Probolinggo (beritajatim.com) – Faizatun Nuril Qomariyah, warga Dusun Krajan, Desa Kecik, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, wajahnya terlihat pucat. Tidak tampak keceriaan di wajah Faizatun seperti anak anak lain seusianya.
Bocah berusia lima tahun itu menderita benjolan pada bagian sebelah kiri lehernya. Kondisi ini sudah dialami Faizatun sejak lahir hingga saat ini.
Penderitaannya kian bertambah karena keterbatasan kedua orang tua yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani, sehingga pendapatannya tidak menentu dan terkendala biaya berobat.
[berita-terkait number=”5″ tag=”probolinggo”]
Setiap hari, Faizatun bersama orang tuanya, Maimun dan Ani Yusvita Dewi, tinggal di sebuah rumah yang cukup sederhana. Ekonomi mereka juga kurang baik. Jangankan untuk berobat, untuk makan sehari-hari kedua orang tuanya mengaku kesulitan. “Kami ingin anak kami bisa hidup normal, dan ceria seperti teman-temannya yang lain,” aku Maimun.
Terlebih kondisi pandemi seperti saat ini, Maimun mengaku bisa makan saja sudah bersyukur. “Bisa makan saja dalam kondisi seperti saat ini, kami sudah sangat bersyukur,” katanya.
Ia belum tahu penyakit apa yang diderita oleh anaknya ini, pasalnya ia masih belim sempat membawa Faizatun ke rumah sakit karena terkendala biaya. “Belum tahu, penyakit anak saya ini tjmor atau bukan, karena kami gak ada uang untuk membawa anak kami berobat ke rumah sakit,” beber Maimun sembari tertunduk sedih. (tr/kun)






