Advertorial

Dukung Reog Terdaftar di Unesco, Wabup Lisdyarita Berjuang Ngluruk ke Jakarta

Wabup Ponorogo Lisdyarita saat melakukan rapat koordinasi yang digelar oleh Kantor Staf Presiden (KSP) di Jakarta beberapa waktu yang lalu. (Foto/Istimewa)

Ponorogo (beritajatim.com) – Reog bukan kesenian biasa, didalamnya memuat unsur pendidikan, seni, olahraga dan kriya. Itulah kalimat pembuka yang diutarakan oleh Wakil Bupati (wabup) Ponorogo Lisdyarita saat melakukan rapat koordinasi dengan perwakilan dari Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset Dan Teknologi (Kemendikbudristek), dan Kementrian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) yang digelar oleh Kantor Staf Presiden (KSP) di Jakarta pada Rabu (20/4) lalu.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo terus memperjuangkan Reog sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) ke Intangible Cultural Heritage (ICH) dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Pemkab Ponorogo terus berusaha dan meminta Pemerintah Pusat melalui kementrian terkait guna mengkaji ulang pengajuan Warisan Budaya Takbenda Indonesia ke ICH UNESCO.

“Saya minta Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengkaji ulang usulan WBTB ke UNESCO, meski sebelumnya sudah memilih jamu untuk didaftarkan di tahun ini,” ungkap Wabup Lisdyarita, Jumat (22/4/2022).

Diakui Bunda Rita sapaan karib Lisdyarita bahwa Pemerintah Pusat memang sudah memilih jamu untuk didaftarkan sebagai warisan budaya takbenda ke UNESCO. Dengan pertimbangan, Indonesia mempunyai jamu sebagai warisan budaya minuman kesehatan terlebih disaat masa pandemi Covid-19. Namun, keberadaan kesenian Reog juga tidak bisa dipandang sebelah mata juga, jika disandingkan dengan jamu.

“Reog tidak kalah penting, jika disandingkan dengan jamu,” tegas Lisdyarita.

Reog tidak sekedar sebuah seni pertunjukan saja. Namun, pertunjukan Reog itu berdampak luas pada sendi-sensi ekonomi masyarakat. Ada pengrajin, ada seniman, ada usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang muncul dari masyarakat saat Reog itu tampil.

Keberadaan Reog juga bukan hanya di Ponorogo saja, saat ini sudah meluas diberbagai daerah di Indonesia, bahkan Reog juga sudah eksis di luar negeri. Banyak anak, muali dari usia dini yang sudah suka dengan Reog. Bila mendengarkan gamelannya saja, tangan, kaki dan tubuhnya spontan untuk menari.

“Ini membuktikan bahwa kesenian Reog mampu menggugah ketertarikan generasi milenial untuk mau belajar dan mencintai sebuah kesenian daerahnya,” katanya.

Dengan adanya rapat koordinasi beberapa waktu yang lalu, wabup Lisdyarita atas nama Pemkab Ponorogo, berharap usaha yang dilakukan selama ini tidak sia-sia. Kementrian terkait, yakni Kemendikbudristek bisa merubah dan mendahulukan Reog untuk didaftarkan ke ICH UNESCO dari pada jamu.

“Saya sangat berterimakasih kepada KSP, Kementrian terkait dan semua pihak. Saya berharap semua berkenan mau mendengarkan apa yang menjadi harapan masyarakat adat serta semua pelaku seni Reog di mana saja,” pungkasnya.[adv]


Apa Reaksi Anda?

Komentar