Surabaya (beritajatim.com) – Biarawati asal Nusa Tenggara Timur, Suster Yustina Klun Kolo, resmi menyandang gelar sarjana dari Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya atau Unusa. Kehadirannya mematahkan sekat perbedaan di kampus berbasis Islam tersebut.
Yustina merupakan wisudawan Program Studi D4 Analis Kesehatan asal Kefamenanu. Ia tampil mengenakan jubah kebesaran biarawati saat prosesi wisuda di Dyandra Convention Center Surabaya, Rabu (22/4/2026).
Mahasiswi kelahiran Dili ini mengaku sempat merasa cemas saat pertama kali menginjakkan kaki di Unusa. Namun, kekhawatiran itu hilang setelah merasakan langsung perlakuan civitas akademika.
“Saya merasakan langsung suasana kampus yang inklusif dan penuh toleransi. Interaksi dengan dosen maupun teman-teman berlangsung sangat baik, tanpa membedakan latar belakang,” kata Yustina.
Selama masa perkuliahan, Yustina juga mengikuti mata kuliah Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja. Kurikulum ini justru memberikan perspektif baru baginya mengenai keragaman.
“Saya belajar memahami nilai-nilai keislaman yang moderat, sekaligus pentingnya hidup berdampingan secara harmonis,” jelas anak keempat dari tujuh bersaudara itu.
Baginya, sistem pendidikan di Unusa memberikan ruang bagi mahasiswa lintas agama untuk berkembang secara profesional. Ia menilai tidak ada diskriminasi dalam pelayanan akademik.
“Dosen dan tenaga kependidikan bersikap profesional, adil, dan tidak membeda-bedakan mahasiswa,” ungkap Yustina.
Implementasi nilai keberagaman ini sejalan dengan agenda global Sustainable Development Goals atau SDGs. Unusa berfokus pada pendidikan berkualitas serta pengurangan kesenjangan antarindividu.
Langkah tersebut membawa Unusa masuk dalam Times Higher Education Impact Rankings. Pemeringkatan internasional ini mengukur kontribusi nyata perguruan tinggi terhadap dampak sosial global.
Kini, Yustina telah mengabdikan ilmunya sebagai tenaga kesehatan di RSK Budi Rahayu, Blitar. Ia berharap kisahnya menginspirasi masyarakat tentang pentingnya persatuan di tengah perbedaan.
“Perbedaan bukanlah penghalang, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan,” tegas alumnus SMA Negeri Manamas tersebut.
“Perbedaan agama, suku, dan budaya hendaknya menjadi sarana untuk saling mengenal dan menghargai,” tambahnya. [ipl/but]






