Ringkasan Berita:
* Bank Indonesia menyelenggarakan Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 kelima di Alun-Alun Surabaya pada 17-19 Juli 2026 sebagai strategi memperkuat ekosistem komoditas ekspor seperti kopi, teh, kakao, dan rempah-rempah.
* Di tengah ketidakpastian global, ekonomi nasional semester I 2026 tumbuh 5,61 persen dan Jawa Timur tumbuh 5,96 persen pada triwulan I 2026. Melalui festival yang melibatkan 50 UMKM binaan ini, Bank Indonesia memfasilitasi temu bisnis dengan pembeli internasional serta mendorong pemanfaatan Local Currency Transaction untuk mempermudah perdagangan global.
————————————————————————
Surabaya (beritajatim.com) – Bank Indonesia terus berkomitmen mendukung pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia, khususnya pada sektor perkebunan kopi, teh, cokelat, dan rempah-rempah. Langkah tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 yang digelar untuk kelima kalinya di Alun-Alun Kota Surabaya mulai Jumat, 17 Juli 2026 hingga Minggu, 19 Juli 2026. Festival ini diyakini mampu mendongkrak ekonomi daerah dan nasional di tengah tantangan ketidakpastian ekonomi global.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Rifki Ismal, menyampaikan bahwa perekonomian global saat ini masih dibayangi ketidakpastian akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, tingginya harga energi, serta fluktuasi harga komoditas dunia.
“Meski demikian, ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan yang kokoh. Penguatan komoditas unggulan berorientasi ekspor menjadi salah satu strategi krusial untuk menjaga stabilitas dan meningkatkan daya saing ekonomi domestik,” ungkapnya.
Dalam pembukaan JCFF 2026, Rifki memaparkan sejumlah data statistik penting yang menunjukkan capaian serta potensi besar perekonomian domestik:
Pertumbuhan ekonomi nasional pada semester I 2026 mencatatkan angka sebesar 5,61 persen, mengalami peningkatan dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berada di angka 5,39 persen.
Pertumbuhan ekonomi di Pulau Jawa tumbuh sebesar 5,79 persen, mencatatkan performa yang berada di atas rata-rata pertumbuhan nasional.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur pada triwulan I 2026 melaju pesat hingga mencapai 5,96 persen, menjadikannya salah satu motor utama penggerak ekonomi nasional.
Posisi Indonesia kini berada di peringkat keempat sebagai produsen kopi terbesar di dunia setelah Brasil, Vietnam, dan Kolombia, dengan total produksi nasional mencapai kisaran 780 ribu ton per tahun.
Jawa Timur mendominasi sebagai sentra produksi kopi terbesar di Pulau Jawa dengan kontribusi sebesar 53 ribu ton, sementara Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing memproduksi sekitar 25 ribu ton per tahun.
Penyelenggaraan JCFF pada tahun lalu berhasil menarik kunjungan sekitar 130 ribu orang dengan nilai transaksi yang membukukan angka sebesar Rp 107 miliar hanya dalam waktu tiga hari.
Rifki menambahkan, JCFF 2026 tidak sekadar menjadi ajang promosi produk, melainkan wadah integrasi yang mempertemukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), investor, pembeli, akademisi, serta komunitas dalam satu ekosistem bisnis.
Tahun ini, sebanyak 50 UMKM binaan Bank Indonesia dan mitra terlibat aktif, di mana sebagian telah sukses menembus pasar ekspor ke negara seperti Jerman dan Malaysia. Potensi perluasan pasar luar negeri juga terbuka lebar seiring hadirnya calon pembeli potensial internasional dari Nigeria dan China dalam sesi negosiasi bisnis.
Hingga saat ini, Bank Indonesia Jawa Timur mengintegrasikan pendampingan hulu ke hilir bagi sekitar 376 UMKM binaan yang berfokus pada ketahanan pangan dan orientasi ekspor. Guna mempermudah transaksi ekspor dan menekan risiko fluktuasi nilai tukar, Bank Indonesia juga mengoptimalkan pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT). Skema transaksi mata uang lokal ini telah berjalan dengan Malaysia, Thailand, Singapura, Uni Emirat Arab, China, Jepang, serta Korea Selatan, dan direncanakan segera diperluas ke India dan Arab Saudi.[rea]







