Tim nasional Italia datang ke Spanyol untuk mengikuti Piala Dunia 1982 di bawah bayang-bayang skandal taruhan Totonero. Salah satu yang terlibat dan terkena skorsing adalah penyerang klub Juventus Paolo Rossi yang bersinar pada Piala Dunia 1978.
Berkat pelatih timnas Enzo Bearzot, masa skorsing Rossi dipersingkat sehingga bisa tampil di Spanyol. Namun Italia kehilangan striker Roberto Bettega yang cedera saat membela Juventus dalam Piala Champions menghadapi Anderlecht pada November 1981.
Tanpa Bettega, tak ada yang percaya dengan kemampuan timnas Italia untuk bersaing dalam Piala Dunia, termasuk publik sendiri. Hubungan Enzo Bearzot dengan media massa pun memburuk. Sementara para pemain memilih melakukan silenzio stampa alias menolak berbicara kepada pers dan hanya diwakili kapten sekaligus penjaga gawang veteran Dino Zoff.
Benar saja, Italia hanya meraih tiga hasil imbang pada fase grup pertama di Vigo. Laga pembuka melawan Polandia berakhir tanpa gol. Laga kedua melawan Peru diwarnai protes Peru yang merasa dirugikan karena tidak mendapatkan penalti ketika Claudio Gentile menjatuhkan Juan Oblitas. Pertandingan berakhir 1-1.
Italia kembali menuai haisl imbang dalam pertandingan ketiga melawan Kamerun. Ciccio Graziani membawa Italia unggul setelah kesalahan penjaga gawang Thomas N’Kono. Namun Kamerun segera menyamakan kedudukan. Italia lolos hanya berkat selisih gol yang lebih baik dibanding Kamerun.
[irp posts=”1519278″ ]
Berkebalikan dengan Italia, sejumlah negara pesaing justru tampil bagus di awal turnamen. Kendati sempat kalah 0-1 dari Belgia berkat gol Erwin Vandenbergh dalam pertandingan pertama penyisihan Grup 3, Argentina yang diperkuat Diego Maradona lolos ke babak selanjutnya setelah mengalahkan Hungaria dan El Salvador.
Bryan Robson mencetak gol tercepat di Piala Dunia pada detik ke-27 saat timnya Inggris membekuk Prancis 3-1. Kedua negara lolos dari Grup 4 ke fase berikutuya setelah mengalahkan Cekoslowakia dan Kuwait.
Di Grup 5, Irlandia Utara menciptakan kisah luar biasa. Setelah bermain imbang melawan Yugoslavia dan Honduras, mereka menghadapi tuan rumah Spanyol. Bermain dengan sepuluh orang setelah Mal Donaghy diusir wasit, Irlandia Utara berhasil menaklukkan Spanyol 1-0 berkat gol tunggal Gerry Armstrong. Hasil tersebut membawa mereka menjadi juara grup.
Brasil tampil meyakinkan di fase awal dengan memenangi seluruh pertandingan dii Grup 6 dan mencetak sepuluh gol. Sementara Skotlandia mengulangi kisah tragis Piala Dunia 1978: kembali tersingkir karena selisih gol.
Aljazair membuat kejutan besar di Grup 2 dengan mengalahkan Jerman Barat 2-1. Aljazair tak berhenti membuat kejutan di putaran pertama ini, dengan menahan imbang Austria 0-0 dan mengalahkan Chile 3-2 setelah sempat unggul 3-0 pada pertandingan terakhir.
Dengan hasil yang dituai Aljazait, pertandingan terakhir Grup 2 antara Jerman Barat melawan Austria menjadi sangat menentukan. Jerman Barat dan Austria bisa lolos bersama dengan predikat juara dan runner-up Grup 2, asalkan hanya Austria kalah dengan selisih tidak lebih dari satu gol.
Jerman Barat sendiri dalam posisi diuntungkan dengan surplus agregat dua gol setelah mengalahkan Chile 4-1 pada pertandingan kedua. Sementara Aljazait hanya mengantongi agregat akhir nol dari tiga pertandingan.
Di sinilah kontroversi terjadi. Jerman Barat dan Austria dituduh main mata untuk menyingkirkan Aljazair. Kecurigaan menguat setelah Horst Hrubesch mencetak gol pada menit ke-10, pertandingan praktis kehilangan intensitas. Hampir tidak ada serangan berarti hingga akhir laga.
Penonton marah dan menganggap kedua tim sengaja mempertahankan hasil yang menguntungkan mereka. Protes Aljazair kepada FIFA tidak mengubah hasil. Namun peristiwa itu mendorong FIFA menetapkan semua pertandingan terakhir fase grup dimainkan secara bersamaan mulai Piala Dunia 1986.
Dalam putaran kedia, Italia berhadapan dengan Brasil dan Argentina di Grup C. Saat menghadapi Argentina, Claudio Gentile berhasil menjalankan tugas untuk menempel ketat Diego Maradona. Setelah babak pertama yang membosankan, umpan Giancarlo Antognoni menghasilkan gol Marco Tardelli.
Kemudian Antonio Cabrini mencetak gol kedua setelah bekerja sama dengan Rossi dan Bruno Conti. Argentina hanya mampu membalas melalui Daniel Passarella dari tendangan bebas. Italia menang 2-1 dan membuka peluang lolos.
Argentina kembali menuai kekalahan saat melawan Brasil. Kali ini dengan skor 1-3 dan bintang muda Diego Maradona harus keluar lapangan karena terkena kartu merah setelah menendang pangkal paha pemain Brasil, Joao Batista.
Pertandingan berikutnya antara Italia melawan Brasil dianggap sebagai partai final sejati Piala Dunia 1982. Brasil adalah favorit kuat juara yang diperkuat deretan gelandang tangguh seperti Zico, Socrates, Falcao, dan Toninho Cerezo.
Namun Paolo Rossi tampil gemilang. Setelah pertandingan berjalan lima menit, dia menyundul bola umpan Cabrini untuk membawa Italia unggul.
Socrates menyamakan kedudukan setelah menerima umpan Zico. Namun Rossi memanfaatkan kesalahan umpan Toninho Cerezo untuk mencetak gol kedua.
Pada babak kedua Falcao membuat skor menjadi 2-2. Namun lima belas menit menjelang akhir pertandingan, Rossi kembali muncul di tempat yang tepat untuk mencetak gol ketiganya. Hat-trick tersebut memastikan kemenangan Italia 3-2 sekaligus menyingkirkan Brasil.
Sementara itu Inggris tersingkir di fase kedua Grup B meskipun tidak terkalahkan. Mereka bermain imbang tanpa gol melawan Jerman Barat dan Spanyol.
Uni Soviet juga mengalami nasib serupa setelah disingkirkan Polandia di Grup A meski tidak kebobolan satu gol pun. Dan Prancis lolos ke semifinal setelah mengalahkan Austria dan Irlandia Utara di Grup D.
[irp posts=”1519250″ ]
Semifinal mempertemukan Italia dengan Polandia dan Jerman Barat melawan Prancis. Italia menang 2-0 berkat dua gol Paolo Rossi. Di semifinal lainnya, Prancis sempat unggul 3-1 dalam perpanjangan waktu, namun Jerman Barat mampu menyamakan kedudukan menjadi 3-3.
Pemain Prancis Patrick Battiston kehilangan gigi dan sempat koma setelah ditabrak penjaga gawang Jerman Barat Harald Schumacher. Namun wasit tidak memberikan pelanggaran maupun kartu. Pada akhirnya pertandingan ditentukan melalui adu penalti pertama dalam sejarah Piala Dunia, dan Jerman Barat menang 5-4.
Final di Stadion Santiago Bernabeu mempertemukan Italia dan Jerman Barat. Antonio Cabrini gagal memanfaatkan hadiah penalti untuk membawa Italia unggul setelah arah bola yang ditendangnya melebar.
Namun pada menit ke-57, Rossi menyundul bola umpan silang Claudio Gentile untuk membuka skor. Gol itu menjadi gol keenamnya di turnamen dan memastikan dirinya meraih Sepatu Emas sekaligus penghargaan pemain terbaik.
Italia semakin unggul ketika Marco Tardelli mencetak gol kedua pada menit ke-69. Selebrasinya yang penuh emosi menjadi salah satu adegan paling ikonik yang diabadikan dalam sejarah Piala Dunia. Menjelang akhir pertandingan, Alessandro Altobelli menambah gol ketiga melalui serangan balik cepat. Jerman Barat hanya mampu membalas lewat Paul Breitner.
Kemenangan 3-1 memastikan Italia meraih gelar juara dunia ketiga mereka, menyamai rekor Brasil saat itu. Paolo Rossi menemukan jalan pertobatannya dengan menjadi juata dunia. Sementara Dino Zoff mengangkat trofi sebagai kapten pada usia 40 tahun. [wir/aje]






