Blitar (beritajatim.com) – Atmosfer Seminar Nasional yang digelar di Istana Gebang, Kota Blitar, mendadak riuh oleh gemuruh tepuk tangan dan tawa para peserta. Momen menarik ini terjadi saat Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, memberikan sambutan pembuka yang sarat akan pesan simbolis dan sindiran politik tajam.
Di awal sambutannya, Hasto secara khusus menarik perhatian publik dengan meminta seluruh hadirin memberikan apresiasi yang meriah kepada moderator acara yang memandu diskusi, yakni Joko Pramono.
Usai gemuruh tepuk tangan dari ratusan peserta mereda, Hasto langsung membeberkan alasan unik sekaligus menohok di balik permintaannya tersebut. Seloroh politisi asal Yogyakarta ini pun seketika mengubah suasana akademis menjadi panggung kritik politik yang segar.
“Kenapa saya minta tepuk tangan untuk moderator karena namanya Joko Blitar bukan Joko yang lain,” ujar Hasto yang langsung disambut senyum penuh arti dari para peserta yang hadir pada Minggu (14/06/2026).
Tak berhenti di situ, Hasto kemudian melanjutkan kalimatnya dengan kontras yang lebih tebal. Pilihan diksinya seolah menegaskan arah kritik yang ingin ia sampaikan di tengah situasi dinamika nasional belakangan ini.
“Joko yang mencerdaskan kehidupan bangsa bukan yang merusak tatanan Indonesia,” imbuhnya disambut riuh tepuk tangan kembali.
Seminar Nasional ini sendiri dihadiri oleh sejumlah akademisi, tokoh masyarakat, serta ratusan kader yang berkumpul untuk membedah arah juang bangsa, namun pernyataan Hasto justru berhasil mencuri panggung utama. (owi/but)






