Advertorial

Kominfo Gelar Forum Pendidikan Karakter Pancasila dan Pertunjukan Rakyat

GSMS Merawat Nasionalisme Melalui Budaya dan Kearifan Lokal

Ngawi (beritajatim.com) – Direktorat Kesenian, DirektoratJenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan kampanyekan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS).

Kegiatan GSMS merupakan program yang memberikan pembelajaran seni budaya pada siswa di sekolah dari para senimannya langsung. Tujuannya agar menciptakan warga sekolah yang dapat melestarikan, melindungi, mengembangkan serta memanfaatkan nilai budaya dan objek pemajuan kebudayaan.

Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan kebudayaan membawa semangat baru dalam upaya pelindungan,pengembangan pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan nasional.

Sejalan pula dengan amanat Presiden Republik Indonesia agar memberikan peran strategis bagi kebudayaan nasional dalam pembangunan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) adalah program yang dijalankan Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam bentuk program seniman memberikan pembelajaran kesenian pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah (SD, SMP, dan SMA/SMK).

Untuk mendukung Program tersebut, Direktorat Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik, Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, melakukan kegiatan sosialisasi tentang Gerakan Seniman Masuk Sekolah ( GSMS ).

Dengan format Diskusi secara Hybrid yang bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan tujuan untuk menggalakkan kembali seni budaya lokal di sekolah dan untuk mencintai seni budaya lokal, dan menghasilkan konten dalam rangka penyebarluasan informasi yang dikemas secara menarik untuk dapat disebarluaskan kepada masyarakat.

Acara Forum Pendidikan Karakter Pancasila dan Pertunjukan Rakyat Gerakan Seniman Masuk Sekolah dengan Tema “ Kesadaran Merawat Nasionalisme melalui Budaya dan Kearifan Lokal “dilaksanakan selama 2 hari yaitu pada Jumat, (24/6/2022) di Alun – Alun kabupaten Ngawi.

Kegiatan diisi dengan pertunjukan rakyat pagelaran wayang kulit oleh Dalang Ki Warseno Slenk dengan lakon Wiratha Parwa, dimana kegiatan tersebut dihadiri oleh Bapak Bupati & Wakil Bupati Ngawi, Forkopimda, dan OPD Kab Ngawi serta masyarakat umum yang berjumlah sekitar 1000 orang.

Keesokan harinya dilanjutkan dengan kegiatan Forum Pendidikan Karakter Pancasila pada Sabtu (25/6/2022) di Pendopo Wedya Graha Kabupaten Ngawi. Lima narasumber hadir sebagi pembicara yakni Wakil Kepala BPIP periode 2018 – 2022, Prof. Dr. Hariyono,M.Pd, Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbudristek. Dr. Restu Gunawan, M.Hum, Sastrawan dan Budayawan, Dr. Tjahjono Widijanto, M.Pd. Ketua Badan Promosi Solo dan Dosen Universitas Negeri Solo, BRM. Bambang Irawan. M.Si, Content Creator/Influencer Cindy Gulla serta Keynote Speech dari Drs. Wiryanta M.A. Ph.D., Direktur Informasi dan Komunikasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Kegiatan ini diikuti Tim GSMS Kemendikbud, serta para guru dan pelajar, civitas akademika, komunitas, penggiat seni, dan masyarakat umum di Kabupaten Ngawi sebanyak seratus lima puluh (150) secara daring maupun luring.

Acara ini diselenggarakan sebagai salah satu upaya Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) yang diharapkan akan mampu menginspirasi, memenuhi pendidikan anak seutuhnya, untuk membangun iklim sekolah yang menyenangkan, mengasyikkan, mencerdaskan, dan menguatkan.

“Masa depan bangsa Indonesia akan sangat ditentukan oleh kualitas SDM generasi muda yang memiliki karakter toleran, kreatif, inovatif dan prestasi. Serta terus berusaha melakukan terobosan, kreativitas, inovasi, dan kolaborasi (gotong royong) antar komponen bangsa untuk menjadi pembelajar yang bermakna dan visioner,” ujar Prof. Dr. Hariyono,M.Pd, Wakil Kepala BPIP th 2018 – 2022.

Menurut Ketua Badan Promosi Solo dan Dosen Universitas Negeri Solo, BRM. Bambang Irawan, M.Si, generasi muda saat ini tetap melestarikan budaya dan kearifan lokal, karena saat ini generasi milenial memiliki fenomena sikap terhadap budaya lokal seperti :

(1). Pemakaian bahasa lokal kesukuan semakin menipis.
(2) Semakin menurun ketertarikannya pada adat, seni dan tradisi
(3) karakter dan kepribadian makin berjarak dengan nilai – nilai budaya bangsa.
(4) solidaritas sosial bergeser menjadi ke solidaritas media social.

Program GSMS ini dilaksanakan agar para peserta didik dapat menyerap secara langsung ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dimiliki seniman. Program ini dilaksanakan dalam rangka menanamkan kecintaan dan wawasan yang lebih luas tentang karya seni budaya sehingga dapat memperkuat karakter para peserta didik.

Pada acara tersebut ada sebuah pernyataan yang sangat menarik dari Dr. Tjahjono Widijanto, M.Pd yang juga seorang seniman dan budayawan yaitu “ Reguklah ilmu dan khazanah budaya dari mana saja tapi reguklah tuntas juga ke-Indonesiaanmu. Kita harus menjadi orang cerdas, pintar dan berintelektual seperti Einstein tetapi hati, jiwa kita tetaplah jiwa dan kepribadian timur yang memiliki etika ketimuran”.

Menurutnya hal seperti itulah yang harus diterapkan apabila ingin merawat nasionalisme berbasis budaya dan kearifan lokal.[adv]


Apa Reaksi Anda?

Komentar