RINGKASAN BERITA:
PPIH Arab Saudi menerima piagam penghargaan resmi dari Yayasan Wakaf Mushaf di bawah naungan lembaga resmi Adahi.
Sebanyak 135.367 jemaah haji Indonesia tercatat telah menunaikan pembayaran dam secara tertib melalui jalur resmi pemerintah.
Otoritas Arab Saudi memberikan kebebasan bagi jemaah untuk membayar dam di tanah air selama memberikan ketenangan spiritual.
Kemenhaj RI berkomitmen meningkatkan transparansi tata kelola dam agar manfaat daging kurban meluas hingga ke Indonesia.
Makkah (beritajatim.com) — Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 resmi menerima piagam penghargaan atau syahadah ucapan terima kasih dari Yayasan Wakaf Mushaf Adahi atas keberhasilan mengoordinasikan sistem pembayaran dam (hadyu) jemaah haji Indonesia secara transparan, akuntabel, dan tertib. Penyerahan sertifikat apresiasi tersebut berlangsung di Kantor Urusan Haji Daerah Kerja (Daker) Makkah pada Senin (08/06/2026) petang Waktu Arab Saudi (WAS).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) menyaksikan langsung piagam penghargaan itu diserahkan oleh Musyrif ‘Am (Pengawas Umum) Yayasan Wakaf Mushaf Adahi, Syekh Iskandar Muhammad Ismail, kepada Ketua PPIH Arab Saudi 2026, Ian Heryawan. Langkah ini menjadi bentuk pengakuan tertinggi atas komitmen Indonesia dalam mematuhi regulasi ketat yang ditetapkan oleh Kerajaan Arab Saudi.
Ketua PPIH Arab Saudi 2026, Ian Heryawan, menyatakan rasa syukur mendalam atas kehadiran perwakilan Adahi. Berdasarkan data rekapitulasi mutakhir, tingkat kepatuhan jemaah reguler untuk menyetorkan kewajiban denda haji melalui lembaga yang ditunjuk pemerintah mengalami lonjakan yang sangat masif.
“Kita bersyukur bahwa pada sore hari ini kita kehadiran Syekh Iskandar dari Yayasan Wakaf yang, maksud saya, Wakaf Mushafi di bawah naungan Ad-Dahi. Sebanyak 135.367 jemaah sudah menunaikan membayar dam melalui Adahi, dan salah satu yayasan atau naungan di bawah Adahi, yaitu Yayasan Wakaf Mushaf, yang alhamdulillah bekerja sama dengan Adahi,” rinci Ian Heryawan kepada Media Center Haji di Makkah.
Pendekatan Proaktif Petugas dan Jaminan Transparansi
Ian menguraikan, kesuksesan pengumpulan dana dam dari ratusan ribu jemaah ini tidak terlepas dari pergerakan proaktif para petugas yayasan yang bersinergi dengan PPIH sejak fase sebelum puncak Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). Para petugas terjun langsung menyisir hotel pemondokan jemaah di Makkah guna mengedukasi sekaligus memfasilitasi bimbingan teknis transaksi perbankan.
“Dari yayasan wakaf juga berada di hotel-hotel yang ada di hotel di Makkah di jemaah Indonesia dan proaktif memberikan bantuan bimbingan proses pembayaran dam melalui Ad-Dahi. Mudah-mudahan dam dari jemaah haji Indonesia yang dibayarkan melalui Ad-Dahi diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjadikan jemaah haji kita jemaah haji yang mabrur,” tambah Ian.
Terkait aspek keterbukaan finansial, Ian menegaskan pihak PPIH Arab Saudi telah melakukan inspeksi serta peninjauan langsung ke situs pemotongan hewan untuk memastikan akurasi data.
“Sampai saat ini kita juga sudah melaksanakan pengecekan langsung, kita kunjungan, dan juga kita melihat secara langsung tentang transparansi ini. Mungkin ke depan akan lebih optimal lagi bagaimana jemaah bisa betul-betul bisa yakin betul bahwa memang dam melalui Ad-Dahi ini akan lebih mendekatkan kepada kesempurnaan dalam menunaikan ibadah,” urainya.
Sementara itu, Musyrif ‘Am Yayasan Wakaf Mushaf Adahi, Iskandar Muhammad Ismail menegaskan bahwa dokumen syahadah ini merupakan wujud penghormatan atas komitmen tim manajerial Indonesia yang mampu mengorganisasi jemaah dalam jumlah kolosal secara rapi tanpa gejolak logistik.
“As-syahadah, syahadah syukr wa taqdir ‘ala juhud al-bi’tsah ka syakl kamil (Ini adalah piagam penghargaan dari kami, Wakaf Mushaf, sebagai bentuk rasa terima kasih atas kerja sama yang baik dari PPIH Arab Saudi dalam membantu jemaah melakukan pembayaran dam ke Adahi melalui kami),” papar Iskandar.
Merespons pertanyaan mengenai adanya sebagian jemaah haji Indonesia yang memilih membayarkan dam nusuk mereka di tanah air sebelum terbang, Iskandar menyatakan bahwa Kerajaan Arab Saudi bersikap sangat fleksibel. Konsep utama dari regulasi haji modern adalah memprioritaskan ketenangan psikologis dan kemudahan bagi para tamu Allah.
“Jadi menurut beliau, Pemerintah Arab Saudi sendiri menyerahkan sepenuhnya sesuatu yang membuat jemaah haji itu tenang. Kalau jemaah haji itu tenang membayar damnya itu di negaranya sendiri, mereka sama sekali tidak keberatan dan itu sudah banyak dilakukan oleh negara lain,” jelas Khairun Naim menerjemahkan penjelasan Iskandar dalam bahasa Arab.
Iskandar memungkasi bahwa sinergi masif ini membuahkan kesuksesan operasional yang luar biasa pada musim haji 1447 H / 2026 M. Ke depan, daging hewan dam yang disembelih melalui Adahi diproyeksikan tidak hanya didistribusikan untuk fakir miskin di internal wilayah Arab Saudi, melainkan juga dikirimkan secara masif ke belahan dunia Islam lainnya yang membutuhkan. [ian/MCH/but]







