Ringkasan Berita:
- BPBD Lumajang memasang 16 perangkat early warning system (EWS) di kawasan rawan Gunung Semeru.
- Perangkat terdiri atas 12 kamera CCTV dan 4 sirine yang ditempatkan di sejumlah titik strategis.
- Sistem peringatan dini diharapkan mempercepat deteksi aktivitas vulkanik dan proses evakuasi warga.
- BPBD berharap BNPB menambah perangkat EWS karena status Gunung Semeru masih Level III (Siaga).
Lumajang (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang memperkuat sistem mitigasi bencana Gunung Semeru dengan memasang 16 unit early warning system (EWS) atau sistem peringatan dini di sejumlah titik rawan terdampak erupsi dan awan panas guguran.
Perangkat tersebut terdiri atas 12 kamera closed circuit television (CCTV) dan 4 unit sirine yang ditempatkan di kawasan lereng Gunung Semeru untuk mendukung pemantauan aktivitas vulkanik sekaligus mempercepat penyampaian peringatan kepada masyarakat.
Kalaksa BPBD Lumajang, Isnugroho, mengatakan seluruh perangkat dipasang pada titik-titik strategis yang selama ini menjadi kawasan rawan terdampak aktivitas Gunung Semeru.
Sebanyak tiga unit CCTV dipasang di kawasan Batu Padat, satu unit di Jalur Piket Nol, satu unit di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), satu unit di Blok Watu Kobong, Pos Pantau Curah Kobokan, Desa Supiturang, kawasan Antrukan, titik penyeberangan Curah Kobokan, Bukit Simbar, serta di daerah aliran Sungai (DAS) Kobokan.
Sementara itu, empat unit sirine ditempatkan di Blok Batu Padat, Desa Supiturang, Pos Pantau Curah Kobokan, dan kawasan Antrukan yang dinilai memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Jadi untuk mitigasi aktivitas Semeru saat ini kita sudah punya 16 EWS yang sudah terpasang di titik-titik rawan. Ini enam unit di antaranya tambahan baru, empat CCTV dan dua sirine,” ucap Isnugroho di Lumajang, Selasa (9/6/2026).
Menurutnya, masing-masing perangkat memiliki fungsi penting dalam mendukung sistem mitigasi bencana. Kamera CCTV memungkinkan petugas maupun masyarakat memantau perkembangan aktivitas Gunung Semeru secara langsung sebagai bagian dari upaya meningkatkan kewaspadaan.
Sementara itu, sirine berfungsi memberikan peringatan kepada masyarakat apabila terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang berpotensi membahayakan kawasan sekitar.
“Nah, untuk sirene jika berbunyi putus-putus, artinya masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan atau berada dalam kondisi siaga. Sedangkan, kalau berbunyi dengan durasi lebih panjang dan terus menerus, artinya harus segera evakuasi ke tempat yang lebih aman,” jelas Isnugroho.
BPBD Lumajang berharap Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat menambah jumlah perangkat EWS di kawasan Gunung Semeru. Penambahan sistem peringatan dini dinilai penting mengingat Gunung Semeru hingga kini masih berstatus Level III atau Siaga sehingga potensi aktivitas vulkanik tetap harus diantisipasi.
“Jadi, kami berharap pihak BNPB bisa menjadikan Semeru prioritas utama dalam rangka mencegah terjadinya korban jiwa,” ungkapnya. [has/beq]






