Surabaya (beritajatim.com) – Berbohong memang perbuatan negatif, tapi hampir semua orang pasti pernah melakukannya. Alasan mereka melakukannya pun tentu berbeda-beda. Namun, yang paling umum ialah untuk menutupi sesuatu yang dianggap buruk.
Sesekali berbohong mungkin sudah pernah dilakukan seseorang. Terlebih ketika ia berada dalam posisi tertentu, seperti menghindari hukuman atau ingin mendapatkan perhatian.
Namun, jika dilakukan pada situasi yang normal dan bahkan terlalu sering, tentu hal tersebut perlu dipertanyakan. Mungkin orang tersebut sedang menderita syndrome mythomania.
Adapun gejala-gejala tertentu yang mungkin dialami penderita sindrom berbohong ini, di antaranya;
Berbohong dalam segala situasi
Mereka yang mengalami syndrome mythomania ini kerap kali berbohong, bahkan dalam segala situasi. Meski mungkin seseorang telah ketahuan pun, ia akan tetap berbohong.
Motif tidak jelas saat berbohong
Seseorang bisa saja berbohong, bahkan ketika dirinya tidak memiliki maksud atau motif tertentu. Selama ini mungkin ia meyakini bahwa berbohong merupakan sesuatu yang tidak boleh dilewatkan.
Menggabungkan fakta dan khayalan
Mereka yang mengalami sindrom ini biasanya kerap menggabungkan antara fakta dan khayalan mereka sendiri. Misalnya, ia mendengar fakta dari orang lain, kemudian ia gabungkan dengan cerita fantasi untuk menyesuaikan dengan dirinya sendiri.
Cenderung menikmati
Jika umumnya seseorang yang telah berbohong kerap merasa bersalah, cemas, khawatir, atau sejenisnya, berbeda dengan mereka yang menderita syndrome mythomania ini. Ia justru cenderung menikmati kebohongannya.
Hal-hal tersebut bisa saja terjadi akibat adanya pengalaman di masa lalu. Misalnya karena kekurangan kasih sayang atau mengalami kegagalan. Sehingga, ia meyakini bahwa berbohong ialah sesuatu yang dapat digunakan untuk mempertahankan atau mendapat pengakuan diri. (fyi/ian)






