Advertorial

Petrokimia Gresik Siap Cetak Petani Milenial yang Memiliki Potensi Ekonomi

Gresik (beritajatim.com)- PT Petrokimia Gresik (PG) sebagai ‌perusahaan solusi agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, siap mencetak petani milenial yang memiliki potensi ekonomi. Penegasan ini, disampaikan Dirut PT Petrokimia Gresik, Rahmad Pribadi saat membuka Final ‘Agrosociopreneur Competition’ Jambore Petani Muda 3 di Wisma Kebomas, Kamis (6/02/2020).

Rahmad Pribadi menjelaskan intinya dalam kegiatan ini. PG sebagai salah satu dari BUMN memiliki tanggungjawab moral dan sosial untuk memastikan ketahanan pangan. Salah satu pondasi ketahanan pangan adalah petaninya harus berkualitas. Bukan sebaliknya, petaninya malah berkurang. Tapi, terus berkelanjutan dan berkualitas.

 

“Artinya kami siap mencetak petani milenial. Harapannya, dari situ ada semacam transformasi ilmu. Sehingga, petani tidak dicap lagi kumuh dan hidupnya dibawah sektor lain. Namun, sebaliknya bekerja di sektor pertanian jug mempunyai potensi ekonomi yang bagus termasuk status sosialnya,” ujarnya.

 

Melalui Jambore Petani Muda ini lanjut Rahmad Pribadi, juga upaya perusahaan untuk menumbuhkan minat generasi milenial terhadap dunia pertanian. Pasalnya, saat ini peran generasi muda pada sektor ini masih sangat rendah.

 

“Kalau sektor pertanian dikelolah dengan baik dan benar tak kalah prospektif dengan sektor lainnya,” ungkapnya.

Guna mendukung minat generasi milenial terhadap pertanian. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Forum Dekan Pertania se-Indonesia Dr.Jamhari menuturkan, berdasarkan sensus pertanian tahun 2013. Jumlah petani terus menurun dari 32 juta orang menjadi 26 juta orang. Lalu bagaimana untuk mempercepat jumlah petani muda di Indonesia.

 

Menurut Jamhari, kurikulum pendidikan tinggi pertanian harus disesuaikan dan fleksibel. Pasalnya, saat ini sebagian besar lulusan sarjana pertanian setelah lulus bekerja diluar ekosistem pertanian. Ada yang menjadi wartawan atau bekerja di perbankan.

 

“Masih banyaknya lulusan pertanian bekerja diluar ekosistem karena kurikulum sekarang sudah kurang sesuai dengan stake holder pertanian,” tuturnya.

 

Karena itu masih kata Jamhari, diperlukan sinergi dengan perusahaan atau CEO pertanian guna menyiapkan calon sarjana pertanian yang betul-betul masuk ke ekosistemnya.

 

“Terkait dengan ini kami dari forum Dekan Pertanian sudah melakukan identifikasi program belajar diluar kampus,” ujarnya.

 

Sementara itu, perwakilan salah satu nominator Jambore Petani Muda 3 asal
Universitas Udayana Bali, I Kadek Gandhi mahasiswa semester 8 Fakultas Pertanian mengatakan, dalam jambore petani muda kali ini dirinya bersama rekan-rekannya mengajukan proposal
Pengembangan Agrowisata Berbasis Masyarakat.

 

“Kami memilih proposal tersebut karena di Bali banyak potensi wisata desa yang bisa dikembangkan lagi,” urainya.

 

Program Jambore Petani Muda 3 2019 berawal dari roadshow ke 12 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) seluruh Indonesia. Dari 100 tim yang berpatisipasi terpilih 9 finalis terbaik yang berkompetisi di babak final. Kesembilan tim tersebut 8 dari PTN. Diantaranya, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam), Universitas Padjajaran (Unpad), Univeesitas Brawijaya (Unbraw), Universitas Udayana (Unand), Universitas Sumatera Utara (USU). Selanjutnya, Universitas Jember (Unej), Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor. [dny]





Apa Reaksi Anda?

Komentar