugerahkan gelar tersebut adalah jika sudah trah kusumo rembesing madu maka masih tetap mengemban amanah dengan menguri-uri budaya luhur dengan tidak meninggalkan adat istiadat sebagai orang jawa. Ditambah sudah menjadi kerabat Karaton Kasunanan Hadiningrat.

“Yang kedua dalam mengemban amanah sebagai pemimpin harus memegang teguh filsafat dan falsafah budaya jawa yang luhur. Contoh dengan menerapkan Hasta brata sehingga berimplikasi kepada kemakmuran daerah yang dipimpinnya. Semoga ini menjadi suri tauladan dan penyemangat bagi Ning Ita Kanjeng Mas Ayu Tumenggung agar berkiprah lebih baik dan hebat lagi dalam mengemban amanah pemerintaham dan dari Sinuwun Pakoe Boewono XIII sebagai Sentono Dalem,” harapnya.

Penganugerahan gelar kehormatan ini dikemas dalam rangkaian kegiatan ‘Hajad Dalem Garebeg Mulud Alip 1955/2021 M’. Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat selalu memberikan ‘Gelar Kehormatan’ kepada berbagai pihak yang dianggap pantas untuk menerimanya.

Selain itu, bertepatan dengan Hari Batik Nasional tanggal 2 Oktober, Keraton Solo juga mengadakan pameran batik hasil karya dari Gusti Kanjeng Ratu Pakoe Buwono XIII. Pameran ini mengusung tema “Batik Karya Adiluhung”. Diantaranya, Batik Parang Noto Bhirowo, Parang Loro Ati, Parang Gunung Sari, Parang Puspito Rinonce serta Batik Sekar Jagat. [tin/adv]


Apa Reaksi Anda?

Komentar