Advertorial

Disnak Jatim Tanggapi Pemberitaan ‘Harga Ayam Jatuh Rp 6.000/Kg, Peternak Madiun Bangkrut, Pilih Bagikan Gratis ke Warga’

Surabaya (beritajatim.com) – Pada tahun 2019 usaha peternakan ayam ras pedaging di Jawa Timur menduduki peringkat ke-2 nasional dengan populasi sebesar 254.632.036 ekor dan produksi daging sebanyak 363.066.866 kg.

Pengembangan usaha peternakan ayam ras pedaging di Jawa Timur didukung oleh tersedianya beberapa prasarana dan sarana pendukung seperti 11 perusahaan pembibitan (breeding farm) yang memproduksi
DOC (anak ayam) dengan kapasitas produksi per bulan mencapai 30 juta ekor, 18 pabrik pakan unggas serta 89 perusahaan inti kemitraan (integrator).

Kepala Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jatim, Drh Wemy Niamawati, MMA, Sabtu (18/4/2020) mengatakan, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini telah menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global termasuk pada sub sektor peternakan, komoditas yang paling terdampak adalah usaha peternakan ayam ras pedaging.

“Hal ini dikarenakan siklus produksinya yang pendek, sehingga sangat rentan mengalami kerugian besar begitu permintaan pasar mengalami penurunan. Jika peternak menunda penjualan, maka biaya pakan akan sangat memberatkan mereka,” katanya.

Populasi ayam ras pedaging di Jawa Timur pada periode bulan bulan April 2020 sebesar 62.518.017 ekor. Khusus untuk Kabupaten Madiun populasinya berjumlah 525.641 ekor (kontribusi hanya sebesar 0,84 persen terhadap Jawa Timur).

Dari data terakhir, peternak ayam pedaging di wilayah Kabupaten Madiun sebanyak 18 orang tersebar di beberapa kecamatan antara lain: Wungu, Balerejo, Saradan, Geger,
Pilang Kenceng, Dagangan, Mejayan, Gemarang dan Kebonsari.

Harga livebird (ayam pedaging hidup di tingkat peternak atau harga kandang di Kabupaten Madiun berdasarkan pemantauan oleh Petugas Informasi Pasar (PIP) pada tanggal 16 April 2020 adalah sebesar Rp 10.000/kg berat hidup, sedangkan untuk harga di tingkat konsumen sebesar Rp 23.000/kg.

Sedangkan Dalam Peraturan Menteri
Perdagangan (Permendag) No. 7 Tahun 2020, diatur harga acuan pembelian daging ayam di farmgate sebesar Rp 19.000-21.000/kg. Sehingga, peternak merugi sekitar
Rp 9.000-10.000/kg.

Terkait berita di media masa tentang pembagian ayam pedaging gratis kepada masyarakat oleh salah seorang di Pasar Dungus Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun pada tanggal 16 April 2020 karena harga kandang Rp 6.000/kg, menurut Wemy, adalah merupakan kasus insidentil yang bersifat lokal dan tidak bisa digeneralisasi terjadi di semua wilayah Madiun, apalagi
mewakili situasi harga Provinsi Jawa Timur secara keseluruhan.

“Dimungkinkan adanya beberapa faktor, baik teknis maupun non teknis yang menyebabkan orang tersebut (Yusak Dwi Prasetyo dari Anugerah Farm Madiun) selaku peternak sekaligus pengepul lebih memilih membagikan kepada masyarakat
daripada menjualnya ke pasaran umum. Penyebab lain mungkin juga karena wilayah Madiun termasuk dekat dengan Jawa Tengah. Sedangkan, harga ayam pedaging di Jawa Tengah dalam beberapa hari terakhir sudah mencapai Rp 5.000 –
6.000/kg,” jelasnya.

Kondisi saat ini dimana harga di tingkat konsumen berkisar Rp 23.000/kg memperlihatkan bahwa para pedagang masih menerima margin keuntungan yang cukup.

“Sebenarnya turunnya harga live bird ini sudah dirasakan sejak lebaran tahun lalu yang terjadi akibat kelebihan pasokan DOC, namun kondisi ini semakin diperparah dengan menurunnya permintaan sebagai dampak pandemi Covid-19,” tuturnya.

Untuk mengatasi kelebihan produksi DOC, pemerintah sudah mengambil beberapa kebijakan. Yaitu, melakukan cutting Heaching Egg (pemusnahan telur tetas) untuk mengurangi suplai DOC, di mana jumlah total yang dimusnahkan sampai dengan bulan April 2020 sebanyak 20.019.883 butir, menunda setting telur untuk 4 minggu ke depan, afkir dini parent stock (induk bibit ayam).

Semua kebijakan diarahkan agar harga livebird di tingkat peternak bisa bergerak naik sesuai harga acuan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan. Sedangkan, untuk mengatasinya menurunnya harga jual di tingkat peternak, pemerintah baik pusat maupun Provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai terobosan.

Di antaranya, mendorong peternak atau kelompok peternak melakukan penjualan secara online dengan bekerja sama dengan operator aplikasi penjualan online seperti
Tanihub, bermitra dengan perusahaan transportasi online Gojek dan Grab, memanfaatkan cold storage yang ada di Puspa Agro untuk menyimpan ayam potong beku.

Pihaknya juga telah mengusulkan kepada pemerintah pusat (Kemendag) agar menerbitkan peraturan seperti yang dilakukan pada tahun 2019 (Surat Edaran Direktur Jenderal
Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag No. 158/PDN/SD/6/2019 tertanggal 17 Juni 2019) yang meminta agar pelaku usaha perunggasan, baik itu perusahaan integrator, peternak mandiri maupun peternak rakyat untuk membagikan stok livebird/karkas yang ada secara gratis menggunakan dana Corporate Social Responsibility (CSR) secara langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.

“Hal ini diharapkan mampu mengurangi kelebihan produksi tadi dan mengembalikannya ke titik keseimbangan,” pungkasnya. [Tok/Adv]

Apa Reaksi Anda?

Komentar