Mojokerto (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting dan pengendalian penduduk sebagai bagian dari pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas.
Komitmen tersebut disampaikan Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari saat membuka Forum Koordinasi Isu Strategis Kependudukan dan Stunting di Sabha Kridatama Rumah Rakyat.
Ning Ita (sapaan akrab, red) menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari kemajuan infrastruktur maupun pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kualitas SDM menjadi faktor utama yang menentukan masa depan daerah. “Yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk saat ini, tetapi juga menjadi fondasi bagi pembangunan 10 hingga 20 tahun ke depan. Karena itu, isu kependudukan dan stunting harus menjadi perhatian bersama,” ungkapnya, Rabu (17/6/2026).
Ning Ita menjelaskan, Pemkot Mojokerto terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat, kalangan akademisi, serta Badan Pusat Statistik (BPS) untuk memastikan data stunting yang digunakan benar-benar valid dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Data yang akurat dinilai menjadi kunci agar program penanganan stunting dapat berjalan tepat sasaran.
Selain penguatan data, Pemkot Mojokerto juga terus meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait pencegahan stunting. Menurut Ning Ita, peran keluarga, khususnya orang tua, sangat penting dalam menjaga kesehatan anak sejak masa kehamilan hingga usia lima tahun. Ia menekankan bahwa stunting tidak hanya ditemukan pada keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu.
“Stunting juga dapat terjadi pada keluarga pekerja apabila kurang memperhatikan pola asuh dan pemenuhan gizi anak. Stunting tidak hanya terjadi pada keluarga kurang mampu. Ada juga kasus yang ditemukan pada keluarga pekerja. Karena itu, pemahaman dan perhatian terhadap pola asuh anak harus terus ditingkatkan,” katanya.
Dalam forum tersebut, Ning Ita juga menyoroti pentingnya memanfaatkan bonus demografi yang saat ini dimiliki Indonesia. Menurutnya, besarnya jumlah penduduk usia produktif dapat menjadi modal pembangunan apabila dibekali keterampilan yang memadai dan didukung tersedianya lapangan kerja. Ia mengungkapkan, pemerintah pusat telah membuka berbagai peluang pelatihan dan penempatan kerja bagi lulusan sekolah menengah.
Kesempatan tersebut, termasuk peluang bekerja di luar negeri setelah mengikuti pelatihan dan sertifikasi kompetensi, perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas SDM dan daya saing generasi muda. Melalui sinergi berbagai pihak, Pemkot Mojokerto berharap upaya percepatan penurunan stunting dan pengendalian penduduk dapat berjalan lebih efektif, sehingga mampu melahirkan generasi yang sehat, produktif, dan siap menghadapi tantangan pembangunan di masa mendatang. [tin/ted]






