Ringkasan Berita:
- Suhu di Arab Saudi mencapai 42 derajat Celsius dan menjadi ancaman serius bagi jemaah haji Ponorogo.
- Jemaah lansia dan kategori risiko tinggi paling rentan mengalami kelelahan serta dehidrasi.
- Kemenhaj Ponorogo mengimbau penggunaan pelindung diri dan peningkatan konsumsi air putih.
- Petugas kesehatan siaga memantau kondisi jemaah selama menjalani ibadah di Makkah.
Ponorogo (beritajatim.com) – Gelombang panas ekstrem di Arab Saudi dengan suhu harian mencapai 42 derajat Celsius menjadi perhatian serius bagi jemaah haji asal Ponorogo, terutama kelompok lanjut usia dan jemaah risiko tinggi (risti).
Kondisi cuaca panas tersebut dinilai berpotensi memicu kelelahan, dehidrasi, hingga penurunan kondisi fisik jika tidak diantisipasi dengan baik.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Ponorogo, Marjuni, mengatakan cuaca ekstrem mulai berdampak terhadap kesehatan jemaah asal Ponorogo yang tergabung dalam kloter 19 dan 20.
“Terutama jemaah risti, banyak yang minta obat karena sakit ringan. Suhunya panas di sana,” kata Marjuni, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, para jemaah kini telah bergerak menuju Makkah dan mulai menjalani berbagai rangkaian ibadah yang banyak dilakukan di luar ruangan, sehingga paparan panas menjadi tantangan utama.
Marjuni menjelaskan, kombinasi suhu tinggi dan aktivitas ibadah yang padat dapat menurunkan stamina jemaah, terutama jika tetap memaksakan diri menjalankan ibadah sunnah secara berlebihan.
Banyak jemaah disebut merasa sayang jika berada di Tanah Suci tanpa memperbanyak ibadah, namun kondisi tersebut berpotensi berisiko bagi kesehatan.
Sebagai langkah preventif, Kemenhaj Ponorogo meminta jemaah disiplin menjaga kondisi tubuh, membatasi aktivitas fisik berlebihan, dan memastikan kebutuhan cairan terpenuhi.
“Kami minta kalaupun harus keluar hotel, pakai topi dan alat pelindung lainnya. Jemaah lansia kami imbau sabar dulu di hotel, juga perbanyak minum air putih,” pinta Marjuni.
Penggunaan topi, payung, masker, serta perlengkapan pelindung panas lainnya dinilai penting untuk mengurangi paparan langsung sinar matahari.
Selain itu, jemaah juga diimbau segera melapor kepada petugas kesehatan jika mengalami gejala ringan seperti pusing, lemas, batuk, atau tanda dehidrasi.
“Kesehatan bekal utama menuju puncak haji. Jangan menunggu kondisi memburuk, segera sampaikan keluhan kepada petugas agar dapat ditangani sejak awal,” tegasnya.
Petugas kesehatan di setiap kloter terus melakukan pemantauan intensif terhadap kondisi fisik jemaah, khususnya lansia dan kelompok rentan.
Dengan puncak ibadah haji yang masih akan berlangsung, menjaga kebugaran tubuh menjadi prioritas utama agar seluruh jemaah dapat menyelesaikan rangkaian ibadah dengan aman, lancar, dan optimal.
Kemenhaj Ponorogo berharap seluruh jemaah asal Bumi Reog tetap mengutamakan kesehatan selama berada di Tanah Suci demi kelancaran pelaksanaan ibadah haji 2026. [end/beq]






