Lamongan (beritajatim.com) – Melintas di Lamongan, ada satu kawasan yang cukup terkenal di antara pengguna jalan. Kawasan itu dikenal dengan Gunung Pegat.
Ramai dilewati kendaraan, Gunung Pegat masuk wilayah Desa Karangkembang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan. Di balik keberadaan Gunung Pegat dengan ketinggia sekitar 60 Mdpl ini, ternyata menyimpan banyak kisah mitos yang berkembang hingga saat ini.
Nama “Pegat” ini sendiri memiliki arti “putus, cerai, terbelah”. Nama itu merujuk pada bentuk gunung kapur terbelah jalan yang memisahkan sisi timur dan barat.
Secara administratif, Gunung Pegat ini sebenarnya masuk dalam dua daerah yaitu Lamongan dan Bojonegoro. Gunung itu dibelah jalan yang menghubungan Kecamatan Babat di Lamongan dengan wilayah Kabupaten Jombang.
Jalan Raya Babat-Jombang yang melewati kawasan ini bisa dibilang tak hanya membelah gunung namun juga memisahkan dua kabupaten. Sisi barat masuk Kabupaten Bojonegoro, sementara bagian timur merupakan wilayah Lamongan.
“Wilayah Gunung Pegat itu yang sebelah barat jalan raya masuk dalam wilayah Bojonegoro dan yang timur jalan masuk dalam wilayah desa kami,” kata Kepala Desa Karangkembang, Andri S, saat ditemui.
Sayangnya, berdasarkan pantauan beritajatim.com di lokasi, kondisi Gunung Pegat ini sudah jauh berbeda dengan sebelumnya. Gunung Pegat kini sudah tak lagi kentara akibat aktivitas penambangan kapur, khususnya bagian barat yang hampir rata dengan jalan.
Sehingga, ungkap Andri, banyak orang yang keliru soal letak Gunung Pegat yang sebenarnya. Menurutnya, sebagian orang mengira Gunung Girik yang ada di Kecamatan Ngimbang adalah Gunung Pegat.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Lamongan”]
Padahal, lanjut Andri, sejak dulu nama dan letak Gunung Pegat yang sebenarnya berada di Desa Karangkembang, Kecamatan Babat, Lamongan.
“Kalau yang Gunung Girik itu beda, masuk wilayah Kecamatan Ngimbang. Tapi kalau Gunung Pegat ini ya sejak dulu ada di desa kami ini, yang membentang dari barat ke timur. Seiring berjalannya waktu, kawasan Gunung Pegat saat ini dikelola PT. Semen Indonesia,” terangnya.
Sementara itu, Supoyo (80), salah satu sesepuh Desa Karangkembang mengaku, sejak dulu Gunung Pegat itu sudah ada. Tetapi, dia tak tahu spasti kapan gunung kapur itu disebut Pegat dan bagaimana proses awal pembangunan jalan yang melintasinya.
“Saya lahir 1942. Sejak saya kecil namanya sudah Gunung Pegat, bentuk dan letaknya juga sudah seperti itu. Bahkan, dari dulu jalan raya ini sudah aspalan,” ucap pria tua yang akrab disapa Mbah Poyo itu.
Mbah Poyo membenarkan, di kedua sisi jalan raya ini dulunya masih berdiri kokoh dua bukit Gunung Pegat. Lantaran aktivitas penambangan batu yang begitu massif, sisi barat Gunung Pegat sekarang sudah hampir rata dengan jalan.
Dikatakan Mbah Poyo, sejak zaman orangtua hingga kakeknya dulu, kondisi Gunung Pegat sudah terbelah Jalan Raya Babat-Jombang. Selain itu, jalan ini juga sudah sangat ramai dilewati kendaraan karena merupakan jalur utama.
“Sejak zaman kakek saya dan orangtua saya dulu ya katanya kondisinya sudah seperti itu. Wes kawit zaman Londo (sudah ada sejak zaman Belanda), nggak tahu dulu cara membelah jalannya gimana, pakai dinamit atau dikeruk kita gak tahu,” tandasnya. [riq/beq]








