Ringkasan Berita
- DP3AP2KB Kota Kediri melatih 120 kader BKB dan BKR.
- Pelatihan difokuskan pada pola asuh positif dan pencegahan kekerasan anak.
- Kader didorong menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
- Masyarakat diminta aktif melaporkan indikasi kekerasan terhadap anak.
Kediri (beritajatim.com) – Upaya Pencegahan Kekerasan Anak Kota Kediri terus diperkuat. Pemerintah Kota Kediri melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) menggelar Training of Trainers (TOT) Kader Sahabat Keluarga yang diikuti sekitar 120 kader pendamping keluarga dari berbagai kelurahan, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Rapat BKPSDM Kota Kediri tersebut melibatkan perwakilan kader Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Keluarga Remaja (BKR). Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader dalam mendampingi keluarga, khususnya terkait penerapan pola asuh yang positif, komunikatif, dan bebas dari kekerasan.
Kader Jadi Garda Terdepan Pendampingan Keluarga
Kepala DP3AP2KB Kota Kediri, dr Fajri Mubasysyir, menegaskan bahwa kader BKB dan BKR memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan keluarga di lingkungan masyarakat.
Menurutnya, para kader perlu dibekali pemahaman yang kuat mengenai pola pengasuhan yang sehat agar dapat memberikan edukasi yang tepat kepada para orang tua.
“Secara teori, banyak orang tua yang sebenarnya tahu cara mengasuh anak. Namun di lapangan, karena situasi stres atau kondisi anak, orang tua sering kali refleks menerapkan pola asuh yang otoriter,” ujarnya.
Karena itu, kader di tingkat kelurahan diharapkan mampu menjadi pendamping sekaligus pengingat bagi orang tua agar menerapkan pola asuh yang lebih positif dan mendukung tumbuh kembang anak.
Bekali Kader dengan Materi Pola Asuh Positif
Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai Penguatan Keluarga Berbasis Relasi dan Pola Asuh Sadar.
Materi disampaikan oleh Arbita Wafdatul Ilmia, psikolog dari Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) DP3AP2KB Kota Kediri.
Melalui materi tersebut, peserta dibekali pemahaman mengenai pentingnya komunikasi yang sehat dalam keluarga, pengelolaan emosi orang tua, hingga cara membangun hubungan yang positif dengan anak.
Pendekatan ini dinilai penting untuk mencegah munculnya perilaku kekerasan yang sering kali terjadi akibat pola pengasuhan yang kurang tepat.
Didorong Menjadi Agen Perubahan
Usai mengikuti pelatihan, para kader diharapkan tidak hanya memahami materi yang diberikan, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Mereka diharapkan dapat menyebarluaskan pengetahuan yang diperoleh kepada kader lain maupun keluarga yang mereka dampingi.
“Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini tidak berhenti pada peserta yang hadir saja, namun bisa ditularkan ke kader lain yang belum bisa hadir. Mereka adalah garda terdepan dalam pendampingan keluarga,” jelas dr Fajri.
Dengan semakin banyak keluarga yang memahami pola asuh positif, diharapkan risiko kekerasan terhadap anak dapat ditekan sejak dini.
Berperan Deteksi Dini Kasus Kekerasan Anak
Selain sebagai pendamping keluarga, kader BKB dan BKR juga diharapkan mampu menjadi mata dan telinga pemerintah dalam mendeteksi adanya indikasi kekerasan terhadap anak di lingkungan sekitar.
Peran tersebut dinilai sangat penting mengingat banyak kasus kekerasan yang tidak terungkap karena minimnya laporan dari masyarakat.
Kader yang berada langsung di tengah masyarakat memiliki posisi strategis untuk mengenali tanda-tanda awal dan memberikan respons cepat sebelum kondisi semakin memburuk.
Berbagai Program Pencegahan Terus Dijalankan
dr Fajri menjelaskan, upaya perlindungan anak di Kota Kediri selama ini tidak hanya dilakukan melalui pelatihan kader.
DP3AP2KB juga aktif melaksanakan berbagai program edukasi dan sosialisasi di tingkat kelurahan maupun sekolah.
Beberapa program yang telah berjalan antara lain edukasi melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), penguatan konselor sebaya, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk mendeteksi indikasi kekerasan saat proses pelayanan kesehatan.
Langkah tersebut dilakukan agar upaya pencegahan dapat menjangkau lebih banyak kelompok masyarakat, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang tua.
Masyarakat Diminta Aktif Melapor
Dalam kesempatan itu, DP3AP2KB juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar dan tidak ragu melaporkan jika menemukan dugaan kekerasan terhadap anak.
Menurut dr Fajri, keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah anak.
“Apabila kader menemukan dugaan kasus kekerasan anak, mereka dapat berkoordinasi dengan Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) di tingkat kelurahan. Selanjutnya laporan akan diteruskan kepada Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) Kota Kediri untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut,” tegasnya.
Melalui penguatan kapasitas kader dan kolaborasi lintas sektor, Pemerintah Kota Kediri berharap upaya pencegahan kekerasan terhadap anak dapat dilakukan lebih efektif. Dengan lingkungan keluarga yang sehat dan pola asuh yang positif, tumbuh kembang anak di Kota Kediri diharapkan dapat berlangsung secara optimal dan bebas dari berbagai bentuk kekerasan. [nm/kun]






