Jakarta (beritajatim.com) – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKB, Daniel Johan, menyampaikan keprihatinan mendalam atas gugurnya lima petugas dan relawan saat memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur.
Ia menegaskan keselamatan serta prosedur penanganan risiko personel di lapangan wajib menjadi prioritas mutlak.
Insiden maut tersebut menimpa tim pemadam di lereng Pusung Lingker, Desa Ngadirejo, Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Kamis (15/10/2026). Kelima korban dilaporkan terjebak kobaran api yang mendadak membesar akibat hembusan angin kencang di medan terjal yang sulit dijangkau.
“Kami menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya lima orang dalam upaya pemadaman karhutla di Bromo. Pengorbanan ini menjadi pengingat bahwa keselamatan petugas dan relawan di garda terdepan tidak boleh diabaikan,” ujar Daniel Johan di Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Daniel menggarisbawahi bahwa operasi pemadaman kebakaran hutan tidak boleh hanya berfokus pada kecepatan memadamkan titik api semata. Menurutnya, setiap pergerakan tim harus didahului kajian matang, pemetaan risiko, pemantauan arah angin, penentuan jalur penyelamatan, hingga kesiapan sistem komunikasi darurat.
Legislator PKB tersebut mendesak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama otoritas taman nasional untuk menjamin ketersediaan Alat Pelindung Diri (APD) berstandar resmi bagi seluruh personel maupun relawan.
Perlengkapan vital seperti pakaian tahan panas, helm khusus, respirator, dan radio komunikasi tidak boleh disediakan secara terbatas atau sekadar formalitas administratif belaka.
“Penyediaan APD tidak boleh sekadar formalitas administratif melainkan harus memenuhi standar keselamatan. Seluruh personel di lapangan juga wajib mendapat pelatihan pengenalan tanda bahaya dan teknik evakuasi darurat,” tegas Daniel.
Selain perlengkapan pelindung, Daniel menyoroti pentingnya kepastian rantai logistik dan layanan medis bagi tim di medan terisolasi. Ketersediaan makanan bernutrisi, air bersih, serta posko evakuasi medis darurat dinilai mutlak disiapkan secara terencana sebelum petugas diterjunkan guna menjaga ketahanan fisik personel.
Pemerintah juga diminta segera melakukan investigasi mendalam dan evaluasi komprehensif atas tragedi tersebut demi membenahi manajemen bencana sekaligus memastikan santunan keluarga korban.
“Pengorbanan para pejuang lingkungan ini sangat mulia, tetapi nyawa manusia adalah yang utama. Kita harus memperbaiki seluruh sistem mitigasi risiko agar tragedi serupa tidak terulang di masa mendatang,” tegas Daniel. [hen/suf]






