Advertorial

Ponorogo Sukses Turunkan Angka BAB Sembarangan

Pemasangan jamban di salah seorang warga di Desa Nglumpang Kecamatan Mlarak beberapa waktu yang lalu. [Foto/Istimewa]

Ponorogo (beritajatim.com) – Program bantuan stimulan jamban yang dilakukan oleh Pemkab Ponorogo sejak 2015 hingga 2020 dinilai sukses. Indikator kesuksesan itu dapat dilihat dari angka orang yang buang air besar (BAB) sembarangan setiap tahun menurun dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.

Menurut data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo, pada 2015 angka BAB sembarangan tercatat ada 57.577 KK. Namun, angka itu kini menurun drastis. Sejak pelaksanaan program bantuan stimulan jamban Rp 831 ribu per KK, yang dilakukan sejak 5 tahun lalu, kini per Februari 2020 tinggal 12.776 KK saja yang masih BAB sembarangan.

Tahun ini, rencananya akan ada 6.000 paket bantuan stimulan jamban yang akan diberikan ke masyarakat. Dengan jumlah itu, diharapkan 2020 ini Ponorogo Open Defication Free (ODF) atau bebas dari BAB sembarangan. “Jika tahun ini ada 6.000 paket bantuan stimulan jamban, setengahnya bisa ditutup oleh pembangunan jamban secara swadaya oleh masyarakat,” kata Kepala Dinkes Ponorogo drg. Rahayu Kusdarini, Senin (2/3/2020).

Irin sapaan akrab Rahayu Kusdarini bercerita bahwa pada 2014, ada program jambanisasi dari Pemerintah Pusat. Yakni dengan bantuan berupa bangunan jamban. Namun itu dinilai kurang efektif, karena oleh warga malah tidak difungsikan. Sehingga angka Open Defication (OD), atau orang BAB sembarangan masih tinggi.

“BAB sembarangan ini merupakan perilaku, nah perilaku ini yang berusaha kita rubah dengan sosialisasi dan bantuan stimulan jamban, Alhamdulillah berhasil,” katanya.

Dengan bantuan stimulan jamban, warga, kata Irin, dalam istilah Jawa melu handarbeni atau ikut memiliki sehingga setiap hari jamban tersebut digunakan untuk buang hajat warga dan keluarganya. Bahkan sikap tersebut, membuat minat masyarakat lain untuk membangun jamban sehat semakin tinggi.

Irin mengklaim suksesnya program bantuan stimulan jamban ini juga berbanding lurus dengan penurunan angka stunting di Ponorogo. Sebab salah satu untuk penurunan angka stunting, yakni dengan sanitasi masyarakat yang baik. Salah satunya dengan pembangunan jamban yang sehat.

Dia mencatat, pada 2015, dari 60 ribu balita di Ponorogo, sebanyak 37 persen menderita stunting. Kini di 2020 angkanya turun menjadi 12,27 persen. Ditargetkan 2020 ini, Ponorogo bisa ODF atau bebas dari BAB sembarangan. Untuk itu Irin berharap diperlukan peran serta dari masyarakat untuk menyukseskannya.

“Selain sukses menekan angka BAB sembarangan, program bantuan stimulan jamban ini juga efektif mengurangi angka stunting di Ponorogo,” pungkasnya. [end/suf]

Apa Reaksi Anda?

Komentar