Ringkasan Berita:
- Sebanyak 564 jemaah haji Ponorogo mulai beradaptasi dengan cuaca Madinah.
- Suhu 32–38 derajat Celsius dinilai cukup menguras energi jemaah.
- Petugas meminta jemaah disiplin menjaga kesehatan dan tidak berlebihan beribadah sunah.
- Stamina harus dijaga agar puncak ibadah wajib di Makkah berjalan optimal.
Ponorogo (beritajatim.com) – Sebanyak 564 jemaah haji asal Ponorogo yang tiba di Madinah sejak 28 April 2026 diminta menjaga stamina sejak fase awal perjalanan agar kondisi fisik tetap prima menghadapi puncak ibadah haji di Makkah.
Adaptasi terhadap cuaca panas dan ritme aktivitas ibadah yang padat menjadi perhatian serius petugas karena kelelahan di awal berpotensi mengganggu pelaksanaan rangkaian ibadah utama.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Ponorogo, Marjuni, menegaskan bahwa disiplin menjaga kesehatan menjadi faktor kunci selama masa awal di Madinah.
“Secara umum jemaah sudah mulai menyesuaikan dengan cuaca. Namun kami tetap mengimbau agar disiplin menjaga kesehatan,” ujarnya, Sabtu (2/5/2026).
Menurutnya, suhu di Madinah berkisar antara 32 hingga 38 derajat Celsius, kondisi yang cukup menguras energi jika jemaah tidak mampu mengatur pola aktivitas dengan baik.
Karena itu, jemaah diminta menjaga pola istirahat, memperbanyak konsumsi air, serta tetap menggunakan pelindung diri seperti masker dan penutup kepala.
“Mulai muncul kecenderungan sebagian jemaah merasa sudah nyaman, sehingga tidak lagi menggunakan pelindung seperti masker maupun penutup kepala,” jelasnya.
Di tengah proses penyesuaian, agenda ibadah dan ziarah tetap berjalan, termasuk city tour bagi Kloter 19 dan 29 serta ziarah ke Raudhah bagi jemaah perempuan.
Padatnya kegiatan tersebut membuat pengelolaan stamina menjadi kebutuhan utama.
“Kami terus mengingatkan melalui grup kloter agar jemaah tidak memaksakan diri, terutama dalam menjalankan ibadah sunah di Madinah,” terangnya.
Marjuni menegaskan bahwa menjaga tenaga sejak awal merupakan langkah penting agar ibadah wajib di Makkah dapat dijalani secara maksimal.
Petugas juga terus memantau kondisi jemaah, khususnya mereka yang tergolong risiko tinggi, guna mencegah gangguan kesehatan.
“Jangan sampai tenaga habis di awal. Paling penting ibadah wajib nanti bisa dijalankan dengan maksimal,” pungkasnya.
Imbauan ini menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan ibadah haji tidak hanya ditentukan oleh semangat spiritual, tetapi juga kesiapan fisik yang terjaga sejak awal perjalanan. [end/beq]






