Surabaya (beritajatim.com) – Panitia Soekarno Cup 2026 memastikan aspek keamanan pangan dan pemenuhan gizi menjadi perhatian utama menjelang bergulirnya turnamen sepak bola usia muda yang akan digelar di Surabaya, Gresik, dan Bangkalan pada 10-24 Agustus 2026. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan food test terhadap seluruh menu makanan yang akan dikonsumsi lebih dari 400 atlet dari 16 provinsi selama mengikuti kompetisi.
“Food test merupakan salah satu tahapan penting dalam penyelenggaraan turnamen yang melibatkan ratusan atlet. Selain bertujuan mencegah risiko keracunan makanan dan penyakit yang ditularkan melalui pangan, proses ini juga memastikan setiap menu memiliki kualitas gizi yang konsisten sesuai kebutuhan atlet,” ujar Ahli Gizi RSUD dr. Soewandhie Surabaya, Rohanda Putra Gama saat Kegiatan food test, Jumat (24/7/2026).
Food test melibatkan tim ahli gizi RSUD dr. Soewandhie Surabaya bersama otoritas kesehatan setempat. Pemeriksaan dilakukan terhadap kualitas bahan baku pangan lokal, proses pengolahan, higienitas penyajian, hingga kandungan gizi yang dibutuhkan atlet selama menjalani pertandingan.
“Untuk pertandingan sepak bola selama 90 menit, dengan asumsi berat badan atlet sekitar 70 kilogram, kita perlu memastikan kecukupan kalorinya. Secara umum kami menilai makanan yang disajikan sudah memiliki gizi seimbang,” kata Gama.
Selama hampir tiga jam, tim ahli gizi memeriksa keseimbangan kandungan karbohidrat, protein berkualitas tinggi, vitamin, mineral, serat, hingga antioksidan dari sayur dan buah dalam setiap menu. Dalam proses tersebut juga dipastikan bahwa penyedia makanan telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) serta tenaga penjamah makanan yang memenuhi standar keamanan pangan.
“Kecukupan gizi menjadi faktor penting dalam menjaga kebugaran, mempercepat proses pemulihan, serta mendukung performa optimal di lapangan. Sehingga Soekarno Cup bisa menjadi ajang turnamen dengan penampilan atraktif para pemainnya, yang kita harapkan bersama bisa menjadi penerus bagi masa depan sepak bola Indonesia,” ujar Wakil Ketua Panitia Bidang Operasional Soekarno Cup 2026, Aprizaldi.
Aprizaldi mengatakan pengawasan makanan telah menjadi bagian dari standar operasional penyelenggaraan turnamen. Menurutnya, kondisi kesehatan atlet tidak boleh terganggu akibat konsumsi makanan yang tidak aman karena dapat memengaruhi performa pemain sekaligus kelancaran jalannya kompetisi.
“Dengan penerapan standar keamanan pangan yang baik, Soekarno Cup berupaya menghadirkan penyelenggaraan turnamen yang profesional sekaligus memberikan perlindungan optimal bagi seluruh pemain,” imbuh Aprizaldi.
Wakil Ketua Panitia Bidang Pertandingan Soekarno Cup 2026, Eri Irawan menyebut pihaknya juga menyiapkan skema pemenuhan nutrisi selama turnamen berlangsung agar kebutuhan energi atlet tetap terjaga. Setiap peserta akan memperoleh tiga kali makan setiap hari, ditambah makanan ringan bergizi, buah, dan minuman pendukung pada hari pertandingan.
“Kami berupaya mengatur waktu konsumsi makanan yang disesuaikan dengan kebutuhan atlet,” ujar Eri.
Eri menambahkan, penerapan food test dan pengawasan gizi secara menyeluruh merupakan bagian dari komitmen panitia dalam membangun pembinaan sepak bola usia muda yang lebih profesional. Menurutnya, pengembangan talenta tidak cukup hanya melalui peningkatan kemampuan teknik dan taktik, tetapi juga harus ditopang kesehatan, keamanan pangan, dan pemenuhan nutrisi yang memadai.
“Upaya ini sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan sepak bola usia muda tidak hanya berfokus pada aspek teknik dan taktik, tetapi juga memperhatikan kesehatan, keamanan pangan, dan pemenuhan nutrisi sebagai fondasi lahirnya atlet-atlet berprestasi,” pungkas Eri. [asg/but]






