Gresik (beritajatim.com)- Dapur bisa menjadi pintu masuk menuju kemandirian ekonomi. Itu yang coba dibangun PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) bersama warga Desa Sidorukun, Kecamatan Gresik, melalui pelatihan tata boga berbasis kewirausahaan.
Bukan sekadar belajar membuat roti atau jajanan pasar, warga dibekali kemampuan mengolah bahan baku menjadi produk yang bisa dijual. Bahkan, peserta juga diajak menghitung biaya produksi agar makanan yang dibuat tidak hanya enak, tetapi juga menghasilkan keuntungan.
Program tersebut merupakan bagian dari Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) PHE WMO. Tahun ini, pola pelatihan sengaja diarahkan berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya yang lebih banyak menyasar keterampilan teknis industri.
PHE WMO menggandeng Pemerintah Desa (Pemdes) Sidorukun dan UPT Balai Latihan Kerja (BLK) Surabaya untuk menggelar pelatihan tata boga selama 10 hari, 7-17 September 2026.
Pelatihan berlangsung di UPT BLK Surabaya. Warga tidak hanya diajari teknik membuat 10 jenis olahan, mulai dari roti, kue kering hingga jajanan pasar tradisional.
Materi juga diperluas ke sisi bisnis. Peserta dikenalkan dengan higienitas produksi, pengembangan dan kreasi produk, hingga simulasi menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) dengan menyesuaikan kualitas bahan baku.
Pendekatan itu dipilih karena kondisi ekonomi sebagian masyarakat masih rentan. Banyak keluarga hanya mengandalkan satu sumber penghasilan dari kepala keluarga. Di sisi lain, pemuda dan ibu rumah tangga belum seluruhnya memiliki keterampilan yang bisa menjadi bekal masuk dunia kerja maupun membuka usaha.
Ketergantungan terhadap bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) juga masih menjadi bagian dari kondisi sosial masyarakat. Karena itu, keterampilan yang bisa langsung dikembangkan menjadi sumber pendapatan dinilai penting untuk memperkuat ekonomi keluarga.
Kepala Desa Sidorukun Djuli Aspug mengatakan, bidang tata boga memiliki peluang pasar yang cukup terbuka di lingkungan desa.
Menurut dia, kebutuhan konsumsi dalam berbagai kegiatan masyarakat dapat menjadi pasar awal bagi warga yang telah mengikuti pelatihan. Salah satunya kebutuhan ribuan paket makanan ringan dalam kegiatan desa maupun momentum peringatan Hari Kemerdekaan.
“Tahun ini arahnya jelas, yaitu membentuk jiwa entrepreneurship. Harapannya, selepas pelatihan warga bisa langsung mengimplementasikan skill dan ilmu yang didapat,” katanya, Kamis (17/9/2026).
Dia berharap kebutuhan makanan ringan dalam kegiatan desa ke depan bisa lebih banyak dipenuhi oleh warga setempat.
“Jika kebutuhan snack kegiatan desa bisa diproduksi sendiri oleh warga, ekonomi lokal tentu akan berputar dan perlahan warga bisa lepas dari ketergantungan pada bantuan pemerintah,” imbuh Djuli Aspug.
Sementara itu, Manager CRC Regional 4 Rahmat Drajat menuturkan, pelatihan kompetensi tersebut merupakan agenda rutin PHE WMO bagi masyarakat di wilayah Ring 1 operasional perusahaan.
Memasuki hampir dua dekade keberadaannya, perusahaan berupaya agar program pemberdayaan masyarakat tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi menghasilkan keterampilan yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
“Di tengah terbatasnya lapangan kerja dan rentannya ekonomi keluarga yang hanya bertumpu pada satu pencaharian, penguasaan keterampilan praktis menjadi kunci,” ujar Rahmat.
Menurut dia, pemuda dan ibu rumah tangga tidak cukup hanya dibekali kemampuan teknis. Mereka juga perlu memahami bagaimana keterampilan tersebut bisa dikembangkan menjadi aktivitas ekonomi.
“Kami ingin masyarakat, khususnya kelompok pemuda dan ibu rumah tangga, tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga termotivasi untuk berwirausaha dan paham cara mengelola produk secara ekonomis,” ungkapnya.
Manager WMO Field Nofrie Nianta Charitapermana menambahkan, pemberdayaan masyarakat juga menjadi bagian dari upaya membangun hubungan yang berkelanjutan antara perusahaan dan lingkungan sekitar wilayah operasi.
Menurut dia, keberadaan perusahaan tidak dapat dipisahkan dari dukungan masyarakat. Karena itu, peningkatan kesejahteraan warga menjadi salah satu bagian penting dalam membangun hubungan yang harmonis.
“Kelancaran dan keamanan operasional PHE WMO selama ini tentu tidak lepas dari dukungan penuh serta hubungan harmonis yang terjalin dengan masyarakat sekitar, termasuk warga Desa Sidorukun,” jelas Charita.
Dia menegaskan, perusahaan dan masyarakat harus tumbuh berdampingan. Program PPM menjadi salah satu cara untuk memperkuat hubungan tersebut melalui peningkatan kapasitas warga.
“Ketika kemandirian ekonomi masyarakat terbangun dan kesejahteraan meningkat, hal itu akan menciptakan lingkungan sosial yang kondusif, yang pada akhirnya sangat mendukung kelancaran operasi kami untuk terus berkontribusi bagi negara,” pungkasnya. [dny/but]






