Advertorial

DPM-PTSP Jatim Gelar Business Networking Forum 2021, Pro Aktif Promosikan Peluang Investasi

Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) terus mendorong investasi masuk ke Bumi Majapahit.

Terbaru, DPM-PTSP baru saja menggelar Business Networking Forum (BNF) dengan tema Business Collaboration Investment Based on I-PRO (Investment Ready to Offer) and Sustainable.

Kegiatan itu dihelat pada 23-24 Maret 2021 bertempat di Hotel Kokoon, Jalan Raya Jember Dusun Krajan, Dadapan, Banyuwangi. Dengan juga dihelat secara hybrid, BNF 2021 ini dihadiri 70 peserta offline dari Consul General of Japan, Consul General of Australia, Consul General of RRC, Perwakilan Kedutaan Besar United Kingdom di Surabaya.

Sedangkan yang juga hadir secara online adalah perwakilan dari KBRI Dubai, KBRI Singapore, KBRI Australia, KBRI Jepang, KBRI Korea, IIPC Sydney-Australia, IIPC Singapura, IIPC Jepang dan IIPC UEA.

Kepala DPM-PTSP Provinsi Jatim, Aris Mukiyono mengatakan, bahwa kegiatan BNF 2021 ini merupakan strategi mempromosikan proyek strategis nasional yang ada di Jatim. Sebagaimana dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 ada banyak pembangunan yang ada di Jatim. Mulai dari pengembangan kawasan Bromo Tengger Semeru, Selingkar Wilis dan juga Selingkar Ijen.

“Maka dalam upaya mewujudkan dan mempercepat realisasi pelaksanaan Perpres 80 tahun 2019, yang mana terdapat 218 proyek dengan nilai investasi sebesar Rp 294,34 triliun dengan alokasi pembiayaan berasal dari APBN, APBD, BUMN/BUMD, KPBU dan Swasta, maka di era sekarang ini, kolaborasi investasi menjadi hal yang ideal untuk melakukan percepatan investasi. Ini mengingat keterbatasan sumber pendanaan pemerintah yang semakin berkurang untuk memenuhi berbagai jenis pelayanan publik yang terus meningkat,” kata Aris, Kamis (25/3/2021).

Adanya kolaborasi yang baik akan berdampak terhadap sinergitasi dan efisiensi waktu serta sumber pembiayaan, karena dalam kolaborasi akan melibatkan para professional dan teknologi kekinian.

“Hal itu sesuai amanah Ibu Gubernur, kami harus bersinergi, rembug nyekrup dengan daerah dalam mempromosikan investasi secara berkelanjutan. Forum tersebut merupakan bagian dalam penguatan sinergi dan kolaborasi yang dimaksud,” ujarnya.

Lebih lanjut dalam upaya membangun kolaborasi, lanjut Aris, diperlukan investasi berbasis Investment Project Ready To Offer (I-PRO) guna menarik minat calon investor. Investment Project Ready To Offer (I-PRO) merupakan proyek investasi Clear and Clean, yaitu proyek yang memiliki Feasibility Study serta tidak memiliki kendala izin usaha dan lahan.

“Mengingat pentingnya kolaborasi bisnis berbasis I-PRO itulah maka kami mengelar BNF ini. Yang Alhamdulillah kemarin melibatkan narasumber dari berbagai kalangan profesional dan praktisi. Yang tujuannya meningkatkan kolaborasi bisnis berbasis I-PRO mendorong minat instansi terkait, asosiasi dan pelaku bisnis untuk berinvestasi di Jawa Timur dan membuka peluang bisnis, serta investasi bisnis berkelanjutan di Jawa Timur,” tegas Aris.

Narasumber yang hadir ada dari Kementerian Perindustrian, Bappenas, Shire Oak International, PP. Anwarul Maliki dan PT. Bharata (LNG). Sedangkan peserta yang dilibatkan ada sembilan kawasan industri mulai Kawasan Industri Gresik (KIG/KIT), Kawasan Industri Manyar Sejahtera – Java Integrated Industrial and Ports Esatate (JIIPE), Ngoro Industrial Park (NIP), serta Sidoarjo Rangkah Industrial Estate (SIRIE) dan Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER, PIER).

Selain itu, juga melibatkan sebanyak 26 orang dari enam perusahaan besar.

“Kami berusaha terus mempromosikan Jawa Timur untuk menarik sektor-sektor strategis berinvestasi di Jatim. Kita ingin investasi menjadi salah satu pengungkit ekonomi Jatim di tengah pandemi. Sebab kita tahu, nyatanya selama setahun 2020 kemarin, investasi kita justru tumbuh,” ungkapnya.

Realisasi Investasi Penanaman Modal Provinsi Jawa Timur sepanjang tahun 2020 mencapai Rp 78,3 triliun. Realisasi tersebut terdiri dari PMA sebesar Rp 22,6 triliun dan PMDN sebesar Rp 55,7 triliun. Capaian ini meningkat 33,8 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara skala nasional investasi naik 2,1 persen.

Untuk itu, pihaknya ingin capaian peningkatan serupa bisa meningkat kembali di tahun 2021 ini. [Tok/Adv]


Apa Reaksi Anda?

Komentar