Bondowoso (beritajatim.com) – Jembatan darurat Sentong yang menghubungkan Kelurahan Nangkaan-Desa Sukowiryo, Kecamatan/Kabupaten Bondowoso akhirnya rampung dibangun. Jembatan itu mulai bisa dimanfaatkan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Bondowoso meminta warga ikut menjaga fasilitas tersebut karena jembatan hanya bersifat sementara hingga pembangunan jembatan utama selesai.
Kepala Dinas Bina Marga, Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (BSBK) Kabupaten Bondowoso, Ansori, mengatakan jembatan darurat kini sudah dapat dilalui warga dengan sejumlah pembatasan demi keselamatan.
“Jembatan darurat Sentong sudah selesai dikerjakan dan bisa dilalui oleh warga. Kami mengimbau pada warga agar sama-sama menjaga jembatan darurat ini,” ujarnya, Kamis (14/5/2026).
Menurut Ansori, jembatan darurat tersebut hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Sedangkan pengguna sepeda gowes diperbolehkan melintas dengan syarat sepeda harus dituntun.
“Maksimal boleh dilintasi pejalan kaki. Yang naik sepeda gowes harus dituntun, tidak boleh dikendarai,” katanya.
Ia menegaskan kendaraan bermotor roda dua tidak diperbolehkan melintas di atas jembatan darurat tersebut. Pemotor diminta menggunakan jalur alternatif.
“Sementara pemotor tidak boleh melintas dan disarankan melewati jalur alternatif di Nangkaan–Jetis-Kembang,” tambahnya.

Ansori menjelaskan, pembangunan jembatan darurat dilakukan menggunakan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD Bondowoso 2026 sebesar Rp70 juta.
Secara teknis, jembatan darurat itu membentang di atas sungai sepanjang 14 meter. Sedangkan total panjang akses jembatan dari titik up break mencapai sekitar 70 meter.
Meski sudah selesai dibangun, pihaknya memastikan pengawasan dan pemeliharaan akan tetap dilakukan secara berkala untuk menjamin keamanan warga yang melintas.
“Walaupun sudah rampung dibangun, tapi kami masih terus melakukan pemantauan, pengawasan dan pemeliharaan hingga pembangunan jembatan utama Sentong selesai,” jelasnya.
Sementara itu, pembangunan jembatan utama Sentong ditargetkan rampung pada Oktober hingga November 2026. Proyek permanen tersebut akan dibiayai melalui APBD Provinsi Jawa Timur dengan anggaran mencapai Rp14,7 miliar. (awi/but)






