Advertorial

Munggah Molo, Prosesi Adat Jawa dalam Pembangunan Pasar Legi Ponorogo

Bupati Ipong Muchlissoni, dan istrinya, Sri Wahyuni, hendak menancapkan paku emas dalam prosesi adat munggah molo. (Foto/Endra Dwiono)

Ponorogo (beritajatim.com) – Untuk memperlancar proses pembangunan pasar legi yang saat ini dibangun oleh PT. Adhi Persada Gedung (PT. APG), sejumlah prosesi sesuai adat jawa dilakukan. Salah satunya adalah prosesi Munggah Molo atau pemasangan kuda-kuda atap Pasar Legi. Munggah Molo merupakan salah satu kearifan lokal yang biasa dilakukan di masyarakat Jawa jika melakukan pembangunan.

“Munggah Molo ini umum dilakukan masyarakat Jawa, sebagai bentuk rasa syukur dan harapan agar pembangunan dapat berjalan lancar dan diberkahi Tuhan Yang Maha Esa,” kata Bupati Ipong Muchlissoni, Rabu (5/8/2020).

Hari Rabu Pon dalam penanggalan jawa dipilih lantaran dinilai sebagai hari baik untuk melakukan prosesi Munggah Molo ini. Prosesi ini sekaligus menandai pekerjaan struktur yang akan segera selesai 100 persen. Sebelum Molo diangkat ke atas, Bupati Ipong dan istrinya Sri Wahyuni melakukan prosesi penyiraman air kembang dan pembenaman paku emas di kuda-kuda atap yang akan dipasang di lantai empat tersebut.

“Bangunan ini meski belum jadi, namun sudah terlihat kokoh, aman dan tentunya awet,” katanya.

Pembangunan Pasar Legi, kata Ipong paling cepat bisa beroperasi antara enam hingga tujuh bulan ke depan. Usai pekerjaan struktur selesai, tersisa tinggal pekerjaan penyempurnaan interior, eksterior, dan mechanical engineering (ME). Untuk itu, Dia meminta pedagang untuk bersabar. Kelak, Pasar Legi akan menjadi pasar rakyat yang modern, Ipong berharap para pedagang untuk beradaptasi dengan konsep pasar yang baru. Yakni dengan memperhatikan kebersihan, kesehatan dan kenyamanan di pasar.

“Nanti pedagang dan pembeli harus beradaptasi dengan pasar baru, yang bersih, sehat dan nyaman. Jadi pasar rakyat dengan citra yang kumuh tidak ada lagi,” pungkasnya. [end/adv]





Apa Reaksi Anda?

Komentar