Jakarta (beritajatim.com) – PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) memperkuat komitmennya terhadap pembiayaan berkelanjutan dengan berpartisipasi dalam fasilitas syndicated sustainability-linked loan (SLL) senilai US$750 juta untuk PT Vale Indonesia Tbk.
Pembiayaan yang melibatkan 17 perbankan tersebut ditujukan untuk mendukung transformasi industri pertambangan yang lebih ramah lingkungan sekaligus memperkuat hilirisasi nikel nasional.
Langkah ini menjadi bagian dari implementasi visi keberlanjutan CIMB Niaga dalam mendorong pembangunan ekonomi yang sejalan dengan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Dukungan terhadap PT Vale Indonesia dinilai strategis mengingat perusahaan tersebut merupakan salah satu produsen nikel terbesar di Indonesia yang berperan penting dalam rantai pasok industri kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Fasilitas pembiayaan berbasis keberlanjutan ini menghubungkan kinerja pinjaman dengan pencapaian indikator-indikator keberlanjutan yang telah ditetapkan. Melalui skema tersebut, perusahaan penerima pembiayaan didorong untuk terus meningkatkan praktik operasional yang berwawasan lingkungan dan mendukung target pengurangan emisi karbon.
Head of Corporate, Investment Banking Coverage & Loan Syndication CIMB Niaga, Miranty Supardi, mengatakan keterlibatan perseroan dalam fasilitas SLL tersebut sejalan dengan visi keberlanjutan perusahaan yang mengusung semangat “Sekarang Untuk Masa Depan”.
“Keterlibatan CIMB Niaga dalam fasilitas sustainability-linked loan ini merupakan wujud dukungan kami terhadap keberlanjutan di industri ekstraktif. Kami memahami bagaimana Vale Indonesia telah menerapkan best practice dalam operasionalnya, termasuk penggunaan energi terbarukan melalui pembangkit listrik tenaga air (hydropower), sehingga mampu menghasilkan produk nikel dengan emisi rendah, serta memiliki rencana pengembangan energi terbarukan dan elektrifikasi untuk menurunkan intensitas emisi di masa depan. Hal ini sejalan dengan komitmen CIMB Group menuju Net Zero Emission pada 2050,” ujar Miranty di Jakarta, Selasa (8/6/2026).
Menurutnya, sektor pertambangan saat ini memegang peran penting dalam mendukung transisi energi global, khususnya melalui penyediaan bahan baku mineral kritis yang dibutuhkan untuk produksi baterai kendaraan listrik dan teknologi energi bersih lainnya.
Nikel menjadi salah satu komoditas strategis yang permintaannya terus meningkat seiring berkembangnya industri kendaraan listrik di berbagai negara. Karena itu, dukungan terhadap perusahaan yang menerapkan praktik pertambangan berkelanjutan dinilai dapat memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Miranty menjelaskan, partisipasi dalam pembiayaan tersebut juga merupakan bagian dari strategi diversifikasi portofolio pembiayaan CIMB Niaga. Perseroan melihat sektor critical minerals memiliki prospek jangka panjang yang kuat karena menjadi fondasi pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan energi terbarukan.
“Dengan mendukung Vale Indonesia, CIMB Niaga tidak hanya memperkuat pertumbuhan bisnis berkelanjutan, tetapi juga berkontribusi aktif dalam mempercepat transisi energi dan pencapaian target pembangunan berkelanjutan nasional maupun global,” tambahnya.
Di sisi lain, fasilitas pembiayaan ini juga mendukung agenda hilirisasi mineral yang menjadi salah satu prioritas pemerintah Indonesia. Hilirisasi nikel tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik dunia.
Komitmen sektor perbankan dalam mendukung pembiayaan hijau dinilai menjadi faktor penting dalam mempercepat transformasi industri menuju praktik yang lebih berkelanjutan. Melalui instrumen seperti sustainability-linked loan, perusahaan didorong untuk menyeimbangkan pertumbuhan bisnis dengan tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
Ke depan, CIMB Niaga menegaskan akan terus memperluas dukungan pembiayaan pada sektor-sektor yang berkontribusi terhadap transisi energi dan ekonomi rendah karbon.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung pencapaian target emisi nol bersih (Net Zero Emission) sekaligus mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia. (ted)






